Alquran mengabadikan akhir hidup orang-orang yang zalim masa lalu 

 

Oleh: Dhedi Razak

JAKARTA —: Alquran mengabadikan akhir hidup orang-orang yang zalim masa lalu

Setiap kezaliman pasti akan berakhir dengan kehancuran.
Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ ”

Wala tahsabannallaha ghaafilan ‘an maa ya’maluzh zhalimuun (Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim).”
(QS Ibrahim 42).

Silakan orang-orang zalim itu melakukan segala cara untuk membentengi kezalimannya, Allah pastikan itu akan musnah.
Sebab, semua kezaliman tidak hanya melanggar syariatullah, tetapi juga sunnatullah.
Apa pun kekuatan itu, jika melanggar ketentuan-Nya pasti akan hancur.
Masih kurang apa kekuatan firaun pada masa itu?
Ternyata berakhir dengan cara yang sangat mengenaskan. Allah menenggelamkannya di Laut Merah. Kaum Aad dan Tsamud juga dihancurkan dengan hukuman yang pedih.
Kaum Tsamud dihancurkan dengan thaagiah (suara yang sangat keras), sedangkan kaum Aad dihancurkan dengan badai angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari

فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum  Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.
Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.
(QS Al Haqqah 5-8).
Itu pelajaran supaya tidak ada lagi setelah itu orang-orang yang berbuat zalim.

Dalam surat Al Fajr: 6-14, setelah menyebutkan kaum-kaum terdahulu yang diazab, Allah SWT menggambarkan urutan mengapa azab itu menimpa mereka.
Pertama, karena melakukan penyimpangan thagha.
Dari penyimpangan ini muncullah yang kedua, banyaknya kerusakan, seperti zina, korupsi, pembunuhan, dan sebagainya. Lalu terjadilah yang ketiga, yaitu turunnya azab Allah SWT:

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ ”

Fashabba alaihim rabbuka sautha azaab”.

Di sini Allah SAW memastikan bahwa sekecil apa pun perbuatan zalim itu tetap dalam pantauan-Nya:

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ ”

Inna rabbaka labil mirshaad”.
Artinya, orang-orang beriman yang berada dalam kebenaran optimislah selalu akan datangnya sebuah kemenangan, teruslah bersabar dalam ketaatan, lakukan ikhtiar semaksimal kemampuan.

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ  ”

Wal aaqibatu lilmuttaqiin” (kemenangan kelak pasti akan berpihak kepada siapa yang benar)
(QS Al Araf 128).

Ayat ini sejatinya bagian dari nasihat Nabi Musa kepada kaumnya agar tetap bersama Allah dan bersabar pada saat dikejar-kejar firaun dan setelah itu mereka menyaksikan langsung bagaimana Allah memenangkan mereka dan menenggelamkan firaun dengan sehina-hinanya.
(*

Alquran mengabadikan karakter permusuhan Yahudi sepanjang masa
Dunia tampak membisu menyaksikan kekejaman, kebiadaban, dan kejahatan kemanusiaan tersebut.
Arogansi Zinonis Yahudi makin semenamena karena mendapat dukungan politik dan militer dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.
Negara dan Pemerintah Yahudi saat ini merupakan rezim teroris sejati.
Ideologi Yahudi itu memang ideologi kekerasan, keserakahan, dan kebencian, terutama terhadap umat Islam.
Alquran membenarkan sikap permusuhan dan aksi kekerasan yang merupakan watak keras kepala Yahudi.

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا  ”
Sungguh engkau dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyekutukan Allah.”
(QS Al Maidah 82).
Ayat tersebut menunjukkan kepada dunia bahwa Yahudi memang berwatak antipati dan selalu memusuhi kaum beriman, khususnya umat Islam.
Dalam sejarahnya, permusuhan Yahudi ditunjuk kan, antara lain, dalam bentuk penolakan ayat-ayat Allah, pembunuhan para nabi yang diutus kepada mereka (QS al Baqarah [2]: 61), pengingkaran janji-janji yang mereka buat sendiri (QS al-Baqarah [2]: 100), dan persekongkolan jahat untuk melawan kebenaran (QS al-Anfal [8]: 30).
Watak Yahudi seperti itu didasari keangkuhan dan egoisitas komunal karena merasa “dianak-emaskan” oleh Allah.

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Wahai Bani Israel, ingatlah nikmat Allah yang telah Aku berikan kepada kalian. Sungguh Aku telah memberikan keutamaan kepada kalian melebihi bangsa lain di muka bumi.”
(QS Al Baqarah 47).
Padahal, keutamaan yang dimaksud dalam ayat itu bersyarat, jika mereka mau beriman kepada Allah, mematuhi syariat, dan mensyukuri nikmat-Nya.
Ketika hijrah dan tinggal di Madinah, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian atau “kontrak sosial politik” dengan warga Madinah, termasuk komunitas Yahudi, untuk hidup rukun, damai, dan bersatu.
Tidak lama setelah ditandatangani, kaum Yahudi berkhianat dan mengingkari kesepakatan bersama.
Tidak hanya ingkar janji, pimpinan Yahudi juga licik dan bersekongkol memusuhi Nabi Muhammad SAW dengan menghalalkan segala cara.
Agresi dan aksi terorisme Yahudi superkeji terhadap Palestina harus dihentikan dengan mengetuk nurani dunia. Nurani kemanusiaan tidak boleh mati.
Para pemimpin dunia, khususnya PBB, harus menyuarakan nurani kemanusiaan untuk menyelamatkan masa depan kema nusiaan yang adil dan beradab.
Warga dunia harus bersatu padu menggalang persaudaraan dan solidaritas kema nusiaan universal untuk menghentikan perang yang telah meluluhlantakkan kemanusiaan dan peradaban.

Sudah saatnya dunia Islam bangkit, bersatu, bersimpati, dan berdiri tegak membela hak-hak asasi rakyat Palestina yang dizalimi penjajah Yahudi.

@garsantara