Kategori
Artikel

Bagi kaum muslim, simbol salib jelas melambangkan agama Kristen.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com,JAKARTA –Bagi kaum muslim, simbol salib jelas melambangkan agama Kristen.
Kaum muslim umumnya memandang Kristen identik dengan salib.
Kaum muslim sesungguhnya telah lama terbiasa dengan keberadaan kaum Kristen Timur Dekat.
Kalangan muslim kiranya terbiasa melihat salib.
Kedatangan tentara salib memberi pengalaman baru karena salib memainkan peran jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sebelumnya. Ada perbedaan jelas antara salib sebagai simbol agama Kristen Timur asli yang merupakan minoritas yang dilindungi di bawah kekuasaan mayoritas Islam dan salib sebagai simbol penaklukan dan pendudukan tentara salib. Salib menjadi simbol penaklukan oleh kedua belah pihak dalam arah berkebalikan. Tentara Salib menancapkan salib di wilayah-wilayah kaum muslim yang mereka taklukkan. Tentara muslim menghancurkan salib ketika mereka merebut wilayah yang diduduki tentara salib. Perang Salib yang berlangsung mulai 1099 hingga 1291 itu berbekas dan termanifestasikan di dunia Islam modern. Bagi pemikir Sayyid Quthb, pasukan Hizbullah dan Hamas, serta organisasi Hizbut Tahrir, misalnya, Perang Salib belum berakhir. Pandangan kaum muslim terhadap salib itu dikisahkan Carole Hillenbrand dalam buku The Crusade: Islamic Perspective (1999). Perang Salib kiranya menyebabkan kaum muslim begitu sensitif bahkan paranoid terhadap simbol salib. Di Tanah Air, semangat Perang Salib membara dalam sejumlah perlawanan atau pemberontakan terhadap Belanda. Semangat Perang Salib, semangat mengusir ‘kape-kape’ Belanda, misalnya, tak bisa dimungkiri membara dalam Perang Aceh. Bukan cuma dalam perang, spirit Perang Salib itu termanifestasikan dalam urusan perdamaian dan kemanusiaan. Negara-negara muslim tidak memiliki organisasi palang merah karena palang merah dianggap serupa simbol salib, melainkan bulan sabit merah. Indonesia, meski negara muslim terbesar, memiliki organisasi palang merah, bukan bulan sabit merah. Keputusan Indonesia menggunakan palang merah kiranya tepat. Lambang palang merah itu diciptakan Henry Dunant, Bapak Palang Merah Dunia berkebangsaan Swiss, pada 1859. Simbol palang merah diambil dari bendera Swiss. Keempat palangnya sama dan sebangun, tidak seperti palang salib yang garis vertikalnya lebih panjang. Palang merah lebih merupakan simbol kebangsaan Swiss yang diadopsi menjadi simbol para relawan yang membantu korban perang. Dalam konteks Palang Merah Indonesia, kita kiranya bisa belajar melihat dengan saksama latar belakang dan makna suatu simbol, termasuk simbol salib, supaya kita tidak terlalu paranoid terhadap simbol salib. Begitu pula semestinya kita memandang simbol ‘salib’ di logo peringatan HUT ke-75 RI.
Dewan Syariah Kota Surakarta mempertanyakan logo HUT ke-75 RI karena ada bagian yang dianggap menyerupai salib. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym mengamplifi kasi prasangka itu. Ada perkara besar dalam hal ini terkait cara pandang kita sebagai bangsa majemuk, apalagi cara pandang itu terlontar dari orang besar seperti Aa Gym. Pertanyaan atau prasangka itu memamerkan cara pandang, yang dalam istilah mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, segregatif, bukan integratif. Cara pandang segregatif memandang segala sesuatu dalam pembedaanpembedaan, dalam kriteria kita versus mereka, Islam dan Kristen. Sisa-sisa Perang Salib kiranya membekas dalam cara pandang segregatif itu. Bila kita memiliki cara pandang integratif, prasangka itu tak akan muncul karena simbol boleh jadi bagian dari keberagaman. Pun serupa logo palang merah, makna simbol di logo HUT ke-75 RI itu tak ada kaitannya sama sekali dengan salib sebagai simbol agama Kristen. Kementerian Sekretariat Negara menjelaskan. Logo HUT ke-75 RI terinspirasi dari simbol perisai dalam lambang Garuda Pancasila. Logo ini hendak menggambarkan Indonesia sebagai negara yang mampu memperkukuh kedaulatan, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Cara pandang segregatif bikin kita paranoid memandang segala sesuatu yang mirip salib sebagai salib lambang agama Kristen.
Bentuk renda-renda dalam mukena pesohor Risty Tagor dan Ayu Ting Ting pun dipandang sebagai salib bila dalam pikiran kita masih bersemayam sisa-sisa paranoid Perang Salib.
Kata teman saya di laman Facebook-nya, “Kayak drakula aja takut sama salib.”

@drr