ARSA menyerang pos-pos polisi dan pangkalan militer di Maungtaw, Negara Bagian Rakhine (Arakan), Myanmar.

 

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jaakarta –: Pada 25 Agustus silam, KELOMPOK BERSENJATA Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) menyerang pos-pos polisi dan pangkalan militer di Maungtaw, Negara Bagian Rakhine (Arakan), Myanmar.

 

Ini mengulang peristiwa serupa pada Oktober tahun lalu.
Balasan militer Myanmar tidak hanya diarahkan kepada kelompok bersenjata itu, tapi juga menjatuhkan hukuman kolektif dengan membakar kampung-kampung dan menembak secara membabi buta terhadap komunitas Rohingya.

Serangan ARSA terjadi sehari setelah Komisi Penasihat Isu Rohingya pimpinan Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, meminta pemerintah Myanmar tidak membatasi gerak warga Rohingya.
Hal itu dinilai menjadi jalan untuk mengatasi masalah EKSTREMISME di negara itu.

Penghapusan aktivitas itu juga wajib dilakukan dengan tidak membatasi hak warga Rohingya atas status kewarganegaraan mereka di Myanmar.
Annan pun memperingatkan bahwa kegagalan implementasi rekomendasi yang dihasilkan timnya dapat memicu terjadinya tindakan ekstremisme dan kekerasan lebih lanjut di Myanmar terhadap warga Rohingya.

*Sulit untuk tidak mengatakan serangan ARSA tidak memanfaatkan momentum rekomendasi tim Annan untuk menambah urgensi pemenuhan hak-hak dasar warga Rohingya*.

 

ROHINGYA MERUPAKAN KOMUNITAS PALING DIBURU DI DUNIA.

Orang Myanmar menyebut mereka sebagai BENGALI.
Mereka menuduh nama Bengali diganti dengan Rohingya karena alasan politik.
Tuduhan itu tidak sepenuhnya benar.

Memang selama pemerintahan kolonial Inggris (1824-1948) terjadi migrasi dalam jumlah besar dari India dan Bangladesh ke Rakhine.
Karena Inggris memerintah Myanmar sebagai provinsi India, hal itu dianggap sebagai migrasi internal.
Migran asal India dan Bangladesh ini hanya menambah populasi muslim di sana.

Kaum muslim asal Timur Tengah (Arab dan Persia) dan Asia Tengah (PASHTUN) telah mendiami Rakhine atau Arakan sejak awal abad ke-12.

 

HUBUNGAN BURUK KAUM MUSLIM DAN BUDDHIS MULAI TERJADI PADA ABAD ke-15.

Ketika Raja Narameikhla (1430-1434) bertakhta di Kerajaan Mrauk U (Rakhine), ia tunduk pada Kesultanan Bengali yang mengalahkan kaum buddhis yang menyerang kerajaan.
Pada 1785 Myanmar menduduki Rakhine dan membantai ribuan kaum muslim.

Pada masa Perang Dunia II,
Inggris mempersenjatai Rohingya untuk menghadapi serbuan Jepang.

Namun,
*Yang terjadi ialah konflik komunal antara Rohingya dan umat Buddha*.

Banyak warga, biara, pagoda, dan rumah warga Buddha dihancurkan Rohingya.

(.Rn)