Abu Hurairah RA menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik budi pekertinya.”

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Dari Abu Hurairah RA ia menuturkan, Rasulullah SAW bersabda,
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik budi pekertinya.”
(HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, dan Darimi).

Hadis tersebut menegaskan bahwa budi pekerti atau AKHLAK merupakan penentu sempurna atau tidaknya keimanan seseorang.
Tidaklah seseorang merasa telah sempurna imannya hanya karena ibadah ritual semata, tetapi ia harus menunjukkannya pada kehidupan dan akhlak keseharian.Dalam kehidupan bermasyarakat, kita bergaul dengan orang yang beragam watak, karakter, kebudayaan, agama, bahkan prinsip hidup yang berbeda. Sikapi segala perbedaan dengan mengedepankan budi pekerti atau akhlak yang baik. Belajarlah menerima perbedaan. Perlakukan setiap orang yang berbeda dengan kita sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Tanamkan dalam hati bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan.
Dengan begitu, kita akan selalu merasa nyaman hidup berdampingan. Membuat hidup jauh dari permusuhan dan saling menjatuhkan, apalagi mencaci dan merendahkan.

Ketika an-Nawwas bin Sam’an RA bertanya kepada Nabi SAW tentang kebajikan dan dosa, Rasulullah SAW menjawab, “Kebajikan adalah budi pekerti yang baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang merisaukan hati, dan kamu tidak senang apabila hal itu diketahui orang lain.”
(HR Muslim).

Dengan akhlak yang baik, kita bisa membuat orang lain merasakan kedamaian, tidak tersakiti oleh lisan dan tindakan.Allah dan Rasul-Nya sangat mencintai orang yang berbudi pekerti luhur. Bahkan dikatakan, orang berbudi pekerti luhur termasuk yang paling banyak masuk surga. Sebagaimana ketika Rasulullah SAW ditanya, “Apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga?” Beliau menjawab, “Bertakwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik.”
Dan beliau pun ditanya, “Perbuatan apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka?” Beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.”
(HR Tirmidzi).
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam akhlak. Kesempurnaan akhlak beliau menjadi wasilah keberhasilan dakwah. “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS Ali Imran: 19)
Teruslah berbuat kebajikan.
Hiasi diri dengan budi pekerti dan akhlak yang luhur.
Jangan lelah belajar.
Carilah pengalaman hidup sebanyak mungkin.
Dari pengalaman itu, kita akan mendapat banyak pelajaran.

Adapun puncak dari proses belajar adalah kita menjadi tahu hakikat sebuah kebenaran dan keburukan.

Lalu, senantiasa melaksanakan kebenaran dan meninggalkan keburukan.
Jika kita menyempurnakan keimanan dengan terus memperbaiki akhlak, keindahan Islam akan semakin dirasakan.
Maka revolusi akhlak semakin relevan terutama bagi pemimpin lembaga negara serta pemangku kepentingan.
Bukan hanya oleh kita, melainkan orang-orang yang ada di sekitar.

Wallahu a’lam.

 

@garsantara