POLITIK TANPA MAHKOTA

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —

POLITIK TANPA MAHKOTA

sosok yang sering disebut-sebut sebagai soko guru manusia pergerakan.

Heru Cokro atau Ratu Adil ialah gelar yang dinisbahkan kepada HOS Tjokroaminoto.

Tan Malaka menyebutnya
‘Raja tanpa Mahkota’.

Orang Belanda menggelarinya
De Ongekroonde Koning van Java
(Raja Jawa yang tak Dinobatkan).

Dari rumah tinggalnya di Gang Peneleh, Surabaya, yang disebut Soekarno
‘dapur nasionalisme’,

lahir murid-muridnya yang cemerlang dengan kecenderungan ideologi berbeda, tetapi satu sama lain saling menguatkan dengan tujuan utama yang sama, yaitu mempercepat terusirnya Hindia Belanda dari Bumi Pertiwi.

Sebut saja Bung Karno
(nasionalisme-sosialisme)
yang kemudian menjadi menantuya,

Musso,
Alimin,
Tan,
Semaoen (komunisme), dan
Kartosoewirjo (islamisme).

Mungkin benar apa yang dibilang filsuf Jerman, Nietzsche, bahwa guru yang berhasil ketika berbeda dengan muridnya.

Dalam kasus ini benar-benar diterapkan Tjokro.

Bukan hanya berbeda, kadang para muridnya itu berseberangan yang tidak bisa lagi didekatkan, malah menjadi penentang paling lantang gurunya, seperti dilakukan kelompok kiri.

Namun, sang guru, sebagaimana dalam pengakuan Tan Malaka, selalu lapang dan membuka pintu kepada siapa pun yang datang.

Senantiasa menampakkan air muka gembira tatkala menyambut tetamunya yang hendak mendiskusikan masa depan negerinya.

Takashi Shiraishi, menyebut jalan perjuangan Tjokro sebagai standar pergerakan.

Tjokro tampil di tengah rimba gelap politik represif kolonial menyerukan kesadaran berbangsa lewat cara-cara terukur dan rasional.

Tidak lagi mengokang senjata, tapi mendahulukan nalar;
Bukan lagi menajamkan bambu runcing, melainkan melakukan rapat akbar yang dihadiri ribuan massa dan kemudian tampil ke muka berpidato mengobarkan semangat
‘nasionalisme’.

Bukan lagi mencabut pedang berkilat, tapi dengan piawai memanfaatkan pamflet dan menuliskan gagasan-gagasan besarnya tentang bangsa yang diimpikannya untuk kemudian ditularkan kepada massa, seperti disebarkannya lewat media Oetoesan Hindia, Soeloeh Hoekoem, Fadjar Asia, Al-Djihad, Al-Islam, Koran Matahari, Pantjaran Warna, Hindia Serikat, dan Bendera Islam.

Tjokro dengan terampil membangun kader-kader militan lewat SI dan tidak pernah lelah melakukan konsolidasi mengelilingi berbagai dearah menumbuhkan sikap politik dan jiwa kritis.

Seandainya Budi Utomo yang lahir lebih awal tampil ke pentas politik dengan wataknya yang elitis dan Jawa-sentris, Sarekat Islam (SI) digenggaman Tjokro menjadi sebuah serikat populis.

Petani, buruh, pedagang, dan kaum jelata dirangkul serta tentu mereka merasa aspirasinya tersalurkan.

Menjadi wajar kalau Tjokro dinobatkannya sebagai ratu adil yang meniupkan angin harapan akan hadirnya kehidupan yang lebih baik di masa akan datang walaupun dirinya sendiri menampik penamaan itu,

‘meskipun jiwa kita penuh harapan besar, tetapi sudah semestinya menjauhi mimpi kedatangan ratu adil, atau kejadian yang bukan-bukan’.

Dengan suara menggelegar, fasih, dan tertib, massa seperti terhipnosis masuk alur pidato yang disampaikan Tjokro.

Mereka seperti menemukan saluran politiknya pada sosok Tjokro yang dengan keberanian intens menohok mempertanyakan kelangsungan pemerintahan Hindia Belanda.

Kata Amelz dalam Tjokroaminoto:
Hidup dan Perjuangannya, pidatonya membawa khalayak menjadi gefascineerd, mabuk tergila-gila, atau dalam penggambaran Takashi Shiraishi,

‘dikaruniai suara bariton yang mantap sehingga dapat didengar ribuan pendengarnya tanpa pengeras suara’.

Coba kita simak sebagaian penggambarannya;

‘orang semakin lama semakin merasakan bahwa tidak pantas lagi Hindia diperintah Belanda.
Bagaikan tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya.
Tidak pada tempatnya menganggap Hindia sebagai sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya.
Tidaklah pantas untuk menganggap negeri ini sebagai tempat ke mana orang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan dan sekarang sudah tidak pada tempatnya lagi bahwa penduduknya, terutama anak negerinya sendiri, tidak mempunyai hak turut berbicara dalam soal-soal pemerintahan yang mengantar nasib mereka’.

(Rn)