Bahasa Satu Satu Bahasa : Kebebasan Berliterasi Komunikasi Massa

Krisis kepercayaan selalu di kaitkan dengan jiwa kepemimpinan yang seharusnya dapat lebih kesatria, mengakui hal yang sebenarnya salah bukan menggunakan teknologi sebagai pelindung diri dan bersembunyi dibelakang telepon telepon pintar itu sehingga mudah mencaci.

Oleh Zuliana

Dengan semakin majunya teknologi dan pengalihan dari pertemuan tatap muka menjadi virtual membuat emosi beberapa dari kita semakin menjadi jadi. Ujaran kebencian dan cacian yang dilontarkan melalui media merupakan satu bukti bahwa jiwa jiwa pengecut mulai bermunculan. Memiliki lebih dari satu akun sudah menjadi satu hal yang lumrah hingga munculnya krisis kepercayaan publik dan meluluh lantahkan kepemimpinan yang sesungguhnya. Kebebasan berpendapat yang sering disalah artikan sebagai hal yang menyangkut hak asasi masyarakat berubah menjadi satu momok yang terlanjur kebablasan, apa sesungguhnya kebebasan berkata kata?

Belajar dari hal kecil dari sekolah dasar, norma kesopanan yang seharusnya dipertunjukan kini sudah mulai pudar, ber-kata kata tanpa pengetahuan yang mumpuni dan sesadar sadarnya sebagai individu untuk melontarkan segala hal sudah kepalang tidak normal belakangan ini. Salah siapa jadi keturunan para budak yang suka bicara dibelakang?

Krisis kepercayaan selalu di kaitkan dengan jiwa kepemimpinan yang seharusnya dapat lebih kesatria, mengakui hal yang sebenarnya salah bukan menggunakan teknologi sebagai pelindung diri dan bersembunyi dibelakang telepon telepon pintar itu sehingga mudah mencaci. Perundungan yang tak terentaskan malah di jadikan budaya dan di ajarkan turun menurun. Pendidikan berliterasi dan teknologi tak jua digalangkan. Malah semakin menjadi dengan hadirnya para ‘buzzer’ yang sigap untuk melontarkan cacian dan merundung beramai ramai. Budaya apa yang mau dibentuk dan terbentuk sudah kepalang tak berkepala.

Si londo jadi jadian makin menjadi jadi, bahasa satu satu bahasa bisa jadi buka bukaan sulit buat kalimat jadi satu utuh tanpa campuran bahasa asing. Bahasa yang diobrak abrik, makin keruh jadi sulit tahu apa guna satu bahasa, satu kalimat yang tak terurai. Seharusnya, bisa jadi himbauan, dimengerti, di jadikan satu komitmen jadi ‘sudah matang’. Fenomena budaya baru yang sangat memprihatinkan sudah merasuk mendarah daging jadi catatan hitam masyarakat. Teknologi semakin maju tanpa diimbangi kualitas masyarakat yang semakin modern dan pintar jadi semakin terbelakang. Si jago ceplas ceplos paling mungkin buat virus baru dalam masyarakat, namun jiwa dan mental yang sakit dan kurang matang buat kita semua jadi ikut terombang ambing, kalut jadi tidak stabil dan kekanak kanakan akut. Budaya populer yang diajarkan masa kini sudah jadi momok memalukan dan seenak enaknya sendiri.

Makna ‘bebas’ yang sudah kepalang berantakan dan kurang kesadaran akan dampaknya sudah berdampak jadi kurang pengetahuan, ‘Hoax’ atau berita bohong sangat meresahkan hingga sulit menerima kepercayaan investasi publik yang kurang percaya masyarakat bisa dikendalikan dan memiliki kesadaran diri melontarkan kata yang benar. Orang orang bayaran untuk melontarkan hal yang salah malah dibina dan jadi profesi, citra buruk semakin di gembar gemborkan, jadi gambaran era yang sangat artifisial dan penuh dengan ketidak percayaan.

Hegemoni budaya yang terlanjur di elu elukan dan jadi tren dalam masyarakat kita saat ini, para tentara sosial media yang beramai ramai suka merundung malah lantas dibudidayakan, kemerosotan kualitas masyarakat dinilai menjadi awal dari pintu kegagalan sebuah negara berkembang yang tak lantas menjadi negara maju, yang menjunjung kebebasan publik, malah bisa jadi publik tanpa kepala yang dikendalikan oleh ego dan uang dari masing masing tangan tangan para munafik.

Reaksi spontan yang tidak meledak ledak sudah pasti hal yang diharapkan ada, figur dewasa dan apik dalam pembawaan di publik patut di cari. Binaan satu hal yang pasti, kesadaran diri bukan hanya jantung yang bisa memompa banyak jiwa jiwa kesatria bermunculan, bukan hanya menjerumuskan opini publik ke jurang kesalahan yang fatal hingga menjadi satu negara tanpa komitmen dan didikan yang jelas untuk jadi lebih baik.

Media sebagai perantara harus jadi wadah yang bukan dikendalikan oleh mesin. Media yang seharusnya memberikan informasi yang baik dan benar dari perkumpulan para individu dengan dasar literasi yang mumpuni malah ikut arus dikendalikan tren, budaya masyarakat yang berubah jadi semakin tidak stabil dan sulit berimbang. Bukan hanya membuang buang waktu dan mengajarkan hal yang memperkeruh suasana, namun dalam beberapa dekade hal kecil yang jadi budaya saat ini bisa jadi ranjau menghidupkan jiwa jiwa dan mental para narsistik dan meruntuhkan pilar pilar yang seharusnya bisa berdiri tegak. Dasar berliterasi publik secara gamblang harus di galakan, secara darurat semakin  dibutuhkan semakin maju teknologi dan budaya digital semakin banyak energi yang harus dikeluarkan untuk memberikan himbauan pemakaian yang baik dan benar bukan kemunduran yang diharapkan dan kembali menyalahkan satu sama lain karena tak mampu mengimbangi perubahan perubahan yang semakin bergerak cepat.