Edriana,SH, MA – Direktur Women Research Institute

Jakarta (Busurnews.com) Selama ini perempuan-perempuan Jawa yang ditokohkan, sementara jejak langkah tokoh-tokoh perempuan Minangkabau hampir tidak pernah terdengar. Padahal peran mereka bagi Indonesia, bukan hanya untuk wilayah Sumatera Barat atau Sumatera pada umumnya, tidak kalah penting dibanding dengan perjuangan tokoh-tokoh emansipasi perempuan seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika.
Para ahli sejarah di Sumatera Barat sudah cukup lama memperjuangkan pengakuan publik atas perjuangan perempuan Minangkabau dalam kancah politik kemerdekaan Indonesia. Setidaknya tercatat ada empat nama penting yang patut dijadikan tonggak teladan bagi pergerakan perempuan Indonesia masa kini. H.R Rasuna Said melakukan perlawanan terhadap penjajah melalui kegiatan di bidang pendidikan, media dan politik. Rahmah El Yunusiyah adalah tokoh pendidikan perempuan yang lebih besar perjuangannya daripada RA Kartini karena berhasil mendirikan lembaga pendidikan bagi perempuan, Dinniyah Puteri, yang terkenal hingga saat ini. Ruhana Kuddus adalah tokoh jurnalistik kritis yang melawan penjajahan melalui penyadaran berbangsa. Dan satu tokoh yang melakukan perlawanan terhadap Belanda dari generasi yang lebih awal adalah Siti Manggopoh yang menentang kebijakan sistem pajak Belanda karena bertentangan dengan hukum adat terkait tanah-tanah adat. Perlawanannya memuncak dengan meletusnya Perang Belasting (Pajak) pada tahun 1908.

Suatu bangsa akan kokoh berdiri jika mereka mengenali, menghormati dan meneladani para tokoh sejarahnya dan menjadikan perjuangannya sebagai visi pembangunan di masa depan. Kita harus mengangkat peran strategis tokoh-tokoh perempuan Minang yang selama ini terabaikan agar generasi muda mengenali dan menjadikan perjuangan mereka sebagai visi dalam kehidupan perempuan generasi muda. Secara global kita sekarang juga berhadapan dengan gerakan puritanisme trans-nasional yang menisbikan pentingnya sejarah lokal dan nasional serta mengabaikan kenyataan peran perempuan di ruang publik baik di masa lampau maupun masa sekarang.
Dalam tulisan ini saya menghadirkan secara bersambung sepak terjang para perempuan pelopor dari Sumatera Barat untuk menunjukkan perjuangan perempuan yang memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi masyarakat dan adat Minang. Saya ingin memperlihatkan kepeloporan dan kepemimpinan perempuan-perempuan Minang bagi Indonesia. Empat tokoh pergerakan kemerdekaan perempuan dari Sumatera Barat tersebut adalah tokoh-tokoh teladan yang harus kita jadikan panutan dan sekaligus visi bagi pembangunan perempuan Minang.
Hajjah Rangkayo (H.R.) Rasuna Said berasal dari keluarga terpandang Minang. Dia adalah anak seorang saudagar yang secara adat dan politik sebetulnya tak terlalu sulit untuk mendapatkan keistimewaan dari pemerintah Jajahan. Di Jawa gelar itu sepadan dengan panggilan Raden Mas, yang artinya adalah anak orang terpandang dan kaya.
Di Jakarta H.R. Rasuna Said menjadi nama jalan utama yang menghubungkan wilayah elit Menteng dengan Kebayoran. Di sepanjang jalan itu terdapat kantor-kantor perwakilan kedutaan Besar negara-negara sahabat. Di sebelah kiri jalan dari arah Kebayoran terdapat pusat perdagangan, perkantoran, mall serta hotel-hotel mewah atau disebut Mega Kuningan. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang tinggal, atau berkantor atau melintasi jalan itu, seberapa jauh mereka tahu bahwa H.R. Rasuna Said adalah perempuan pejuang kemerdekaan melalui pendidikan dan perjuangan politik. Saya tidak yakin banyak yang tahu.

Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910. Beliau wafat di usia relatif muda, 55 tahun (2 November 1965) dan dikebumikan di TMP Kalibata sebagai pengakuan atas kepahlawananya. Jejak langkahnya dalam membangun pondasi bagi kemajuan perempuan Minang sangat monumental.
Rasuna hidup sezaman dengan tokoh pendidikan perempuan yang sama pentingnya yaitu Rahmah El Yunisyah. Setelah menempuh pendidikan di tingkat dasar Rasuna melanjutkan sekolah dan menjadi satu-satunya murid perempuan di pesantren As-Rasyidiyah yang didirikan Angku Daud Rasyidi. Pesantren ini merupakan salah satu lembaga pendidikan kaum pembaharu Kaum Muda yang melakukan pembaharuan-pembaharuan dan mengubah metode pendidikan dari bentuk surau ke madrasah melalui perubahan kurikulum dan metode belajar. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikannya di Diniyah Putri Padang Panjang, dan bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah yang kelak juga dikenal sebagai tokoh pendidikan bagi perempuan. Selanjutnya ia berguru kepada Haji Rasul atau Haji Karim Amarullah, Ayahanda Buya HAMKA dan dari sanalah bakat menulisnya muncul.
Semula ia memilih dunia pendidikan bagi perempuan sebagai arena perjuangannya. Ia mengajar di berbagai lembaga pendidikan dan menyelenggarakan Kursus (politik) Putri. Namun cara itu dinilainya terlalu lambat untuk membangun kesadaran tentang kolonialisme. Karenanya Rasuna kemudian bergerak di dunia politik praktis dan media. Tahun 1930 bersama sejumlah kaum reformis dari Perguruan Thawalib dia ikut mendirikan sebuah organisasi massa dengan nama “Sumatera Thawalib”. Lalu bersama-sama sebagian dari tokoh Thawalib mereka mendirikan PERMI atau Partai Muslimin Indonesia.
Di bidang jurnalistik ia mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sambil mengkritisi tradisi yang membatasi gerak kaum perempuan. Tahun 1935 Rasuna memimpin majalah mingguan “Raya” yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai salah satu tonggak perlawanan Sumatera Barat kepada Belanda. Sepak terjangnya tercium oleh para intel Belanda yang lalu melakukan sensor terhadap tulisan-tulisannya. Rasuna merasa kebebasannya untuk bersuara dibatasi dan kecewa kepada PERMI yang membiarkan polisi Rahasia Belanda mempersempit ruang geraknya.
Karenanya tahun 1937 ia pindah ke Medan dan bergabung dengan Majalah Mingguan “Menara Poetri”. Di sana ia mendapatkan kebebasan penuh. Ia menjadi penanggung jawab sebuah rubrik khusus dengan tajuk “ Pojok”. Dengan sangat taktis ia menulis secara rutin dalam rubrik Pojok itu tentang tema-tema perempuan untuk membangkitkan kesadaran anti kolonial. Kadang-kadang ia menggunakan nama samaran Selaguri untuk mempertahankan kebebasannnya dalam bersuara. Sayang “Menara Poetri” harus tutup karena soal finasial. Saat itu media-media hanya bisa hidup dari iuran pembacanya. Dan pembaca “Menara Poetri” hanya sebagain kecil yang membayar uang langganan.

Setelah kemerdekaan H.R. Rasuna Said aktif di dunia politik dan menjadi anggota parlemen hingga akhir hayatnya tahun 1965. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

*Lahir di Padang 1964, Kandidat Doktor – UI, S2 Perempuan & Pembangunan, Den Haag Belanda, S1 Hukum, Universitas Pancasila. Anggota Delegasi RI – MDGs sidang Tahunan PBB, dll.

(Disusun dari berbagai sumber; Wikipedia, diunggah 14 Nvember 2019, Jajat Burhanuddn, “Ulama Perempuan Indonesia”, PPIM Jakarta, 2005, M. Nur (ed) “Peran Kaum Mudo dalam Pembaruan di Minagkabau tahun 1803-1944, BPSNT Press, Padang, 2010) (Bambang )