Aturan yang Beraturan

Bu Budi memang selalu benar, walaupun siapapun tak lihat itu pasti dikerjakan secara sadar. Perubahan yang sedikit berarti saat disana ada kalanya kita mulai untuk mau tampil dan hidup ditengah maskarakat, mengumpulkan seluruh tenaga untuk menyertakan pula solusi namun hanya dipahami sekelumit lantas teracuhkan. Menyaksikan perubahan berarti ada yang mulai pudar, hal yang kian ditinggalkan kenapa ini jadi tersasar, rambu rambu yang jelas bukan jadi pokok yang krusial bila dialanggar.

Oleh Zuliana

Air beriak tanda tak dalam, tak sedalam hal saat belajar dan  membangun diri tetap berada dalam lingkungan yang tepat. Maksud diri untuk jadi lebih baik bisa jadi terhalang disuatu kesempatan yang tidak selalu sama. Aturan yang beraturan membawa kita semua menjadi lebih dewasa dan mengerti bahwa aturan yang jelas dapat buat kita semua bertindak lebih mawas diri.

Luasnya kesempatan yang terbuka dimasa depan dengan semua kemudahaan digital tidak lantas melindungi aset yang berharga bangsa, mungkin juga banyak hal yang sudah tidak terlihat bernilai, bukan acuh, wadah untuk membuka kesempatan belum terbentuk, tidak berimbang, yang menjalankan masih urus diri, belum sepenuhnya terbebas untuk melakukan hal untuk bisa selamatkan aset diri. Saat disana disebut tidak ada sama sekali pilihan karena sempitnya kesempatan, disana pula perlu ditanyakan tokoh yang paham betul untuk menjalankan dan membuka kesempatan untuk menyelamatkan dari ketertinggalan jauh. Sumber Daya Manusia yang juga merupakan aset untuk dapat mencipta belum sepenuhnya terlindungi, masyarakat bukan tempat riset namun penggerak dimana kita dapat mengamankan hal yang kabur menjadi lebih nyata dan jelas.

Aturan yang diberlakukan tentu tak sama, semuanya sudah diatur dari hulu ke hilir, mengerti betul siapa yang benar bertindak dengan nalar atau hanya kekacauan emosi dan tindakan yang sulit dipertanggung jawabkan. Dalam hal bertutur masih ringsek kedalam, bukan maksud melebur di hari hari yang semakin mengapur, namun malah terbuat berbenturan. Keteraturan bukan hal yang diminati anak muda gaul dan berjiwa muda dinamis suka basa basi, hobi melantur hingga lupa aturan.

Menjadi lebih beraturan mungkin menjadi satu hal yang kita semua inginkan, budaya antre yang jelas jelas sulit lagi di lakukakan, sampai melakukan hal yang benar di area publik. Bu Budi memang selalu benar, walaupun siapapun tak lihat itu pasti dikerjakan secara sadar. Perubahan yang sedikit berarti saat disana ada kalanya kita mulai untuk mau tampil dan hidup ditengah maskarakat, mengumpulkan seluruh tenaga untuk menyertakan pula solusi namun hanya dipahami sekelumit lantas teracuhkan. Menyaksikan perubahan berarti ada yang mulai pudar, hal yang kian ditinggalkan kenapa ini jadi tersasar, rambu rambu yang jelas bukan jadi pokok yang krusial bila dilanggar. Kulit kami yang kian tebal menerima permasalahatan tanpa solusi, perasaan yang bercampur aduk menjadi lebih sensitif, seharusnya seluruh hal itu memberikan kepastian, budaya bernalarkan kepekaan, bukan selembar kertas ujian yang buat uring uringan penuh dengan contekan.

Si jago ceplas ceplos paling mungkin buat virus baru, jiwa dan mental yang sakit dan kurang matang buat kita semua jadi ikut terombang ambing, kalut jadi tidak stabil dan kekanak kanakan makin akut. Budaya populer yang diajarkan masa kini sudah jadi momok memalukan dan senak enaknya sendiri jadi bahan perundungan, menjatuhkan, melemahkan. Makna ‘bebas’ yang sudah kepalang berantakan dan kurang kesadaran akan dampaknya sudah berdampak jadi berita bohong sering menyebar, buat kualitas diri semakin menurun, dampaknya semakin tertutupnya kesempatan untuk berinvestasi dari hal yang dikendalikan oleh emosi dalam segi apapun. Orang bayaran  yang melontarkan berita bohong malah semakin dibina dan dibuat jadi profesi kekinian, citra buruk semakin di gembar gemborkan, jadi gambaran era yang sangat artifisial dan penuh dengan ketidak percayaan.

Hal lainnya dalam proporsi untuk siap untuk jadi lebih tua, paham akan adanya pemimpin masa depan dan bertransformasi ke arah yang lebih maju. Sudahkah kita siap sepenuhnya menjadi maju?, kalaupun ini bukan menjadi hal pokok untuk merasa ‘baik-baik saja’ hari ini, menutup bobroknya karakter yang memang belum juga mengenal diri salah terka maksud berumah tangga berkaca kembali mengenai aturan-aturan yang mudah berubah jadi makin terburu buru dan semakin diburu, Keroposnya tulang inti dari memahami keinginan dan kebutuhan yang tersedia dalam masyarakat terkadang tidak cukup berimbang dengan hal yang benar-benar bisa meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik sebagai individu akan menjadi penyakit kronis.

Aturan yang merupakan pengaturan yang teratur harus membuat kestabilan dalam masyarakat. Dalam hal bertutur dapat terukur sejauh mana rasa kepercayaan terbangun, pola yang tercetak rapi dapat membuat aturan statis menadi lebih dinamis, bukan status yang dipertanya jawabkan, namun sebuah produk keberhasilan dalam membangun identitas untuk keadilan bersama masa depan.

Sumber :

Legal Indonesia

Gaya Hidup Era Digital

Generasi Pemimpi Millennials

Masa Depan yang Kabur