TUGAS UTAMA Seorang Pemimpin, Menetapkan Visi Yang Jelas Dan Mudah Dimengerti Rakyat.

Oleh: Dhedy Rochaedi Razak

Busurnews. Con, JAKARTA –TUGAS UTAMA, seorang pemimpin ialah menetapkan visi yang jelas dan mudah dimengerti rakyat.

Setelah itu pemimpin harus mampu mengarahkan rakyat mencapai tujuan besar yang ingin diraih.

Terakhir memotivasi seluruh rakyat untuk sama-sama berbuat yang terbaik demi tercapainya tujuan besar bangsa ini.

Dalam pidato yang disampaikan begitu meyakinkan, Presiden menekankan tentang akan dilanjutkannya pembangunan infrastruktur.

Bahkan kali ini pembangunan infrastruktur akan dikaitkan dengan pusat-pusat produksi agar manfaatnya bisa semakin maksimal kita rasakan.

KEDUA, Presiden akan memacu peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Tidak hanya pendidikan yang berorientasi pada kompetensi yang akan difokuskan, tetapi juga kesehatan masyarakat khususnya bagi calon-calon pemimpin bangsa di masa mendatang akan diprioritaskan.

KETIGA, Presiden menekan niatnya untuk meningkatkan arus investasi.

Ia bahkan mengancam akan mengganti dan bahkan membubarkan lembaga yang menghambat arus investasi karena itu hanya akan mengurangi kesempatan rakyat untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

KEEMPAT yang menjadi perhatian Presiden ialah reformasi birokrasi.

Indonesia membutuhkan birokrasi yang adaptif, produktif, dan inovatif untuk menjawab perubahan zaman yang begitu cepat.

Tidak mungkin Indonesia akan bisa menjadi negara maju apabila manusianya tidak mau berubah dan tidak mempunyai kemauan kuat untuk melakukan perubahan.

Terakhir, Presiden menekankan pentingnya penggunaan anggaran yang tepat sasaran.

Anggaran pendapatan dan belanja negara tidak boleh sampai salah alokasinya dan harus sepenuh-penuhnya dipergunakan untuk kepentingan rakyat.

Tantangan selanjutnya, bagaimana kita semua mau menjalankan visi yang sudah ditetapkan Presiden.

–. Pemimpin Afrika Selatan
Nelson Mandela

mengingatkan, visi tanpa aksi hanyalah sebuah mimpi.

Aksi tanpa visi hanya akan membuat kita kehilangan arah.

Hanya visi yang diikuti dengan aksi akan membawa perubahan besar.

Dibutuhkan keberanian untuk melakukan perubahan besar.

Ini memang tidak mudah karena kita harus menghadapi mereka yang sudah berada dalam zona kenyamanan.

Kelompok ini tidak mau terganggu dengan hal-hal yang dikhawatirkan bisa merusak kenyamanan yang sudah mereka rasakan.

Jumlah mereka pun biasanya besar dan mempunyai akses untuk menyampaikan kekhawatiran itu dengan menakut-nakuti orang lain.

Di era kebebasan seperti sekarang, mereka mampu menyebarkan ketakutan itu dengan berita-berita bohong alias hoaks.

Lihatlah bagaimana produksi hoaks yang begitu masif untuk mengatakan mubazirnya pembangunan infrastruktur yang kita lakukan empat tahun terakhir ini.

Kita berharap Presiden tegar dengan sikapnya.

Visi yang sudah dicanangkan jangan goyah karena pandangan-pandangan negatif yang disebarkan.

Presiden justru harus terus-menerus menyuarakan visi itu agar menjadi keyakinan seluruh warga bangsa.

Bahkan, Presiden harus terus mengajak masyarakat untuk berbuat yang terbaik.

Seperti disampaikan wakil presiden terpilih, Ma’ruf Amin, bahwa setiap kita harus mau memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Kalaupun hanya bisa berkontribusi sebutir pasir, jadilah sebutir pasir yang menguatkan.

Kalaupun hanya sesendok semen, jadilah sesendok semen yang menguatkan.

Kalaupun hanya sebuah batu, jadilah batu yang bisa menguatkan.

Kebersamaan untuk meraih cita-cita bangsa itulah yang harus digerakkan.

Tujuan besar yang ingin kita capai harus terus-menerus kita upayakan untuk bisa divisualkan agar tidak abstrak.

Tidak boleh ada satu pun di antara kita yang hanya bertopang tangan dan menunggu hasil.

Hanya dengan KERJA KERAS dan KERJA CERDAS kita akan bisa Membangun Indonesia yang lebih Makmur dan Menyejahterakan.

(Rn)