Kategori
All

Anton Tabah Digdoyo : Jangan Salah Maknai SARA , Makar Dan Intoleransi

 

Busur News Com,Jakarta – Diskusi publik tentang  RUU Terorisme  di Warung Daun Cikini Jakarta Pusat ( 3/6/2017) oleh Sindomedia radio tv dan koran mengundang tokoh- tokoh  nasional antara lain Anton Tabah Digdoyo dari MUI Pusat juga Kadiv humas Polri Irjen Pol Setyo Wasito anggota DPR Boby, dari BIN Wawan dan lain- lain.

Anton Digdoyo ingatkan pemerintah agar tidak keliru maknai Intolerans ,Sara dan Makar. Contoh milih pmimpin di mayoritas Muslim haruss seiman itu bukan intolerans karena kitab suci AlQuran memerintahkan seperti itu.

Apa yang diperintah kitab suci harus ditaati sesuai amanah UUD 1945 pasal 28 dan 29 Negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan umat harus taat pada ajaran agamanya.

Demikian pula rakyat Indonesia tidak memilih tak suka Ahok bukan karena ia cina tapi karena ia buruk perangai buruk kata tidak cocok dengan tabiat karakter bangsa Indonesia yang santun halus dan ini bukan masalah kebinekaan.

Anton yang mantan Jendral Polri ingatkan pemeritah tak mudah nuduh ulama/tokoh- tokoh  berbuat makar hanya karena unjuk rasa dengan jutaan rakyat itu semua hak konstitusional dijamin UU apalagi jutaan rakyat tertib bahkan tak sehelai rumputpun rusak sehingga dikagumi dunia.

Jendral Anton juga ingat kan tak perlu merevisi UU tetang terorisme karena selain tak mudah juga berthele thele.

Anton usulkan dengan keputusan politik lebih mudah dan cepat apalagi akan melibatkan militer cukup dengan persetujuan DPR, Presiden, Menhan dan berlaku maximal 2tahun jika masih diperlukan bisa diperpanjang 2th lagi.

Pelibatan militer ke otoritas sipil tidak boleh dengan UU karena UU bersifat permanen sekecil apapun pelibatan militer ke otoritas sipil harus dengan keputusan politik yang bersifat sementara bukan permanen.

Demikian juga dalam menghadapi ulama kharisnatik Habib Rizik pemerintah mesti bijak karena  yang berkembang di rakyat itu mengada-ada.
Jika salah langkah tak sadar telah jadikan Habib Riziek tokoh paling menentukan bangkitnya Kedasaran moral politik umat Islam, bahkan rakyat nilai pemerintah telah memposisikan sebagai anti umat Islam, dan  harus Ulama- ulama mainkan peran karakter paduan Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, Bung Tomo Jendral Soedirman, dll.

“Konstalasi ini lahirkan kebangkitan Nasional jilid 2 yang  tak bisa dibendung menuju Indonesia yang lebih baik. Insya Allah,” tegas Anton Digdoyo.

(Am,Rn)