Kategori
Artikel

Ada satu fase dalam kehidupan Suraqah bin Malik yang tak mungkin dilupakannya

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA— Ada satu fase dalam kehidupan Suraqah bin Malik yang tak mungkin dilupakannya. Dahulu, dia masih kafir sehingga berupaya membunuh Nabi Muhammad SAW. Saat itu, Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq.
Suraqah berhasil menemukan Nabi SAW yang sedang berdiri seorang diri di padang pasir. Dalam benaknya, terbayang 100 unta betina sebagai hadiah dari pemuka Quraisy bagi siapa pun yang berhasil menangkap sang pembawa risalah Islam itu, hidup atau mati. Dengan semangat, pemuda dari Kampung Madlaji itu memacu kudanya untuk mengejar target buruan.
Namun, seperti ada tembok tak kasat mata, seketika kuda Suraqah terkapar. Ia pun terhempas ke pasir gurun. Tiba-tiba, ia melihat sosok yang diburunya itu mendekat. Nabi Muhammad SAW tersenyum kepadanya, lalu mengulurkan tangan, membantunya berdiri.
Suraqah terkesima. Akan tetapi, hasratnya untuk mendapatkan hadiah 100 ekor unta tak terbendung. Ia pun kembali berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW.
Lagi-lagi, kudanya rebah, seperti menabrak dinding yang tak terlihat. Kejadian yang sama terjadi tiga kali berturut-turut sehingga pemuda ini mengurungkan niatnya.
“Aku berjanji tak akan mengganggu Tuan lagi, kata Suraqah kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi kumohon berjanjilah, bila kelak Tuan dan agama Tuan menang, sudilah kiranya memberikan kepadaku jaminan keselamatan.”

Nabi Muhammad SAW lalu meminta Abu Bakar untuk menuliskan jaminan tersebut di atas sekerat tulang untuk Suraqah.
“Wahai Suraqah, bagaimana pendapatmu bila kelak engkau mengenakan pakaian kebesaran raja Persia?” tanya Nabi Muhammad SAW saat memberikan tulang tersebut.
Yang ditanya terperangah. Persia adalah sebuah kerajaan besar! Bagaimana mungkin dirinya yang hanya seorang pemuda dusun bisa memakai baju raja Persia? Suraqah hanya tersenyum, lalu pamit kepada Nabi Muhammad SAW untuk kembali ke Makkah.
Bertahun-tahun kemudian, Rasulullah SAW berhasil membebaskan Makkah. Beberapa bulan berselang, beliau wafat. Adapun Suraqah diberi usia panjang oleh Allah SWT sehingga turut berperan dalam misi pembebasan Persia.

Dalam Perang Qadisiyah sekira enam tahun sebelum Perang Nahavand Muslimin berhasil mengalahkan pasukan Persia. Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash membawa banyak harta rampasan perang ke Madinah. Di hadapan khalayak, Khalifah Umar bin Khattab secara tak terduga memanggil Suraqah.
Amirul mu`minin menyuruhnya untuk memakai seluruh busana raja Persia, lengkap dengan gelang, jubah, dan mahkotanya.
Setelah itu, Suraqah dipandanginya dari kaki hingga ujung rambut, dan berkata, Masya Allah, betapa gagahnya seorang anak Desa Madlaji memakai ini!

Mendengar itu, air mata Suraqah pun pecah.
Sebab, dirinya teringat lagi akan perkataan Rasulullah SAW dahulu.
“Demi Allah, kekasihku (Nabi SAW) tidak pernah berbohong! Kekasihku tidak pernah berbohong!” serunya sambil menangis tersedu sedan.

@drr