Ulama Adalah Pewaris Para Nabi.

Busurnews.com, JAKARTA –:

Ulama adalah pewaris para Nabi.

Para ulama memiliki peran penting sebagai pemimpin umat untuk melanjutkan dan memelihara syiar dan kemuliaan Islam.

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menghormati dan memuliakan para ulama.

Kendati demikian, ulama juga manusia terkadang ada pula yang khilaf.

Lalu bagaimana membedakan ulama suu’ (buruk) dengan ulama rasyad (diberi petunjuk)?

Maulana Muhammad Zakariya al-Kandahlawi dalam kitabnya Himpunan Fadilah Amal, menjelaskan tak ada batasan tertentu dalam hal ini.

Untuk itu, ada dua hal yang perlu diperhatikan umat terkait masalah ini.

Pertama, jika seorang ulama belum dipastikan sebagai ulama suu’, jangan sekali-kali kita membuat keputusan apapun terhadapnya.
Kedua, jika hanya karena berprasangka buruk bahwa si pembicara adalah ulama suu’, janganlah sekali-kali membantah ucapannya begitu saja tanpa diselidiki terlebih dahulu, karena sikap seperti itu merupakan kezaliman.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah al-Israa ayat 36:

”Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan serta hati, semuanya akan ditanya.

”Menurut Syekh al-Kandahlawi, Rasulullah SAW mengajarkan agar umatnya bersikap hati-hati, yakni tak menolak atau membenarkan sesuatu begitu saja, sebelum kita mengetahuinya dengan pasti.

”Namun, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya.

Apabila ada orang yang mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan pendapat kita, bukan saja menolaknya, bahkan menentangnya,” ungkap dia.

Syekh al-Kandahlawi mengingatkan, ulamahaqqani, ulama rusydi (yang benar) danulama Khairi yang baik adalah manusia juga.

”Yang maksum hanyalah para Nabi.
Oleh sebab itu, jika ada kesalahan, kelemehan dan kekurangan pada diri mereka, tanggung jawabnya kembali kepada diri mereka sendiri,”
papar Syekh al-Kandahlawi.

Menurut dia, hanya Allah SWT yang berhak menentukan apakah azab atau ampunan bagi mereka.

Syekh al-Kandandahlawi mengungkapkan, orang-orang yang mengajak untuk berburuk sangka, membenci dan berusaha menjauhkan alim ulama dari umat termasuk penyebab kerusakan agama.

Orang yang seperti itu, kata Syekh al-Kandahlawi, akan mendapat siksa yang keras.

Rasulullah SAW bersabda,
”Sesungguhnya sebagian dari mengagungkan Allah adalah; memuliakan orang tua Muslim, memuliakan hafiz Alquran yang tak melewati batas dan memuliakan pemimpin yang adil.”
(HR Abu Dawud).

Bahkan, Rasulullah SAW menyatakan, mereka yang tak memuliakan alim ulama bukanlah bagian dari umatnya.

”Bukan termasuk umatku orang yang tak menghormati orang tua, tidak menyayangi anak-anak dan tidak memuliakan alim ulama.”
(HR Ahmad, Thabrani, Hakim).

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW sempat mengkhawatirkan tiga hal yang akan terjadi pada umatnya.
”Aku tidak mengkhawatirkan umatku kecuali tiga hal,” sabda Rasulullah.

”Pertama, keduniaan berlimpah, sehingga manusia saling mendengki.
Kedua, orang-orang jahil yang berusaha menafsirkan Alquran dan mencari-cari takwilnya, padahal tak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah.

Ketiga, alim ulama ditelantarkan dan tidak akan dipedulikan oleh umatku.”
(HR Thabrani).

”Dewasa ini, berbagai ucapan buruk telah dilontarkan kepada alim ulama,” papar Syekh al-Kandahlawi.

Untuk itu, papar dia, umat perlu berhati-hati dalam membicarakan ulama.

”Jika di dunia ini tidak ada alim ulamayang benar dan jujur dan yang ada hanyalah orang-orang jahil dan ulama suu’, kita tetap tak boleh menuduh seorang ulama itu suu’ hanya berdasarkan ucapan orang.”

Maka berhati hatilah yang terbiasa mengucapkan ‘kadal gurun, mencibir dengan alasan beda politik.

@drr