Belajar Berkelakar : Komunikasi Majemuk

Menjadi satu hal yang paling sulit dimengerti adalah satu hal disana untuk bertindak semakin menekan, mendorong, dan memaksakan untuk hasil yang paling maksimal. Mengerti ataupun tidak, kesadaran bukan satu hal yang utama. Belajar yang bukan kata bernalar dan berkelakar menjadi hasil akhir yang benar benar bisa berikan jawaban.

Oleh Zuliana

Kebosanan bisa jadi satu faktor yang tidak dapat dibendung, apalagi bila dikaitkan dengan kegiatan belajar yang paling menyita waktu, “Untuk apa belajar? kami sudah cukup matang menyikapi ini semua. Semua hanya sebuah permainan usia”. Untuk individu yang cukup pengalaman, belajar bukan lagi hal yang mutlak, yang dirasa. Ada harga yang harus dibayarkan disana tanpa kesadaran dan sebisa mungkin menghindar dari jebakan yang menjerumuskan dan terlena akan kemudahan mesin mesin pintar dalam genggaman. Belajar seolah terlihat mudah namun lebih terasa berat bila dikaitkan dengan hukum hukum dan etika yang berlaku. Saat ini, akan sangat sulit untuk membedakan hal yang benar maju, atau hanya ingin tetap berada di zona yang nyaman tanpa perubahan signifikan. Setidaknya hal yang berbau modern akan mempermudah segalanya, hingga situasi menjawab, menggunakan mesin pintar jadi hal yang menakutkan, proses semakin bukan hal nyata, namun hasil yang menentukan segalanya.

Setiap personal memiliki cara masing masing tentang bagaimana dan mengapa seorang dapat dikatakan memiliki karakter yang kuat dan kokoh. Seperti sebuah peran dalam seni pertunjukan, setiap karakter terbentuk memiliki jalan yang tidak dapat dibilang singkat sehingga tampil dengan penuh ciri yang khas. Setiap karakter yang dibutuhkan oleh generasi muda untuk bersama mencapai kesuksesan menjadi poros terbentuknya sistem kebersamaan untuk mencapai mufakat.

Menjadi satu hal yang paling sulit dimengerti adalah satu hal disana untuk bertindak semakin menekan, mendorong, dan memaksakan untuk hasil yang paling maksimal. Mengerti ataupun tidak, kesadaran bukan satu hal yang utama. Belajar yang bukan kata bernalar dan berkelakar menjadi hasil akhir yang benar benar bisa berikan jawaban.

kesempurnaan selalu ingin diciptakan oleh para anak muda karena sudah sangat muak melihat sesuatu yang tidak dapat diubah sesuai dengan keinginannya, bukan kesempatan yang direm karena waktu yang bisa jadi tergesa gesa hingga kurang pikir panjang, kebijakan bukan buat jadi semakin bijak. Sistem yang diajarkan menjadi lebin monoton untuk menstabilkan emosi yang semakin meledak ledak. Hingga menjadi suatu kebiasaan yang selalu ingin dilayani sedemikian rupa. Salah rupa siapa yang ingin rupa rupa, kebudayaan ‘asal bapak senang’ jadi satu yang tidak berupa namun nyata sempurnanya. Bukan kebodohan tanpa akhir yang ditakuti, namun ke – bijak – an dalam membuat kebijakan satu yang paling menakutkan, suatu hari nanti semua bertumbuh bergerak ikut alur perubahan, seharusnya manusia bisa berbuat lebih dibanding mesin yang terprogram, lebih jadi adil dan beradab baik. kenyataannya, hingga 65 tahun kestabilan bukan hal yang paling diimpikan dalam sistem belajar.

Ketersediaan lapangan kerja bukan malah meringankan segalanya, namun segala yang tidak dapat dipaksakan bisa jadi penghambat kemajuan mentalitas individu yang termanjakan dan lupa daratan bisa jadi mengapa komunikasi menjadi sulit untuk terjalin. Belajar berkelakar mencari alasan yang tidak pasti bukan satu atau dua kali terjadi karena rasa muak dengan kata belajar, sudah terlampau jauh, semakin ditinggalkan peminatnya. Hanya itu yang bukannya jadi hal yang menakutkan, buka bukaan mengenai fakta yang seharusnya bisa buka jalan baru untuk lebih maju malah terhentak putar balik hingga tak menentu. Sportifitas bukan hal mutlak bisa saja hanya pelajaran di bangku bangku sekolah dan bukan hal nyata adanya, berkeluh kesah jadi hasil akhir mengapa banyaknya asap polusi kata tanpa solusi behamburan tanpa kepala bahkan blak blakan mengenai hal yang belum pasti terjadi, jiwa jiwa narsistik pun bertumbuh subur menjadi satu penyakit mental yang bukan karena faktor internal.

Masih banyaknya satu pihak yang selalu merasa sebagai korban berbanding  terbalik dengan apa yang kita semua harapkan, budaya kekeluargaan yang masih sangat melekat dalam masyarakat serta keberadaan hukum dan penempatannya yang masih diacuhkan menjadi satu pokok yang tidak sederhana. Emosi anak muda yang kurang stabil turut memberikan dampak makin maraknya tindak kriminal yang tidak lantas terentaskan.

Semakin berkembangnya teknologi tanpa pemahaman yang tepat hanya akan menghancur leburkan dan memecahkan persatuan. Siapapun dapat serta merta mencurahkan emosi berlebihan, ingin terlihat hebat dan lebih kuat, ingin diperhatikan dan memiliki ‘profile’ kuat tanpa memperhatikan tindakan benar atau salah. Budaya yang bersinggungan dan individu yang mudah terhasut bisa jadi hal yang tak dapat terelakan. Pendidikan dalam mengatasi konflik internal yang tidak pernah diberikan dalam bangku sekolah bisa jadi akan menjadi hambatan, antisipasi globalisasi dan modernisasi sangat bersinggungan dengan kebudayaan akan mendobrak budaya dan tradisi. Penetapan sikap kepemimpinan untuk membangun karakter manusia seutuhnya sangat amat dibutuhkan, penyederhanaan pengetahuan dalam pendidikan tinggi dan pemahaman jadi satu jalan yang kita semua inginkan.