Amalan-amalan yang berpahala haji bagi hamba-Nya yang ditakdirkan tertunda melaksanakan haji

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Amalan-amalan yang berpahala haji bagi hamba-Nya yang ditakdirkan tertunda melaksanakan haji.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama memutuskan untuk meniadakan penyelenggaraan Ibadah Haji 2021.
Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung menjadi salah satu alasan pembatalan melaksanakan rukun Islam yang kelima ini.

Akibatnya, tentunya ada calon jamaah haji tahun lalu dan tahun ini yang kecewa karena batal berziarah ke Tanah Suci. Jika terus kecewa, tentu bukan sifat orang beriman.
Ikhlas menerima segala ketentuan yang telah ditakdirkan merupakan pilihan bijak menentramkan.
Insya Allah pahala niat berhaji sudah tercatat walau belum berangkat.
Yakini hal ini pasti ada hikmahnya.

Lalu pertanyaannya, apa yang mesti dilakukan menunggu tahun depan sebagai penghibur diri dari kekecewaan tertundanya menjadi Dhuyufurrahman?

Maka jangan khawatir dan bersedih karena sesungguhnya Allah SWT, Dzat Yang Maha Bijaksana telah menyiapkan amalan-amalan yang berpahala haji bagi hamba-hamba-Nya yang ditakdirkan tertunda, apakah karena wabah atau bagi mereka yang belum ada kesempatan dan kemampuan untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima ini.

Amalan pertama adalah shalat lima waktu berjamaah di masjid. Dari Abu Umamah RA, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang berjalan menuju shalat wajib berjamaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju shalat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.”
(HR Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

Amalan kedua, membaca tasbih, tahmid, dan takbir setelah shalat. Nabi SAW bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali.”
(HR Bukhari).

Amalan ketiga, melakukan shalat sunnah Isyraq. Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna, dan sempurna.”
(HR Tirmidzi).

Amalan keempat yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pahala haji adalah menghadiri majelis ilmu di masjid. Dari Abu Umamah RA, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.”
(HR Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

Amalan kelima yang senilai dengan haji adalah berbakti kepada orang tua. Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah, dan berjihad.”
(HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath).

(*

Cermat memilih presiden dan wakil rakyat.
Haus kekuasaan menumbuhkan sifat munafik dalam hati.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya agar tidak haus dengan kekuasaan dan harta agar tidak menjadi orang munafik. Karena dua hal tersebut dapat membahayakan diri dan orang lain.
Peringatan tersebut disampaikan Nabi melalui sabdanya.
“Gila kedudukan dan harta itu menumbuhkan sifat munafik dalam hati. Orang yang gila kedudukan tidak ubahnya seperti air yang dapat menumbuhkan sayuran.”

Nabi Muhammad bersabda.
“Dua ekor serigala buas masuk di kandang domba tidak lebih berbahaya daripada gila kedudukan dan harta dalam keyakinan agama seorang muslim.”
Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Munqizh Min Al-Dhalal yang diterjemaahkan KH. R. Abdullah Bin Nuh dengan judul ‘Tafakur Sesaat Lebih Baik Daripada Ibadah Setahun’ mengatakan, sifat gila kedudukan dan harta ini takkan dapat dihilangkan hingga ke akar-akarnya kecuali dengan uzlah.
Yakni membebaskan diri dari segala yang akan mempengaruhinya.
Orang yang berpengetahuan seharusnya sudah waspada terhadap ciri-ciri yang tersembunyi di dalam hatinya.
Ia juga harus pula pandai mencari jalan keluarnya.
Yang demikian inilah yang seharusnya dilakukan seorang alim yang benar-benar bertakwa.
Imam Ghazali mengatakan, bagi orang-orang seperti kita ini, harus diarahkan untuk memperkuat iman pada hari kemudian, pada hari perhitungan.
Menurut Imam Ghazali, andaikata keadaan kita ini diketahui oleh kaum Salihin leluhur kita, pastikanlah mereka mengira kita tidak lagi beriman terhadap hari perhitungan.
“Mengapa? Karena perbuatan kita memang sudah seperti perbuatan orang yang tak beriman lagi,” katanya.
Orang yang menginginkan sesuatu, tentu ia akan berusaha mencapainya.
Kita sudah tahu, bahwa untuk menjauhi api neraka, kita harus meninggalkan yang syubhat dan haram; harus menjauhi segala macam maksiat, bukan dengan berkecimpung di dalamnya.
Kita mengetahui pula, bahwa surga itu dapat dicapai dengan sering melakukan nawafil tetapi sebaliknya, taat fardhu malah kita lalaikan. Kalau begitu, pengetahuan kita itu berarti tidak menghasilkan buah.

Sebaliknya, kebanyakan orang malah menjadi semakin gila harta dan kedudukan. Mereka sudah mencontohkan kita, mereka pikir, kalau benar perbuatan demikian itu jahat atau mungkin belum akan melakukannya.
Kalau dosa kita hanya sampai dibawa mati bila ajal kita sudah sampai seperti pada orang awam.
Namun, persoalan kita tentu lebih sulit lagi dan besar benar bahaya yang akan kita hadapi.

Semoga Tuhan memperbaiki dan memberikan Taufik untuk kita bertobat sebelum ajal tiba. Allah maha pengasih dan maha penyayang.

Allahu a’lam bishshawab.

@garsantara