“Asia Power Index 2020” Riset yang mencakup 26 negara Asia ditambah AS dan Rusia, mengukur delapan jenis kekuatan, 30 tema sub-jenis, 128 indikator

 

 

Busurnews.com, JAKARTA —“Asia Power Index 2020”
Riset yang mencakup 26 negara Asia ditambah AS dan Rusia, mengukur delapan jenis kekuatan, 30 tema sub-jenis, 128 indikator.
Dalam riset itu, AS masih memiliki nilai tertinggi 81,6 menjadi negara yang paling berkuasa di kawasan Asia meskipun mengalami penurunan terbesar secara relatif dibandingkan dengan negara-negara lain pada tahun 2020 ini.
Cina berada di tempat kedua dengan nilai 76,1 berhasil mempertahankan pengaruhnya meskipun perluasannya tertahan akibat adanya pandemi. Kekuatan ekonomi Cina menempati urutan pertama dengan nilai 92,5 yang berada di atas AS dengan nilai 87,7.
Kekuatan diplomasi Cina juga di urutan pertama dengan nilai 91,1, berada di atas Jepang dengan nilai 88,8 dan AS dengan nilai 74,9.
Cina memiliki pengaruh diplomatik paling besar di Asia dibandingkan dengan negara mana pun.
Perluasan pengaruh politik Cina sedikit tertahan akibat adanya pandemi, dan mulai dikejar oleh Jepang.

Pergeseran geopolitik ini juga terasa imbasnya pada politik di ASEAN dan tentunya Indonesia.
Kuatnya pengaruh Cina di kawasan mendorong negara-negara Asia mengharapkan AS terlibat lebih aktif berperan menyeimbangkan dominasi pengaruh Cina.
Penarikan diri AS dari pakta ekonomi Trans-Pacific Partnership ikut melemahkan pengaruh AS di kawasan. Pergantian pemerintahan di AS diduga akan mendorong AS bergabung kembali ke pakta ekonomi itu yang sekarang menjadi Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership.
Di pihak lain, Cina malah berhasil membangun pakta ekonomi tandingan yang terdiri dari 10 negara ASEAN dan lima mitra ASEAN, yaitu Cina, Jepang, Korsel, Australia, dan Selandia Baru. Pakta ekonomi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) ini mencakup 30 persen populasi dunia, 30 persen PDB dunia, dan lima di antaranya adalah anggota G-20, yaitu Cina, Jepang, Korsel, Australia, Indonesia.
Pada titik ini terlihat AS tertinggal dalam membangun pengaruh di kawasan. Seandainya pun AS bergabung kembali dengan pakta Trans-Pacific, pakta ini dapat kehilangan relevansinya dengan telah terbentuknya RCEP.

Dalam konteks ini, kita dapat menduga pemerintahan baru AS akan mendekati negara-negara ASEAN untuk membendung dominasi pengaruh Cina. Dari 10 negara ASEAN, hanya Indonesia yang signifikan besar dan anggota G-20. Itu sebabnya, dapat diduga politik Indonesia juga akan berubah lebih seimbang di antara tarik menarik pengaruh Cina dan AS.
Bagaimanapun AS masih tetap paling berkuasa di dunia.
Setahun yang lalu, AS mengampanyekan terutama ke negara-negara maju untuk menolak penggunaan standar telekomunikasi 5G buatan Huawei Cina.
Kampanye ini gagal total.
Baru setelah kampanye dipimpin langsung oleh Menlu AS Mike Pompeo, membuahkan hasil. Sebagian besar Eropa, Jepang, Australia, Kanada, Singapura, dan Selandia Baru menggunakan standar 5G bukan buatan Huawei Cina.
Politik bebas aktif Indonesia juga merasakan dampaknya. Bandul keakraban pemerintahan Indonesia terasa mengayun ke AS di zaman pemerintahan Barack Obama, dan mengayun ke arah Cina di zaman pemerintahan Trump dengan slogan “America First”-nya.
Barack Obama dalam bukunya yang baru saja terbit, A Promised Land, membuka cerita di balik panggung politik luar negeri AS. Obama mengisahkan bagaimana peran aktif AS dalam mengubah peta politik kawasan dan akhirnya peta politik dunia.
Mudah diduga, kekuatan politik Indonesia yang dapat menahan laju dominasi pengaruh Cina di Indonesia akan mendapat kekuatan baru. Mudah diduga pula, Jepang dan Australia yang menjadi sekutu AS di kawasan akan membantu menarik bandul politik bebas aktif Indonesia ke arah tengah.
Dapat diduga pula, karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, maka AS akan menarik simpati dengan pendekatan ramah Islam. Di pihak lain, Cina juga akan menampilkan wajah Islam di Cina untuk melawan stigma “Cina anti-Islam” yang berkembang di sebagian masyarakat Indonesia.

Perubahan gerak bandul geopolitik ini diduga akan mendorong perubahan politik pemerintah terhadap umat Islam. Kegaduhan terus menerus hanya akan melemahkan posisi tawar pemerintah dalam tarik-menarik pengaruh AS dan Cina. Sebaliknya, stabilitas hubungan politik pemerintah dengan umat Islam menjadi kekuatan tawar dalam pusaran rivalitas AS dan Cina.
Ketegasan AS di zaman Trump dengan slogan “America First” ternyata merupakan kelemahan dalam menjaga supremasi AS sebagai negara terkuat di dunia. Ketegasan Cina terhadap Muslim Uighur ternyata juga merupakan kelemahan Cina dalam memperluas pengaruhnya di negara-negara mayoritas Muslim.
Ketegasan AS melemahkan upaya menarik simpati pemerintahan negara mitra kerja. Ketegasan Cina melemahkan upaya menarik simpati masyarakat negara mitra kerja. AS akan mendorong pemerintah ramah Islam untuk menahan pengaruh Cina, dan Cina akan merangkul umat Islam agar dapat diterima luas.
Ketegasan pemerintah terhadap sebagian masyarakat dan ketidaktegasan terhadap sebagian yang lain akan menunjukkan kelemahan pemerintah dalam menjaga stabilitas negara di mata AS dan Cina. Pemerintahan yang kuat di mata luar negeri adalah pemerintahan yang didukung penuh oleh rakyatnya.

Perubahan geopolitik ini diduga akan segera mengubah kebijakan politik Indonesia menjadi lebih ramah Islam pada 2021. Kekuatan energi bangsa akan dikanalisasi menjadi kekuatan ekonomi untuk segera mengembalikan Indonesia pada jalur pertumbuhan ekonomi.

Tahun 2021 adalah awal kebangkitan dan kemenangan umat Islam.
Peran Indonesia akan semakin besar di jajaran negara G-20 untuk menjadi representasi Islam.
Di antara negara RCEP, Indonesia juga menjadi representasi Islam yang signifikan.

Vaksin Covid-19 yang telah disertifikasi halal oleh Indonesia menjadi game changer peran kepemimpinan Indonesia sekaligus tiket masuk bagi negara produsen vaksin ke negara-negara Islam.

Rasullullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya kalian diberi rezeki dan dimenangkan Allah karena orang-orang yang lemah di antara kalian.”

Merekalah mayoritas rakyat Indonesia dan merekalah umat Islam.

Rasulullah SAW kembali mengingatkan, “Kenalilah orang-orang lemah kalian dan bantulah mereka, sesungguhnya mereka pemilik negara kelak.”

 

@garsantara