Akar Ketakutan Barat dan Munculnya Mitos Ancaman Islam

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA – Akar Ketakutan Barat dan Munculnya Mitos Ancaman Islam
Barat masih dibayang-bayangi ketakutan terhadap bangkitnya Islam.
Mitos tentang ancaman Islam di kalangan pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh Kristen, Yahudi, Barat masih bercokol kuat.
Meskipun negara-negara Barat saat ini memiliki kekuatan yang dahsyat dalam berbagai bidang kehidupan, politik, ekonomi, militer, informasi, pemikiran, pendidikan, dan sebagainya, ternyata jiwa ketakutan itu masih saja hidup subur.
Akar-akar ketakutan terhadap Islam memang sangat mendalam di Barat.
Edward Gibbon, misalnya, dalam buku terkenalnya The Decline and Fall of The Roman Empire (New York: The Modern Library, 1974, III:56) membuat mitos populer tentang ancaman Islam, bahwa Nabi Muhammad, dengan masing-masing tangannya memegang Alquran dan pedang, mendirikan kekuasaannya di atas reruntuhan Kristen dan Roma.

Buku John L Esposito, The Islamic Threat, Myth or Reality (New York: Oxford University Press, 1993), menggambarkan fenomena ketakutan itu di kalangan masyarakat Barat dan peranan para penguasa (politik, media massa) dalam menyebarkan ketakutan itu.
Dalam sejarahnya yang panjang, mitos tentang ancaman Islam di kalangan masyarakat Kristen juga sudah digambarkan dengan baik oleh Norman Daniel dalam buku klasiknya, Islam and The West: The Making of an Image (Oxford: Oneworld Publications, 1997).

David R Blank, dalam sebuah tulisannya berjudul Western Views of Islam in the Premodern Period mencatat bahwa meskipun secara keseluruhan tidak ada bukti kuat antara sikap praduga terhadap Islam antara zaman pramodern dengan zaman modern, namun ada garis-garis pemikiran tertentu yang terus berlanjut, yang mencitrakan Islam sebagai kafir raksasa (gigantic heresy),seperti garis pemikiran Peter the Vunerable, Raymund Lull, Martin Luther, dan Samuel Zwemmer.

Zwemmer adalah misionaris Kristen terkenal untuk dunia Islam. Martin Luther, sebagaimana banyak pendeta Kristen di Zaman Pertangahan dan awal Eropa modern, percaya bahwa kaum Muslim (yang disebut dengan istilah ”Turks”) adalah masyarakat yang dikutuk Tuhan.

Kita masih ingat, bahwa Paus Urbanus II, ketika memprovokasi terjadinya Perang Salib juga menyatakan, bahwa kaum Muslim adalah monster jahat yang tidak bertuhan. Membunuh makhluk semacam itu merupakan tindakan suci dan kewajiban kaum Kristen.

Di masa lalu, ketakutan terhadap kekuatan Islam memang beralasan, sebab memang hanya peradaban Islam yang mampu menaklukkan Kristen Eropa selama ratusan tahun. Kata Bernard Lewis, “For almost a thousand years, from the first Moorish landing in Spain to the Second Turkish siege of Vienna, Europe was under constant threat from Islam/Selama hampir seribu tahun, dari pendaratan orang Moor pertama di Spanyol ke pengepungan Turki Kedua di Wina, Eropa berada di bawah ancaman konstan dari Islam.”

Madrasah Mustanshriyah Baghdad peninggalan Dinasti Abbasiyah – (davidmus.dk)

Huntington juga menyimpulkan: “Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done that at least twice(Islam adalah satu-satunya peradaban yang telah membuat kelangsungan hidup Barat diragukan, dan telah melakukan itu setidaknya dua kali.” .

Tetapi, sekarang? Jelas-jelas kaum Muslim saat ini dalam kondisi yang sangat lemah, dan terus-menerus berusaha dilemahkan. Terlepas dari nada peyoratif pada beberapa bagiannya, buku What Went Wrong? Western Impact and Middle Eastern Response (London: Phoenix, 2002), karya Bernard Lewis memuat banyak data menarik tentang kondisi Islam di masa lalu dan kini.

Lewis mengakui keagungan Islam di masa lalu. Ia misalnya mencatat, bahwa selama beberapa abad Islam merupakan kekuatan militer dan ekonomi terbesar di muka bumi.

Tetapi, menurut Lewis, pada abad ke-20, ada yang salah pada dunia Islam.
Dibandingkan dengan rivalnya, Dunia Kristen, dunia Islam kini menjadi miskin, lemah, dan bodoh.
Sejak abad ke-19, dominasi Barat terhadap dunia Islam tampak jelas.
Barat mengivasi kaum Muslim dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya pada aspek publik, tetapi, yang lebih menyakitkan, juga dalam aspek-aspek pribadi.

Namun, orang-orang Barat, tetap saja melihat Islam sebagai momok (scourge)bagi Barat.
Bagaimana menghadapi kaum yang hidup dalam mitos atau paranoid semacam ini?

Pada satu sisi, paranoia Barat itu menunjukkan, bahwa memang Islam, agaimana pun kondisinya, tidak dipandang sebelah mata.
Kaum Muslim tetap diperhitungkan, meskipun sedang dalam kondisi lemah.
Seyogianya, kaum Muslim melakukan instrospeksi atas kondisinya dan tidak terlalu menunjukkan sikap cari muka terhadap Barat.

@drr