Kategori
Artikel

AM FATWA Dalam Kenangan (III)

 

Oleh:Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,Jakarta- AM FATWA
Dalam Kenangan (III)

–. Setelah ‘benar-benar’ menjadi politisi sifat berani Fatwa ternyata tak pernah luntur.

Dia tetap teguh berpendirian dan kerapkali berani melawan arus.

Kemampuan ini makin terasa karena Fatwa sebagai mantan imam tentara KKO dan dia pintar bicara.

Selain itu dia pun pintar menulis.

“Saya kagum atas kegigihan, keuletan, dan keberaniannya.

Misalnya, di awal reforasi dia berani mengkritik Presiden Gus Dur secara langsung pada sebuah pertemuan di Istana Negara.

Dia juga ulet memperjuangkan cita-cita untuk menjadikan tiga tokoh negarawan Muslim sebagai pahlawan nasional seperti
M Nastir,
Kasman Singodimedjo, dan
Ki Bagus Hadikusomo.

Dia gigih terus ngomongin hal itu setiap kali bertemu Presiden, baik SBY maupun Jokowi,’’.

SELAIN ITU FATWA PUN BERANI MENEGUR TOKOH YANG DIANGGAPNYA KONTROVERSIAL.

“Beberapa waktu lalu saya tahu dia menemui anggota DPD asal Bali Wedakrana untuk memperingatkannya. ‘’

Dalam soal ini saya sempat tanya, apakah tidak takut?

Jawab dia hanya pendek:
Suharto saja saya lawan!”.

*Bahkan pernah memaki fahri hamzah di acara ILC tv-one ketika diskusi sengketa ketua DPD.RI*

“AM FATWA MENUNGGU FATWA MA”

Uniknya,
Meski sempat menjadi sosok utama penentang rezim Suharto, Fatwa ternyata punya hubungan baik dengan dia.

Dalam sebuah memoar yang ditulis untuk mengenang Pak Harto, Tutut menceritakan betapa Fatwa justru kerap berkunjung ke Cendana.

Dan itu dia lakukan semasa suharto telah lengser dan di tengah hujan banjir kecaman kepadanya.

Ketika bertemu kedua berbincang akrab seakan tak pernah ada masalah.

Dalam peretemuan itu Fatwa menyerahkan bukunya:
‘Surat-surat dari Penjara.’

‘’Saat itu saya sempat cium kening Pak Harto.

Saya diajarkan oleh para tokoh yang saya kagumi
–M Natsir, Ki Bagus Hadikusmo, Kasman Singodimedjo, dan para pendiri bangsa ini –

Bahwa berpolitik tidak boleh membawa dendam atau soal pribadi,’’
kata Fatwa mengenangkan pertemuan dengan Suharto itu.

–. Dan atas meninggalnya sahabat terbaik itu, saya pun mengenangkan pertemuan terakhir dan isi SMS yang dikirimkan Fatwa kepadanya pada 25 Agustus yang lalu.

Fatwa kala itu mengundang untuk hadir di rumahnya.
Tujuannya untuk membicarakan kelanjutan pengusulan
AR Baswedan
dan
Kasman Singodimedjo
menjadi pahlawan nasional.

“Kepada stafnya itu, dengan maksud bergurau saya katakan, kalau ada ongkos saya datang.
Omongan saya itu rupanya disampaikan ke Pak AM Fatwa,”

Tak berapa lama kemudian datang yang seperti sms ini:

Asslm.
Pak, saya ini sebenarnya kanker hati sedang serius dan sedang bersiap ke singapur.

Tapi saya terasa jadi utang dan pikiran berat soal Pak kasman dan Pak baswedan.

Pak Haedar selalu masih tanya pada saya, Pak Hartono Laras mengalah sampai mau datang ke rumah saya.

Kalau bp tidak datang rasanya ganjil alias aneh dan ini bukan bercanda.

Perasaan saya sekarng ini tidak lama lagi akan meninggal.

Tks.
Salam AM Fatwa.
(SMS, 25 Agustus 2017)

Saya sangat trenyuh atas pesan singkat yang berisi perasaan Fatwa mengenai
‘hutang kewajiban’
yang masih belum bisa dilunasinya.

“Ya itulah Pak Fatwa yang selalu peduli pada nasib bangsa ini,”.

KALAU BEGITU
SELAMAT JALAN
PAK FATWA.

Allahummaghfirlahu Warhamhu.

(Rn)