Kategori
Artikel

ALKISAH, pada sekitar 606 M terjadi deadlock dan ketegangan yang berpotensi menimbulkan pertumpahan darah pada saat renovasi Kabah

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –ALKISAH, pada sekitar 606 M terjadi deadlock dan ketegangan yang berpotensi menimbulkan pertumpahan darah pada saat renovasi Kabah.

Sebagaimana ditulis Muhammad bin Yasar bin Ishaq dalam Sirah Ibnu Ishaq (2002: 123-128), Kabah rusak parah sehingga banyak barang di dalamnya dicuri orang.
Kaum Quraisy Mekah hendak membangun atap yang terbuka dan meninggikan tembok.
Mereka bergotong royong dan membagi pekerjaan kepada keluarga terkemuka.
Di sekitar pintu diserahkan kepada Bani Abdu Manaf dan Zuhra. Ruangan antara Hajar Aswad dan pojok sebelah utara diserahkan kepada Bani Makhzum dan orang-orang Quraisy.

Bagian belakang dikerjakan oleh Bani Jumah dan Sahm.
Bagian Hijr Ismail diserahkan kepada Bani Abduddar.
Adapun Bani Adiy membangun bagian Hatim.
Timbul masalah pada saat pemasangan Hajar Aswad.

Semua merasa paling berhak.

Meletakkan Hajar Aswad merupakan simbol kehormatan.
Bani Abduddar membawa mangkuk penuh berisi darah.

Bersama Bani Adiy mereka mencelupkan tangan ke dalam mangkuk berisi darah sebagai tekad bahwa mereka siap mati demi kehormatan keluarga.

Sampai lima malam belum ada titik temu.
Hingga akhirnya atas usul Abu Umayyah bin Mughira disepakati siapa saja yang masuk masjid pertama kali dialah yang menjadi pengadil.

Qadarullah, orang yang masuk pertama kali ke masjid ialah Muhammad.

Waktu itu beliau belum menjadi rasul.
Akan tetapi, sejak masa kanak-kanak, Muhammad dikenal sebagai pribadi jujur dan amanah.

Mereka pun langsung aklamasi.
Jalan tengah Muhammad menyadari betul sumber masalah.
Sebagai penduduk asli dan bagian dari masyarakat Quraisy, Muhammad memahami makna meletakkan Hajar Aswad bagi martabat keluarga.

Muhammad sendiri berasal dari Bani Abdul Muthalib bin Hasyim.

Mendapatkan kepercayaan sebagai mediator, Muhammad tidak ingin memanfaatkan kesempatan untuk menonjolkan keluarganya.
Muhammad justru memahami kepercayaan sebagai amanah dan momentum membangun persatuan.
Muhammad meminta disiapkan kain panjang.
Sebagian riwayat menyebutkan Muhammad membuka dan membentangkan serban.
Begitu kain panjang tersedia, Muhammad meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah.

Semua kepala suku dipersilakan memegang ujung kain dan mengangkat bersama-sama.
Muhammad kemudian meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya.
Riwayat menyebutkan, sampai sekarang posisi itu tidak berubah.

Begitulah salah satu teladan akhlak Muhammad.

Sejak sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad merupakan sosok yang moderat. Selalu mencari solusi jalan tengah, moderate way, win-win solutions.
Muhammad tidak berbuat aji mumpung, merasa superior, menang-menangan, dan the winner takes all.

Yang dilakukan Muhammad ialah sikap saling menghormati, berbagi kekuasaan, dan akomodatif.

Umat moderat Bagi umat Islam, Nabi Muhammad ialah uswah dan qudwah.

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad merupakan sumber ajaran dan keteladanan.

Seperti halnya Nabi Muhammad, umat Islam hendaknya menjadi pribadi dan komunitas yang moderat.

Sikap moderat dan moderatisme itu dapat dilakukan dalam tiga ranah.

Pertama, ramah pemahaman; memiliki wawasan dan pemikiran Islam yang luas dan terbuka.
Islam ialah agama wasatiyah: agama terbaik yang ajarannya moderat.

Islam mengajarkan keseimbangan dan keadilan.
Keseimbangan tersebut menurut Ibnu Katsir meliputi keseimbangan materiel dan spiritual, jasmani dan rohani, pribadi dan sosial.

Kedua, moderat dalam bersikap.
Islam melarang sikap ekstrem dan berlebih-lebihan (ghuluw, tatharruf), baik dalam beragama maupun dalam berperilaku.
Nabi Muhammad menegaskan bahwa penyelesaian masalah atau urusan yang terbaik ialah yang moderat (khairul umuri ausathuha).

Ketiga, moderat dalam mengambil kebijakan: bermanfaat bagi sebanyak mungkin pihak.
Hal ini mengandung prinsip keseimbangan dan representasi yang adil tidak semata-mata mengikuti logika dan prinsip hukum (boleh atau terlarang, benar atau salah), tetapi juga kepatutan dan kelaziman; etis dan normatif.

Ketiga ranah moderat dan moderatisme tersebut masih belum menjadi bagian dari hidup dan kehidupan sehari-hari.

Terdapat banyak individu atau komunitas yang memiliki pemahaman atau kognisi yang moderat, tetapi sikap dan perilakunya ekstrem, serta kebijakan yang diambil bisa primordial dan komunal.

Tidak sedikit kebijakan publik yang ditetapkan pemerintah terlalu berpihak kepada kelompok tertentu yang mayoritas atau bagian dari gerbong.

Momentum Maulid Nabi Muhammad hendaknya menjadi sarana memperbaiki diri sendiri agar menjadi pribadi yang mode rat, bukan sekadar kegiatan seremonial dan amalan spiritual.

 

 

@garsantara