Biarlah Aparat Kepolisian Melaksanakan Tugasnya Secara Profesional.

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —

Artikel ini tentu tidak dalam kapasitas menghakimi informasi mana yang autentik.

Biarlah aparat kepolisian melaksanakan tugasnya secara profesional.

Dalam konteks ini, penulis justru lebih tertarik untuk melihat fenomena gunung es yang terjadi di balik berita.

Kasus Audrey sebenarnya semacam lonceng peringatan bagi semua pemangku kepentingan pendidikan terhadap maraknya kasus perundungan di kalangan remaja.

Jika di masa lalu kasus perundungan lebih bersifat verbal dan fisik, kini yang lebih sering terjadi adalah cyber bullying.

Perundungan yang dilakukan di dunia maya.

CYBER BULLYING

–. Internet sebenarnya merupakan platform baru dalam interaksi sosial remaja dengan teman sebayanya, yang dapat memberi kesempatan untuk tetap terhubung dengan teman-temannya meskipun tidak saling bertemu secara fisik. Namun, semakin meluasnya penggunaan teknologi informasi ini telah mengakibatkan hubungan interpersonal menjadi lebih kompleks. Terdapat perubahan bentuk komunikasi remaja, dari interaksi tatap muka menjadi interaksi virtual.

Perubahan demikian, meskipun positif dalam memudahkan interaksi antarteman yang terpisah jarak geografis, ternyata juga menyertakan sisi negatif, yaitu melakukan perundungan siber.

Perundungan siber, sering pula disebut perisakan virtual, ialah intimidasi yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan, ancaman, atau paksaan yang ditujukan kepada orang lain di dunia maya.

Tindakan demikian dapat berupa pelecehan lisan, seperti ancaman dan makian, atau berupa pelecehan yang sengaja diarahkan kepada korban tertentu.

Perundungan siber merupakan bentuk modern dari perundungan karena dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.

Dalam beberapa kasus, dampak negatif perundungan siber ini lebih mengerikan.

Tidak seperti perundungan konvensional yang terjadi di sekolah, ketika korban dapat segera kembali menemukan zona aman saat pulang ke rumah, pada perundungan siber korban dapat terus-menerus menerima chat dari pelaku di mana pun korban berada.

Ragam dan frekuensi tindakan yang masuk kategori perundungan siber semakin meningkat akhir-akhir ini.

Setiap pengguna internet dapat dengan mudah memublikasikan emosi dan pikirannya di internet, termasuk di dalamnya emosi negatif yang ditujukan menyakiti orang lain.

Memang, keadaan dapat menjadi semakin buruk bila internet dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab baik dalam penipuan, memfitnah, mengancam, maupun berbagai perilaku merugikan yang dimasukkan ke kategori perundungan siber.

Pada praktiknya, perundungan siber dilakukan dengan berbagai cara seperti menghina orang lain melalui pesan singkat, mengirim e-mail berisi ancaman, bikin komentar kasar pada orang lain, menyebarkan rumor memalukan tentang seseorang di laman media sosial, sengaja tidak memasukkan salah satu teman di chatting group, atau mengubah profil orang lain menjadi sesuatu yang tidak pantas dengan cara meretas kata sandi akun yang bersangkutan, dll.

Penelitian Sticca, Ruggieri, Alsaker, dan Perren (2013) menunjukkan, pada komunikasi dalam jejaring (daring/online), frekuensi menggunakan internet dan perilaku antisosial, seperti perundungan tradisional dan perilaku melanggar aturan, berkorelasi dengan perundungan siber.

Dengan kata lain, ketiga hal tersebut merupakan faktor risiko longitudinal pelaku perundungan siber.

Pelaku perundungan siber dapat disifati sebagai seseorang yang mampu menggunakan perangkat elektronik, dan memanfaatkan teknologi itu untuk melecehkan orang lain.

(Rn)