Kategori
All

Aris Nilai Menteri Sofyan Djalil, Tidak Respon Ratusan Petani Ke Jakarta

Foto: dok / Ratusan Petani Sumatera Utara, gelar aksi didepan Kementerian ATR / BPN.

 

Busurnews.com,Jakarta –  Dewan Pembina Petani asal Sumatera Utara, Aris Wiyono sangat menyayangkan sikap Menteri ATR/BPN RI, Sofyan Djalil karena kehadiran ratusan Petani asal Sumatera Utara tidak direspon dengan baik.

“Kedatangan kami Petani ke Kantor Kementerian ATR/BPN adalah untuk mencari keadilan atas hak tanah rakyat,” ujar Aris pada saat melakukan aksi, di Jakarta Selatan.

Aris menilai Menteri Sofyan Djalil tidak transparan terkait penerbitan surat Hak Guna Bangunan (HGB) diatas surat Hak Guna Usaha (HGU).

“Kita semua tahu surat Hak Guna Bangunan tersebut diterbitkan diatas surat HGU yang saat ini sedang terjadi konflik,” ujarnya, Selasa tadi saat aksi didepan kantor Kementerian ATR/BPN (11/8/2020).

Tambahnya, begitu juga surat Hak Guna Usaha di desa Sei Mencirim sebenarnya, juga menyalahi aturan.
“Pasalnya Surat Hak Guna Usaha tersebut terbit diatas tanah yang sudah ada SK Land Reform Tahun 1964 dan sebagian sudah terbit Sertifikat Hak Milik (SHM) petani.

“Seharusnya Sofyan Djalil, secara jujur harus menyampaikan dan mengakui kalau Kementrian Agraria telah salah dan melanggar Undang Undang pokok Agraria,” tandas laki-laki berperawakan tinggi ini.

Tuntutan demi tuntutan, disuarakan didepan kantor Badan Pertanahan Negara hingga beberapa jam lamanya. “Akhirnya 7(tujuh) perwakilan Petani diterima oleh Wakil Menteri Agraria Bapak Surya Chandra bersama dengan Direktur Konflik dan Sengketa,” jelas Dewan Pembina ini.

Dalam hal ini kata Aris, Wakil Menteri Agraria akan segera melakukan Sidak (Inspeksi Mendadak: red) ke lokasi bersama team dari KPK.

“Untuk memastikannya. Petani akan susun skema dalam penyelesaianya,” tegas Aris.

Aris juga menegaskan, jika Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Sei Mencirim Bersatu (STMB) sepakat untuk terus bergerak meneruskan perjuangan rakyat Sumatera Utara kedepan Istana Negara.

“Bila mana jika sampai dengan hari Jumat (14/8/2020) permasalahan kami tidak juga segera diselesaikan,” tegasnya.

Bagaimanapun, kata Aris, semangat Presiden RI Joko Widodo adalah membangun lumbung pangan dalam menangani krisis ekonomi.

“Bukan penggusuran dan tindakan represif terhadap Petani oleh aparat TNI – Polri hingga ribuan personil jumlahnya,” tutup Aris. (Dms)