Bila Mengacu Pada Pilpres 2014, Jokowi Hanya Memiliki Satu Sumber Kekuasaan, Yakni Jabatan Selaku Gubernur DKI Jakarta

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Bila mengacu pada Pilpres 2014, Jokowi hanya memiliki satu sumber kekuasaan, yakni jabatan selaku Gubernur DKI Jakarta.

Dia bukan ketua umum maupun pendiri parpol.

Jokowi juga belum masuk jajaran pengusaha terkaya di Indonesia.

Dan yang pasti, dia bukanlah bagian dari kekuatan bersenjata.

Akan tetapi, dia bisa mengajak sejumlah ketua umum partai politik (parpol) untuk memperkuat Koalisi Indonesia Hebat.

SEPERTI,
Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri,
Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh,
Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar,
Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto, dan
Ketua Umum DPP PKPI Sutiyoso.

–. Pada 2014, Jokowi juga berhadapan dengan Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa.

Prabowo adalah ketua umum dan pendiri Partai Gerindra, sedangkan Hatta adalah Ketua Umum DPP PAN.

Sehingga, otomatis kedua parpol itu memperkuat barisan pendukung.

Selain itu, ada PPP, PKS, PBB, dan Partai Golkar.

Walaupun, seiring waktu berjalan, sejumlah parpol pun beralih.

Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate
– yang menjadi tim ahli tim kampanye pasangan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014 –

Sukardi Rinakit menggambarkan sejumlah karakteristik kekuatan sosok Jokowi.

Seperti, gaya blusukan, dukungan jutaan ‘pasukan yang tidak terlihat’ yang bergerak di dunia maya, hingga dukungan para mosesin.

Sukardi mengutip istilah mosesin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia era 1978-1983 Daoed Joesoef, dari kisah Nabi Musa yang mengantarkan penerusnya ke tanah perjanjian.

Tetapi, dirinya sendiri tidak memasuki wilayah itu untuk menjadi pemimpin.

Tugas sejarah para mosesin adalah mengantar pemimpin yang baik demi memandu bangsanya.

Rinakit, dalam tulisannya yang berjudul Sopo Sing Gelem Tak Dongengi
(Siapa yang Mau Saya Dongengi), 2014,

Menilai kekuatan Jokowi adalah secara naluriah mengadopsi pendekatan modern.

Seperti, tipping point yang dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell.

Jokowi, secara insting, piawai menciptakan virus yang menyebar menjadi dongeng.

Semasa kampanye, Jokowi kerap memerintahkan memperlambat laju kendaraan untuk bisa menyebarkan kaos kepada orang-orang di pinggir jalan.

Dan orang-orang yang menerima kaos itu akan mengisahkan kejadian itu dan menekankan frasa

‘menerima langsung dari tangan Jokowi’.

(Rn)