Kategori
Artikel

Badan Pusat Statistik memberikan informasi menggembirakan bahwa surplus perdagangan pada Mei lalu mencapai US$2,09 miliar.

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com,JAKARTA — Badan Pusat Statistik memberikan informasi menggembirakan bahwa surplus perdagangan pada Mei lalu mencapai US$2,09 miliar.
Namun, jika kita dalami lagi angkanya, ada yang memprihatinkan.

Apa itu?

Neraca perdagangan yang turun sangat tajam.
Angka ekspor turun 28,95% menjadi US$10,53 miliar.
Angka impor turun lebih dalam lagi 42,20% menjadi hanya US$8,44 miliar.
Khusus untuk impor, sepanjang itu untuk konsumsi tentu bukan masalah.
Akan tetapi, ketika penurunan itu untuk bahan baku dan barang modal, ini sesuatu yang perlu menjadi perhatian.

Mengapa?

Karena berarti banyak kegiatan usaha tidak beroperasi atau setengah kapasitas dan ini dampaknya pada pemutusan hubungan kerja, gambaran tentang kondisi bisnis Indonesia sekarang ini.

Salah satu yang perlu mendapat perhatian ialah tenaga keamanan yang dirumahkan.
Menurut saya, jumlahnya sudah mencapai 50% dari yang ada.
Angka 6,4 juta pekerja formal yang tidak bisa bekerja lagi merupakan angka tidak kecil.

Kita belum menghitung mereka yang bekerja di sektor informal, yang jumlahnya jauh lebih besar. Kehilangan pekerjaan bukan hanya membuat orang tidak mempunyai pendapatan, tetapi juga bisa membuat frustrasi dan bahkan depresi. Kita sering mengatakan manusia itu adalah makhluk yang bekerja, homo faber. Ketika tidak punya pekerjaan, mereka bisa putus asa. Orang itu tidak bisa ‘berani mati’, tetapi harus ‘berani hidup’. Mereka akan melakukan apa saja agar diri dan keluarganya bisa hidup. Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, kita harus berani bertindak. Tidak bisa lagi kita bekerja biasa-biasa seperti di zaman normal. Covid-19 membawa kehidupan kita benar-benar tidak normal. Kondisi yang dihadapi seluruh bangsa di dunia lebih buruk \daripada pasca-Perang Dunia II. Kesulitan ini dihadapi semua lapisan masyarakat, oleh seluruh kelompok usaha. Berbeda dengan krisis keuangan 1998 yang hanya menerpa kelompok pengusaha besar, kali ini dari mikro, kecil, menengah, hingga besar terkena akibatnya. Mereka dihadapkan pada situasi untuk bisa bertahan, periode survival. Pengusaha seperti Jack Ma memang menyebutkan, pada situasi seperti sekarang kita tidak perlu bermimpi bisa untung atau tumbuh. Bisa bertahan saja sudah merupakan sebuah anugerah besar. Semua harus bisa tetap berdiri agar tidak ada lagi orang kehilangan pekerjaan. Sungguh aneh apabila dalam situasi sulit seperti ini kita masih berkelahi dan saling menyalahkan. Sekarang bukan saatnya merasa paling benar dan paling hebat. Sekarang ini kita mesti memikirkan jangan sampai ada lagi orang harus kehilangan pekerjaan. Kelompok usaha mana pun, sepanjang mereka bisa mempertahankan karyawan, adalah pahlawan. Pemerintah tidak lagi perlu melihat siapa mereka. Sekarang ini sepanjang mereka merupakan pembayar pajak yang baik, mampu menyerap tenaga kerja, dan tetap bisa bertahan, harus dibantu untuk bertahan. Meminjam istilah pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping, sekarang ini tidak perlu melihat kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus. Gita Wirjawan mengatakan paling tidak dibutuhkan stimulus sampai Rp1.600 triliun untuk membuat Indonesia bisa kembali produktif dan aman dari covid-19. Dari stimulus itu, Rp400 triliun dialokasikan untuk menangani covid-19, Rp600 triliun untuk membantu UMKM, dan Rp600 triliun untuk menggerakkan kembali industri manufaktur. Bagaimana caranya? Gita menyebut istilah ‘cetak uang’. Alasannya, negara-negara besar seperti AS dan Eropa Barat menempuh cara itu. Apalagi based money Indonesia baru sekitar 38%, jauh lebih rendah daripada negara lain sehingga dampak infl asinya tidak akan terlalu besar. Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, menyebut langkah itu bukan sesuatu yang mustahil dilakukan. Namun, ‘cetak uang’ itu jangan diartikan BI mencetak uang dalam arti yang sesungguhnya. BI bisa melakukan itu dengan membeli surat berharga negara di pasar perdana dan itu sekarang diperbolehkan menurut Undang-Undang No 2/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk penanganan pandemi covid-19. Semua itu muaranya ialah bagaimana menghindarkan masyarakat agar tidak terpapar covid-19, tetapi secara bersamaan juga tidak terkapar virus PHK.

Langkah penyelamatan diperlukan agar masyarakat tidak dihadapkan pada situasi frustrasi karena harus kehilangan pekerjaan dan tidak mampu menghidupi keluarganya.

Ini memang tidak bisa dilakukan dengan cara biasa, tetapi membutuhkan langkah luar biasa.
Pemerintah harus berani melakukan terobosan besar dan kalau perlu, tidak usah ragu membebaskan barang impor sepanjang itu bahan baku untuk industri, bukan barang jadi apalagi barang konsumsi.

Kita harus menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan akibat covid-19 dan kita harus bisa bangkit bersama menatap masa depan lebih baik.

@drr