Kategori
Artikel

.Ada peristiwa menarik yang menjadi perhatian dari para investor pasar modal pada pekan depan.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta -Ada peristiwa menarik yang menjadi perhatian dari para investor pasar modal pada pekan depan.

 

Peristiwa itu ialah
PEMBACAAN TUNTUTAN DARI JAKSA
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap
mantan Dirut PT Duta Graha Indah Tbk (DGI) yang secara bersama-sama dengan
DGI sebagai perusahaan telah ditetapkan tersangka tindak pidana korupsi dalam proyek RS Udayana di Bali dan pembangunan Wisma Atlet di Palembang.

 

DGI tercatat sebagai TERSANGKA KORUPSI KORPORASI PERTAMA di KPK.

 

Dakwaan Terhadap
Dudung mengindikasikan bahwa jaksa ingin menyatukan proses hukum Dudung dengan
DGl sebagai tersangka korporasi.

 

Kasus yang melibatkan DGI sangat menarik karena melibatkan banyak pihak.

Tuntutan kepada DGI sebagai korporasi bisa dilakukan bersamaan dengan tuntutan kepada Dudung.

Penetapan PT DGI sebagai tersangka menandakan bahwa korporasi tidak kebal hukum.

“Saat ini mantan dirut PT DGI sedang diadili.
Karena itu, tidak ada salahnya jika dalam tuntutan dirutnya, juga dituntut PT DGI sebagai korporasi,”.

Telah ada preseden bahwa putusan terhadap terdakwa dilakukan bersamaan terhadap korporasi.

Pada kasus PT Asian Agri ataupun IM2, misalnya,
Pengadilan menghukum Suwir Laut (Tax Manager Asian Agri Group).

Pengadilan menjatuhkan pidana kepada Asian Agri sebagai korporasinya dan harus mengembalikan uang Rp2,5 triliun.

Dalam kasus PT IM2,
Selain dirutnya di hukum penjara, PT IM2 juga di hukum mengganti kerugian negara.

“Bahkan saat itu IM2 belum menjadi tersangka, tetapi pengadilan bisa langsung menghukum,”.

Bahwa proses peradilan yang berjalan saat ini malah akan sangat efektif bila tuntutan dan putusan terhadap para terdakwa dilakukan sekaligus.

“Mumpung direkturnya diadili, sekalian saja korporasi­nya dituntut.
Jadi hukumannya langsung dua,
hukuman untuk direkturnya dan hukuman untuk perusahaannya.
Itu lebih efisien dan efektif.”

 

Bahwa kemungkinan ada perkara lain yang bisa menye­ret DGI,
Tidak menghalangi untuk penuntasan kasus ini dalam satu putusan persidangan.

Untuk menimbulkan efek jera bukan terletak pada berapa kali tuntutan diajukan, melainkan lebih pada kualitas putusan yang dihasilkan.

 

PENANTIAN INVESTOR

Dari sisi Investor di Bursa Saham,
Keputusan pengadilan atas kasus ini juga memberikan kepastian mereka dalam berinvestasi.

Saat ini tidak sedikit investor publik yang masih membenamkan dana dengan memegang saham DGI karena masih percaya pada prospek perusahaan itu.

Apalagi perusahaan itu masih bisa memperoleh kontrak-kontrak baru yang bisa segera dimulai proses pengerjaannya.

Namun,
Karena ada kasus hukum, ada sikap wait and see terhadap saham DGI.

Harga sahamnya yang telah merosot
dari posisi tertinggi Rp171 dalam setahun terakhir belum bisa pulih dan
stagnan bergerak di kisaran Rp70-Rp80 per lembar.

 

Yang pasti,
Para karyawan DGI juga menantikan proses peradilan terhadap perusahaan karena mereka harus memikirkan dampak keberlanjutan perusahaan apabila kasus hukum terus berlarut-larut.

 

Karena itu,
Babak baru yang terefleksi dalam tuntutan jaksa pada sidang kasus DGI pekan depan akan menyedot perhatian dari para investor, pegawai, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan DGI.

(Rn)