Allah SWT melupakan para pelaku maksiat yang tak kunjung taubat

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA. — Allah SWT melupakan para pelaku maksiat yang tak kunjung taubat

Ketika orang berbuat maksiat, Allah SWT akan menghukum hambanya tersebut.
Hukuman yang paling berat adalah Allah akan melupakannya dan dia akan lupa dengan dirinya sendiri.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
(Al Hasyr 19)

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, dalam kitab Al-Jawab Al-Kafi Liman Saala An Ad-Dawa As-Syafi, menjelaskan ayat tersebut menjelaskan semua orang yang suka menyesatkan orang lain dari jalan yang benar dan orang-orang yang mau disesatkan karena teperdaya rayuan dan janji-janji yang muluk-muluk dari orang yang menyesatkan.
Maksudnya, janganlah sekali-kali orang yang beriman seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakannya.
Orang yang lupa kepada Allah, seperti orang munafik dan orang Yahudi Bani Nadir di masa Rasulullah SAW, tidak bertakwa kepada-Nya.
Mereka hanya memikirkan kehidupan dunia saja, tidak memikirkan kehidupan di akhirat.
Mereka disibukkan harta dan anak cucu mereka serta segala yang berhubungan dengan kesenangan duniawi.
Kemudian diterangkan bahwa jika seseorang lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakannya.
Maksud pernyataan ‘Allah melupakan mereka’ ialah Allah tidak menyukai mereka, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan, makin lama mereka makin sesat, sehingga makin jauh dari jalan yang lurus, jalan yang diridhai Allah.
Oleh karena itu, di akhirat mereka juga dilupakan Allah, dan Allah tidak menolong dan meringankan beban penderitaan mereka. Akhirnya mereka dimasukkan ke dalam neraka, sebagai balasan perbuatan dan tindakan mereka.
Ditegaskan bahwa orang-orang seperti kaum munafik dan Yahudi Bani Nadir adalah orang-orang yang fasik.
Mereka mengetahui mana yang baik (hak) dan mana yang batil, mana yang baik dan mana yang jahat.
Namun demikian, mereka tidak melaksanakan yang benar dan baik itu, tetapi malah melaksanakan yang batil dan yang jahat.
Surat At Taubah ayat 67 pun menjelaskan mengenai Allah yang akan meninggalkan orang yang fasik:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.”

Semua itu disebabkan mereka lupa kepada kebesaran Allah, lupa kepada petunjuk-petunjuk agama-Nya dan siksaan-Nya.
Lebih tegasnya mereka lupa mendekatkan diri kepada Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sebagaimana tidak terlintas di hati sanubari mereka kewajiban berterima kasih atas nikmat-nikmat yang diberikan Tuhan sehingga mereka mengikuti kehendak nafsu mereka dan godaan setan.
Sudah sewajarnya jika Allah melupakan mereka dengan menjauhkan mereka dari karunia taufik-Nya di dunia dan ganjaran pahala di akhirat.
Sesungguhnya orang-orang munafik yang tetap dalam kemunafikannya itu merupakan manusia yang paling fasik di dunia ini bahkan mereka lebih rendah dari kafir biasa.
Karena orang kafır menutupi hati mereka terhadap keesaan atau adanya Tuhan secara terang-terangan.

Berlainan halnya dengan orang-orang munafik yang sengaja menutupi kesalahan baik mengenai akidah atau pun mengenai akhlak dan tindak-tanduk perbuatan yang jauh menyimpang dari fitrah manusia yang murni dengan berpura-pura menjadi mukmin.

(*

Sungguh penderitaannya menjadi mutiara iman berbuah surga.
Satu kali di dasar laut, seekor anak kerang meringis menahan perih mengadu kepada ibunya. Pasir tajam memasuki tubuhnya yang masih merah dan lunak. “Anakku,” sapa sang ibu sambil bercucuran air mata, “Allah tidak memberikan kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga ibu tak kuasa menolongmu. Pasti sakit sekali, aku tahu anakku.”
“Tetapi,” ibunya melanjutkan, “Terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkanlah hatimu dan jangan terlalu lincah lagi. Kerahkanlah semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit tubuhmu. Balutlah perlahan pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat, nak,” kata ibunya menasihati.
Anak kerang kemudian melakukan nasihat ibunya. Ada hasilnya, tapi tetap sakit bukan kepalang. Kadang di tengah kesakitan, ia meragukan nasihat ibunya. Meski berurai air mata, ia bertahan hidup bertahun lamanya. Dan ternyata tanpa disadari, sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Rasa sakit pun mulai berkurang.
Semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit terasa lebih wajar. Akhirnya setelah sekian lama, sebutir mutiara besar, utuh mengilap terbentuk sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga.
Dan, kini dirinya menjadi kerang berharga yang dicari manusia untuk diabadikan sebagai perhiasan indah menawan.

Cerita inspiratif di atas mengingatkan kita jauh ke zaman para sahabat utama Rasulullah di awal dakwah Islam yang penuh ujian keimanan.
Tak jarang mereka harus berjuang menahan getirnya berbagai siksaan kaum kafir Quraisy.
Lihatlah bagaimana sang muazin Rasulullah, Bilal bin Rabah, seorang budak berkulit hitam dari Habasyah (Ethiopia) harus menerima hukuman tragis dari Umayyah bin Khalaf, sang majikan.
Dengan tubuh hampir telanjang, Bilal dibaringkan di atas pasir panas terik matahari, lalu ditindih dengan batu besar yang juga panas terbakar.
Ia seperti berada di antara dua bara api.
Bahkan, jika Umayyah lelah menghukumnya, sang majikan mengikat leher Bilal dengan tali dan menariknya seperti hewan gembalaan kemudian diserahkan kepada anak-anak untuk diseret ke jalan.
Siksaan kejam dan biadab ini dilakukan hanya untuk memaksa Bilal mengatakan, “Tuhanku adalah Lata dan Uzza.”
Namun, dengan sisa tenaga dan berdarah-darah, Bilal menggelengkan kepala dan tetap istiqamah mempertahankan syahadatnya, lalu mengatakan, “ Ahad…Ahad…”

Sungguh penderitaannya menjadi mutiara iman berbuah surga. Bilal, mantan budak lelaki, selain sebagai muazin Rasulullah, beliau juga termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan Rasulullah masuk surga.
Bahkan, ketika beliau masih hidup, suara terompahnya sudah lebih dulu berada di surga.
Maka bersabarlah terhadap ujian keimanan kita di akhir zaman ini.
Karena tak akan pernah sebanding dengan berbagai penyiksaan terhadap para Assabiqul Awwalun, generasi terbaik umat ini.

 

@garsantara