Kategori
opini publik

Bagaimana Membumikan Pancasila 1 Juni 2016 Di Tengah Kemelut

 

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

Busur News Com, Jakarta –Bagaimana membumikan Pancasila 1 Juni 2016 ditengah kemelut

“Middle Income Trap dan The Globalization Gap Robert Izaac yang muncul 2005 tentang kesenjangan kekayaan elite 1% dan sisa 99%.”
Ya retorika kesenjangan sosial dan Gini Ratio ini paling popular termasuk oleh capres Bernie Sanders yang sudah umur 74 tahun tapi jualan populisme kemiskinan itu laku keras mengakibatkan Hillary kalah popular.

Kini memang seolah seolah terjadai dua kutub ekstrem Donald Trump sebagai konglomerat kaya raya dan Bernie Sanders sebagai kampiun buruh proletar yang siap melakukan pemerataan dan sosialisme ala Amerika Serikat.

*Sudah jelas bahwa yang harus menang dan paling obyektif adalah jalan tengah Pancasila, bukan konglomeratisme ala Donald Trump, tapi juga bukan nasionalisasi atau etatisme ekonomi derivative Marxisme yang masih getol dijual oleh Marxis Eropa Barat*.

Memang lucu sekali kaum muda intelektual Marxis di Eropa Barat dan Amerika Serikat.
Mereka berteori bahwa yang gagal di Uni Soviet dan RRT era Maoisme bukan Marxisme komunisme, melainkan otoriterisme Soviet penerus Tsarisme dan oligarki Maoisme penerus kekaisaran Tiongkok.
Kaum Marxis Eropa Barat dan AS menganggap mereka belum pernah mencoba sosialisme Marxisme yang benar jadi belum kapok dan masih mau uji coba Sosialisme.

Sementara Eropa Timur seperti Polandia, Rumania, Hongaria sudah kapok ditindas dan dihisap oleh dikatur model Ceaucescu yang mirip Drakula menghisap kekayaan Rumania untuk keluarganya dank arena itu massa grass roots menghukum Ceaucescu secara brutal nyaris seperti Khadafi disiksa oleh massa.

*Jalan tengah sosial demokrat, negara kesejahteraan yang di Indonesia diwujudkan melalui BPJS, sistim jaminan sosial kesehatan yang menjamin kebutuhan kesehatan dan kecelakaan serta hari tua dan pensiun masyarakat secara melembaga dan universal*.

*Tapi kompetisi meritokratis antara kekuatan dalam masyarakat jelas harus diberi ruang gerak untuk menemukan inovasi trobosan sebagai pra syarat dinamika pertumbuhan manusia dan kecanggihan iptek yang semakin cepat dan semakin exponential*.

 

(Rn)