MATINYA EMPATI

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —

MATINYA EMPATI

–. Pelaku Perundungan memiliki kekurangan dalam kemampuan berempati seperti ketidakmampuan untuk menghargai emosional dan perasaan orang lain sehingga tidak seharusnya perilaku perundungan dipandang sebagai bagian yang normal dalam kehidupan sosial.

Argiati (2010) yang meneliti perilaku perundungan pada siswa SMA di Yogyakarta menemukan sebagian besar siswa berusaha untuk membalas perlakuan pelaku perundungan sebanyak 49,56%, memaklumi tindakan pelaku perundungan 35,4% dan diam karena merasa tidak berdaya 30,94%.

Sebagian anak melarikan diri dari pelaku 16,81% dan anak yang menuruti keinginan perilaku perundungan karena takut diperlakukan lebih buruk sebanyak 5,31%.

Keasyikan remaja bergawai ria dapat mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.

Ini berarti, dengan gawai mereka bisa saling menyapa siapa saja tanpa batas jarak dan waktu.

Namun sebaliknya, keasyikan berselancar di dunia maya dapat pula menjauhkan remaja dari kesempatan melakukan interaksi sosial dengan intens bersama teman-teman di dekatnya.

Pengalaman virtual secara berlebihan memang dapat menggerus rasa empati yang biasanya ditumbuhkan dari aneka interaksi langsung dengan teman sebayanya.

Empati dapat memunculkan perasaan kasihan kepada korban.

Perasan ikut merasakan apa yang dirasakan korban ini mampu menghalangi perundungan.

Konsep empati merujuk pada kesadaran individu untuk dapat berpikir, merasakan, dan mengerti keadaan orang lain dilihat dari perspektif orang tersebut sehingga individu tahu dan benar-benar dapat merasakan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang itu.

Kemampuan individu untuk dapat ‘ikut’ merasakan apa yang dirasakan korban dapat menjadi kontrol diri bagi subjek untuk tidak melakukan perundungan.

Orang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan dua respons yang tidak kompatibel secara bersamaan.

Misalnya seseorang yang memiliki perasaan welas asih tidak mungkin memiliki perasaan untuk menyakiti orang lain.

Orang seperti ini lebih terhindar dari perilaku perisakan.

Penelitian menunjukkan, orang yang memiliki perasaan empati yang tinggi cenderung rendah perilaku agresifnya.

Dengan demikian, pelatihan yang diberikan kepada remaja untuk memperkuat rasa empati diharapkan dapat menurunkan angka perundungan.

Pelatihan empati di sini sudah barang tentu tidak sebatas pada aspek pengetahuan mengenai pentingnya berperilaku empatik, tetapi juga harus menyentuh aspek afektif peserta didik.

Dimensi kognitif dari empati memang penting, tetapi yang lebih penting lagi ialah dimensi afektifnya.

Dimensi afektif inilah yang lebih berperan dalam mencegah tindak perundungan.

Ini berarti pendidik perlu lebih memberikan pengalaman belajar empatik yang memberi ruang berkembangnya rasa empati kepada sesama.

TANGGUNG JAWAB BERSAMA

–. Sebenarnyalah upaya dalam mengatasi dan mencegah munculnya masalah perundungan memerlukan kebijakan yang bersifat menyeluruh.

Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan seluruh komponen pendikan mulai dari guru, siswa, kepala sekolah, orangtua, dan pemangku kepentingan lain untuk dapat menyadarkan seluruh komponen pendidikan tentang bahaya dari perundungan bagi kesehatan psikologis, baik korban maupun pelaku.

Kebijakan tersebut dapat berupa pembuatan program penanggulangan perilaku perundungan di sekolah di antaranya dengan peningkatan pengawasan pada siswa, pemberian psikoedukasi, penyuluhan, brainstroming dan diskusi, kegiatan menggunakan lembar kerja, membaca buku cerita yang berhubungan dengan perundungan, story telling, kolase, poster mengenai pencegahan perundungan, bermain drama, berbagi cerita dengan orangtua di rumah, menulis puisi, menyanyikan lagu antiperundungan dengan lirik yang sudah diubah dari lagu populer, bermain teater boneka, dan melakukan pelatihan atau workshop bertemakan stop bullying.

(Rn)