Tensi Masyarakat Pascapemilu Semakin Meningkat.

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, Jakarta –

Tensi masyarakat pascapemilu semakin meningkat.

Di beberapa daerah sudah mulai terjadi gesekan yang dikhawatirkan akan menjadi konflik terbuka.

Seruan agar tetap merawat pemilu damai semakin keras digaungkan.

Namun, beberapa isu SARA sudah mulai bermunculan yang sangat potensial mengoyak keharmonisan masyarakat.

Sementara itu, setelah pascapemilu, justru kedua belah pihak malah cenderung ‘gaspol’, khususnya terkait dengan isu masalah kecurangan dalam penghitungan suara.

Dalam penghitungan suara pemilu sampai hari ini masih terlihat bahwa Jokowi mengungguli saingannya.

Sang petahana terlihat sangat superior.

Namun, kalau ditinjau kembali kegalauan di tengah-tengah masyarakat yang menganggap pelaksanaan pemilu dilakukan dengan kurang mengindahkan fairness, bagi para followers-nya, secara de facto Prabowo dianggap menang.

Sesungguhnya, menang-kalah masih harus melalui jalan panjang dan akan diumumkan pada 22 Mei 2019.

PENDIDIKAN POLITIK PUBLIK

–. Melalui pemilu, dilakukanlah pendewasaan demokrasi berupa pendidikan politik secara nonformal kepada publik dengan melalui banyak media.

Kampanye damai yang diikuti dengan pelaksanaan pemilu damai merupakan sebagian dari pendidikan politik tersebut.

Pemberian informasi melalui berbagai pengumuman dan media massa.

Di tingkat komunitas dikirim brosur tentang teknis penyelenggaraan pemilu.

Penyelenggaraan berbagai acara dan program di televisi.

Kunjungan sejumlah tokoh politik ke berbagai lapisan masyarakat.

Temu muka dengan para kandidat.

Tentunya yang paling menyedot perhatian ialah debat capres dan cawapres.

Dalam pendidikan politik ini ada dua aspek utama publik yang dikembangkan, yakni pengetahuan dan perubahan perilaku.

Tujuan akhirnya tentunya pendewasaan politik publik.

Dengan meningkatnya pengetahuan, orang mempunyai kemampuan kognitif untuk memilih dan ikut menentukan masa depan bangsa.

Hal lainnya, melalui pendidikan politik juga berkembang kemampuan afirmatif publik dengan lebih mengedepankan sikap-sikap yang santun:

Kesatria
(siap kalah siap menang),

Fairness
(tidak curang), dan

Mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan semua golongan.

Sikap santun dimunculkan melalui berbahasa dan gestur/gerak-gerik tubuh (body language).

Sikap santun berbahasa akan mendekatkan jarak sosial antara satu orang dan orang lainnya.

Melalui santun berbahasa disampaikanlah visi-misi dan berbagai rencana program yang akan dilakukan bila kelak diberi kepercayaan untuk memegang kekuasaan.

Gestur yang bersahabat dan santun merupakan sisi afektif yang mendekatkan jarak sosial dan memudahkan kerja sama ke depannya sehingga mestinya pesta demokrasi berupa pemilu ini tidak menimbulkan ketegangan, pertengkaran, permusuhan, apalagi terpecah belahnya bangsa.

Proses dan Akhir Pemilu Damai mestinya dikedepankan.

(Rn)