PERILAKU MUFLIS

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —

PERILAKU MUFLIS

–. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa banyak orang yang mengandalkan amalan ibadah salat, puasa, dan zakatnya, tetapi semasa hidupnya dia terlalu suka mencaci, mengolok-olok, bahkan (sembarangan) menuduh orang lain.

Maka, orang tersebut akan mengalami kepailitan (bangkrut) ketika ditimbang di mizan saat di padang Mahsyar.

Orang tersebut dinamakan ‘MUFLIS’ dan akan menempati neraka sebagai balasannya.

Dengan segudang amalan ibadahnya di satu sisi, tapi kesukaan mengolok-olok, mencaci maki, dan sembarang menuduh di sisi lain, sehingga berbagai amalan ibadahnya tadi habis terbakar untuk menutupi perilaku buruknya.

Dalam masa kampanye hingga pascapemilu tahun ini, kesantunan berbahasa cenderung merendah.

Penggunaan istilah cebong, kampret, genderuwo, sontoloyo, setan gundul, dan lain-lain, juga bertebarannya hoaks di berbagai media sosial merupakan indikatornya.

Padahal, kesantunan berbahasa merupakan prinsip dasar dalam budaya-budaya di Indonesia.

Bila masa kampanye dan pelaksanaan pemilu benar-benar akan ditujukan sebagai pendidikan politik publik, seyogianya harus disertai dengan mengembangkan perilaku kontramuflis yang berupa kesantunan berbahasa dan kesantunan bersikap bertindak.

Persinggungan dengan isu-isu SARA seyogianya sebisa mungkin dihindari.

Jika memang terlihat indikasi adanya kecurangan seyogianya diselesaikan secara santun melalui mekanisme yang sudah diatur.

Pendidikan politik publik ini memang banyak dilakukan secara nonformal sehingga peran tokoh-tokoh masyarakat sangat besar.

Melalui mereka, kita kembangkan pemilu damai, kita tingkatkan pengetahuan, dan afirmatif publik sehingga terjadi pendewasan demokrasi.

Di bangku sekolah SMA maupun perguruan tinggi, di pesantren, seminari, Pramuka, dan berbagai ormas, upaya pendidikan politik publik ini bisa dikembangkan agar mereka mendukung penyelenggaraan pemilu damai yang mendewasakan demokrasi publik.

Semuanya dimulai dengan mengembangkan perilaku KONTRAMUFLIS di tengah-tengah masyarakat.

(Rn)