Beckert: Perilaku berdasarkan moralitas sangat penting dalam menentukan efiensi kegiatan ekonomi.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, nanggroe ACEH darussalam –Altruisme (tanpa pamrih)

Istilah altruisme dikenalkan sosiolog ekonomi Jens Beckert, dalam artikel berjudul Moral Embeddedness of Markets (2005).
Beckert berpendapat, perilaku berdasarkan moralitas sangat penting dalam menentukan efiensi kegiatan ekonomi.

Untuk itu, Beckert memperkenalkan empat bentuk dasar perilaku berbasis moral, di arena pasar, yaitu kerja sama (cooperation), solidaritas kelompok (group solidarity), pertukaran tak dibolehkan (blocked exchange), dan tanpa pamrih (altruism).
Di luar empat bentuk dasar ini, Beckert menambahkan, perilaku ‘katanya tanpa pamrih, tapi ternyata ada udang di balik batu’ (trojan altruism).
‘Kerja sama’ adalah perilaku seseorang yang berorientasi kesejahteraan sendiri sekaligus orang lain.
‘Solidaritas kelompok’ mirip dengan kerja sama, hanya bedanya, oleh karena alasan etika tertentu, transaksi dilakukan terbatas pada kelompok sendiri.
‘Pertukaran tak dibolehkan’ adalah larangan atau pembatasan untuk tidak melakukan transaksi barang dan jasa karena alasan ketentuan moral, misalnya tidak membeli barang yang tidak halal.
‘Tanpa pamrih’ adalah perilaku berdasar komitmen sendiri secara sukarela yang berimplikasi beban biaya bagi dirinya, untuk kebaikan pihak lain.

Contohnya, donasi atau juga donor darah.
Bentuk kelima ‘trojan altruisme’, oleh Beckert sebenarnya tak dikategorikan perilaku berbasis moral, sebab ini memang amoral.

Tindakan ini kelihatannya bagus bagi pihak lain, tetapi sejatinya keuntungan utamanya justru pada dirinya sendiri.
Trojan altruisme, menurut Beckert, selain tak bermoral, juga parasitik dan bohong.
Banyak dicontohkan Beckert perilaku trojan altruisme, termasuk bantuan pangan untuk dunia ketiga di masa lampau.
Bila benar, yang ditulis Siti Fadilah, apalagi dikaitkan ramainya kontroversi pemberitaan Bill di pusaran covid-19, tak mustahil rencana vaksinasi dengan muatan chip pintar itu dicurigai sebagai trojan altruisme.

Berdikari produksi vaksin

Untuk menangkal trojan altruisme global, kuncinya kemandirian nasional.
Terbitnya Inpres 6/2016 tentang percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, pastinya juga dimaksudkan untuk berdikari, termasuk dalam hal vaksin.
Namun, berdikari total hampir tak mungkin saat ini.
Kita belum cukup lengkap menguasai seluruh rantai nilai, dari riset dasar sampai tahap produksi komersial.
Seperti dilaporkan ke DPR belum lama ini, tiga strategi ditempuh Bio Farma dalam pengembangan vaksin covid-19.

Pertama, rencana kerja sama dengan mitra perusahaan di Tiongkok, Sinovac.

Kedua, proposal kolaborasi dengan CEPI (The Coalition for Epidemic preparedness Innovation).

Ketiga, kolaborasi riset melibatkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman bersama lembaga lain, dikoordinasi BRIN.

Ketiga rencana kolaborasi ini masih perlu waktu untuk mencapai kapasitas produksi komersial, dan tentu akan jadi batu ujian sejauh mana kemandiran kita dalam produksi vaksin.Jamu penangkal trojan

Yang menarik, adalah rencana pengembangan obat covid-19 berbahan dasar curcumin, seperti yang sedang dikerjakan Universitas Airlangga.

Bila benar curcumin berpotensi jadi obat covid-19, sebenarnya jamu dapat dikembangkan menjadi salah satu penangkal trojan altruisme global.

Sayangnya, peran jamu masih jauh jika dibandingkan dengan peran TCM (Traditional Chinese Medicine).

Pengobatan covid-19 di Wuhan memang berbasis western medicine.

Namun, TCM diberi tempat yang layak dan proporsional dalam tata laksana pengobatan covid-19.
Zhang Boli, praktisi TCM yang bertugas di rumah sakit darurat Wuhan melaporkan, dengan ramuan TCM, lebih dari 500 pasien covid-19 bergejala ringan dan menengah, berhasil sembuh.
Dilaporkan juga bahwa ramuan TCM itu berfungsi untuk detoksifikasi paru, serta menghilangkan gejala meriang, demam, dan nyeri.
Selain ramuan TCM, di RS darurat Wuhan, juga digunakan akupuntur.
Dr Do Bin, Kepala ICU RS Peking Union Medical College, yang juga bertugas di RS darurat Wuhan, melaporkan setiap hari dilakukan pertemuan bersama antara para dokter dan praktisi TCM, untuk evaluasi efektivitas pengobatan covid-19.

Walaupun berbeda filosofi dan sistem evaluasi efektivitas penyembuhan, diakui bahwa TCM sangat efektif untuk pengobatan pasien covid-19 bergejala ringan serta percepatan penyembuhan bagi pasien yang sudah melewati masa kritis.

Dr Do Bin menegaskan, betapa pun sangat berbeda, kedua pihak saling menghargai.Lain halnya dengan jamu.
Alih-alih mendapat tempat yang layak dalam tata laksana pengobatan covid-19, jamu justru masih mendapat php (pemberi harapan palsu), kalau bukan trojan altruisme domestik.

Pertama, pengaturan terkait dengan pelayanan kesehatan tradisional integrasi (PKTI), dalam PP 103/2014.

Pelaksanaan PKTI di RS, sesuai Pasal 15 ayat (2), harus mendapat persetujuan pimpinan RS berdasarkan rekomendasi komite medik.
Demikian juga pelaksanaan PKTI di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (FPK) bukan RS, sesuai Pasal 15 ayat (3), harus mendapat persetujuan dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.

Pertanyaannya, berapa banyak pimpinan RS, komite medik, dan kepala dinas kesehatan yang sudah memiliki kerangka kognisi dan kultural projamu?

Artinya, dalam kerangka institutional rules saat ini, peluang untuk tumbuhnya PKTI dalam waktu dekat tidaklah besar.

Kedua, bentuk php lain juga ada pada Pasal 85 ayat (1), yakni keharusan bagi tenaga kesehatan yang memiliki keahlian kesehatan tradisional, untuk meninggalkan layanan jamu mulai 2021.

Ketiga, jamu saat ini memang sampai ke Wisma Atlet di Kemayoran, tetapi sebagai dukungan untuk menjaga stamina segenap dokter, paramedis, dan tenaga pendukung lainnya, belum sebagai bagian dari tata laksana pengobatan covid-19.

Keempat, anehnya di tengah ketidakpastian posisi jamu, justru ada pihak yang leluasa menyalurkan herbal impor ke RS rujukan.

Insiden ini telah menjadi kontroversi dan memicu protes dari komunitas jamu.
Tampaknya, masih banyak rintangan untuk mendorong mobilitas jamu dalam arena pengobatan, termasuk terhadap covid-19, di Indonesia.

Singkatnya, bila martabat jamu akan diangkat, termasuk mengurangi risiko trojan altruisme terkait pengobatan covid-19, secara sosiologis, diperlukan desain baru social macrostructures, yakni institusi, kerangka kognisi dan kultural, serta jaringan sosial yang sepenuhnya cinta jamu.

@drr