Kategori
All Artikel

BAHASA AGAMA mampu membangkitkan andrenalin yang memungkinkan seseorang untuk meraih prestasi.

 

Oleh:Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta
BAHASA AGAMA mampu membangkitkan andrenalin yang memungkinkan seseorang untuk meraih prestasi.

 

Dengan Komando
‘Allahu Akbar’,
Bung Tomo mengerakkan arek-arek Suroboyo mengusir penjajah.

 

Namun demikian,
BAHASA AGAMA juga bisa digunakan untuk memprovokasi masyarakat melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang dinilai bermasalah.

 

Kita berharap BAHASA AGAMA di dalam masyarakat digunakan untuk mendukung cita-cita luhur bangsa sebagaimana telah dirumuskan bersama oleh the founding father kita.

Terbukti dalam sejarah,
BAHASA AGAMA berhasil menyatukan kekuatan umat dan warga bangsa yang berserakan hingga menjadi suatu kekuatan yang amat dahsyat.

Kekuatan BAHASA AGAMA bisa digunakan untuk menyadarkan seseorang yang sedang tersesat di dalam memilih jalan kehidupan,
Tetapi BAHASA AGAMA juga bisa digunakan untuk memicu konflik yang pada saatnya melahirkan jatuh korban.

 

DENGAN DEMIKIAN, BAHASA AGAMA PERLU DIKELOLA DENGAN BAIK.

 

Seseorang sangat diajurkan untuk berhati-hati menggunakan BAHASA AGAMA di dalam menggerakkan publik, terutama yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal.

Banyak konflik horizontal dan terbuka di dalam masyarakat dipicu oleh BAHASA AGAMA.

Konflik dahsyat yang pernah terjadi di Maluku dan beberapa tempat lain, pada mulanya bukan konflik agama, tetapi karena kedua belah pihak menggunakan BAHASA AGAMA, yang kebetulan para pihak yang berkonflik.

 

Kekuatan positif BAHASA AGAMA pernah dipraktikkan Nabi dalam kasus Perjanjian Hudaibiyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Hadis Shahih Bukhari,
Menceritakan kisah perundingan dan gencatan senjata antara umat Islam dan kaum kafir Quraisy.

Nabi memimpin langsung delegasinya dan dari pihak kafir Quraisy dipimpin seorang diplomat ulung bernama Suhail.

Sebagai preambul naskah perjanjian itu, Nabi meminta diawali dengan kata Bismillahirrahmanirrahim,
Tetapi ditolak oleh Suhail karena kalimat itu asing, lalu ia mengusulkan kalimat bismikallahumma,
kalimat yang populer di dalam masyarakat Arab ketika itu.

Sebagai penutup,
perjanjian itu diusulkan dengan kata:
Hadza ma qudhiya ‘alaihi Muhammad Rasulullah
(perjanjian ini ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah).

Suhail kembali menolak redaksi ini dan mengusulkan kata:
Hadza ma qudiya ‘alaihi Muhammad ibn ‘Abdullah
(perjanjian ini ditetapkan oleh Muhammad putra Abdullah).

PENCORETAN

kata BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
dan
kata RASULULLAH

Membuat para sahabat tersinggung dan menolak perjanjian itu, tetapi Rasulullah meminta para sahabatnya untuk menyetujui naskah itu.

Konon Nabi mengambil alih sendiri penulisan itu karena sahabat tidak ada yang tega mencoret kata itu, yang dianggapnya sebagai kalimat yang mengandung prinsip ajaran agama.

Nabi menyadari dalam kondisi tidak normal lebih penting mewujudkan substansi nilai ketimbang formalitas ajaran.

 

Prinsip ini dikristalisasikan dalam kaidah usul fikih:
Mala yudriku kulluh la tudriku kulluh
(apa yang tak dapat diwujudkan semuanya jangan ditinggalkan semuanya).

 

Riwayat di atas menunjukkan betapa hebatnya Nabi mengelola dan memainkan BAHASA AGAMA sehingga membuahkan win-win solution.

Keyakinan Nabi tidak merasa tereduksi dengan penerimaan kalimat usulan golongan kafir Quraisy.
Pihak kafir Quraisy pun juga merasa berhasil dengan penerimaan usul-usul mereka.

Seandainya Nabi bersikukuh dengan pendirian sahabatnya, peperangan terus berlanjut.
Ternyata kemampuan dan keahlian memainkan BAHASA AGAMA bisa menyelamatkan semua.

Pengalaman mengelola BAHASA AGAMA ini juga pernah dicontohkan oleh the founding fathers kita dengan rela mencoret

‘KETUHANAN DENGAN KEWAJIBAN MENJALANKAN SYARIAT ISLAM BAGI PARA PEMELUKNYA’

diganti dengan
‘PANCASILA’.

Keutuhan bangsa Indonesia juga dibingkai dalam sebuah kata profan Bhinneka Tunggal Ika.
Kalimat ini didukung oleh puluhan ayat dan hadis.

BAHASA AGAMA mempunyai kekuatan luar biasa.

BAHASA AGAMA bisa digunakan untuk memotivasi orang untuk berpartisipasi terhadap pembangunan atau sebaliknya bisa juga digunakan untuk menggunting partisipasi masyarakat di dalam sebuah program.

Tidak bisa diingkari,
BAHASA AGAMA JUGA PERNAH DIGUNAKAN UNTUK MEMBAKAR SEMANGAT UMAT BERJIHAD MELAWAN KOLONIALISME HINGGA MEREBUT KEMERDEKAAN.

(Rn)