Kategori
Artikel

Arti penting penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), khususnya di wilayah DKI Jakarta. 

 

Oleh: Dhedii Razak

 

Busurnews.com, JaAKARTA –Arti penting penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), khususnya di wilayah DKI Jakarta.

Terhitung sejak 10 April, untuk setidaknya 14 hari ke depan, kebijakan ini telah diberlakukan secara lebih tegas lagi di wilayah Ibu Kota.

Tidak tanggung-tanggung, TNI dan Polri turut bahu-membahu untuk membantu menjamin efektivitas pemberlakuannya.
Melalui payung hukum yang jelas, transparan, dan terkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat, niscaya ketegasan penerapan kebijakan ini akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Kebijakan yang menyasar pada penurunan angka penyebaran covid-19 ini memang diakui berhasil di beberapa negara, salah satunya ialah Korea Selatan.
Melansir salah satu media nasional di `Negeri Ginseng’ tersebut, selama dua hari terakhir di awal pekan ini, peningkatan jumlah penderita sudah berada di bawah angka 50.

Itu merupakan sebuah keberhasilan besar dalam menekan pandemi.
Dengan demikian, dari sisi kesehatan, kebijakan pembatasan sosial dapat dinilai sebagai sesuatu hal yang sangat positif.

Lalu, bagaimana halnya dengan sisi yang lain?

Berbeda dengan sistem lockdown, pada kebijakan PSBB ini aktivitas masyarakat masih dapat dilakukan melalui batasan tertentu.
Moda transportasi angkutan umum, misalnya, masih diizinkan untuk beroperasi selama 12 jam, yakni antara pukul 06.00 hingga 18.00 WIB, dengan jumlah penumpang yang hanya dibatasi maksimum 50% dari situasi normal.
Demikian pula pasar dan toko-toko yang menyediakan bahan logistik. Mereka juga diizinkan untuk tetap beroperasi demi terjaminnya pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Meski sepintas tampak bahwa aktivitas masyarakat akan dapat berjalan dengan normal, kesiapan pemerintah daerah sebenarnya merupakan jaminan bagi efektivitas PSBB.

Pemerintah tak hanya berhadapan dengan institusi yang dapat dikendalikan melalui aturan tertulis, tapi juga pada sisi irasionalitas massa. Patut disadari bahwa masyarakat masih memendam kepanikan yang cukup tinggi. Ibarat gunung berapi yang setiap saat berpotensi meletus, itulah gambaran konteks masyarakat saat ini.

Di satu sisi kekhawatiran akan potensi penyebaran covid-19 masih cukup meresahkan kita. Di sisi lain, masalah ekonomi kini mulai menghantui. Sejumlah perusahaan mulai melirik opsi cuti di luar tanggungan atau pemotongan sebagian upah yang disebabkan proses kerja yang harus dilakukan dari rumah ataupun penghentian sementara kegiatan produksi. Belum lagi mereka yang mengandalkan upah harian.

Penutupan sementara fasilitas perkantoran secara spontan akan menghentikan aliran pendapatan mereka. Tanpa disadari, realitas tersebut telah membangun sisi irasionalitas masyarakat. Oleh karenanya, menenangkan masyarakat kini turut menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan suatu perhatian khusus.

Kolaborasi dimulai dari rumah

Pandemi covid-19 telah mengingatkan kita akan hakikat sebagai anak bangsa Indonesia. Lagu kebangsaan Indonesia Raya juga telah mengarahkan kita untuk ‘menjadi pandu Ibuku’.

Ini ialah saat yang tepat untuk memegang peran sebagai seorang pandu yang sejati.

Ibarat seorang pandu kapal yang memberi arahan kepada kapten agar selamat sampai bersandar di dermaga, komunikasi merupakan hal yang sangat vital. Itu karena melalui komunikasi yang efektif, maka kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat memegang kendali pandu untuk memastikan roda ekonomi akan terus berputar.

Sudah beberapa hari terakhir saya mendengar kisah bagaimana para pedagang di pasar tradisional mengubah motivasinya dari berdagang untuk sekadar mencari keuntungan menjadi bagaimana caranya menolong orang lain. Mereka paham benar bahwa lokasi pasar berpotensi menjadi salah satu episentrum pandemi.

Oleh karenanya, lewat cara yang sangat sederhana, mereka berusaha berkomunikasi dengan pedagang lain seraya berkolaborasi untuk menghantar barang-barang kebutuhan pokok ke rumah para pelanggan. Dengan cara ini, kita dapat tetap di rumah selagi kebutuhan pokok terjamin.

Tanpa disadari, ide sederhana itu telah menjadikan mereka sebagai seorang pejuang kemanusiaan yang sejati. Budaya tolong-menolong di Kota Metropolitan yang selama ini temaram, kini seakan menguat kembali dalam sanubari sesama anak bangsa.

Tak terhenti di situ, beberapa rumah tangga yang berhasil memperoleh bahan kebutuhan pokok turut menyediakan nasi bungkus, yang kemudian dibagi-bagikan kepada segenap petugas kebersihan ataupun para penjaga keamanan. Dengan demikian, terbangunlah sebuah siklus kemanusiaan yang berkeadilan sosial. Realitas inilah yang secara otomatis membangun sisi rasionalitas masyarakat.

Kini tinggal bagaimana upaya kita untuk menggelorakan semangat itu dari waktu ke waktu. Ibu Pertiwi saat ini tengah bersedih. Karenanya, marilah kita bersama-sama menghiburnya dengan apa yang kita bisa. Gerakan kolaborasi itulah yang sebenarnya menjadi senjata ampuh dalam berperang melawan covid-19. Kita bisa memulainya dari kolaborasi antaranggota keluarga di rumah.

Membangun kegiatan positif di rumah secara tak langsung akan menghadirkan semangat untuk terus melawan pandemi. Sebagai orangtua kita tengah ditantang untuk menjadi teladan dan contoh nyata bagi putra-putri kita sebab hampir 24 jam mereka ada bersama kita.
Realitas ini secara langsung menciptakan kemudahan dalam membangun pola komunikasi yang efektif.

Ajakan untuk berpikir positif akan menyadarkan setiap anggota keluarga untuk tetap menjalankan peran masing-masing, walau semuanya dilakukan di rumah. Kita dapat menjalankan work from home, sementara anak-anak dapat belajar dari rumah.

Produktivitas inilah yang saat ini sangat dibutuhkan untuk menghindarkan diri dari sisi irasionalitas yang ada. Dengan demikian, situasi akan terasa sangat normal dan penuh semangat.

Terakhir, hati yang penuh dengan sukacita ialah obat.

Marilah kita terus membangun optimisme bersama keluarga di rumah untuk menjadi pandu bagi Ibu Pertiwi.

@drr