ANTARA HUMAN ERROR & HUMAN ORDER

Oleh : Sandri Rumanama.

Busurnews com, Kasus kesalahan inputing yang menuai banyak protes dari semua elements masyarakat belum juga berakhir polemiknya, namun KPU sudah memberikan keterangan dan pengakuan bahwa ada human error sehingga hal itu bisa terjadi.

Tetapi netizen tidak puas atapun tak terima alasan & pengakuan KPU itu sebagai suatu alasan yang bisa dimaafkan, karena menurut mereka ada yang di rugikan dalam proses dan persoalan ini.

Belum lagi KPU yang terkesan membisu dan malah berdalih melindungi diri dengan memberi sinyalment perang ditandai dengan adanya laporan polisi, atas penyebar informasi-informasi yang menurut KPU sangat merugikan atau menyudutkan mereka.

Masyarakat pun kembali bersiul dengan berbagai suara, berharap agar KPU fokus memperbaiki kinerja mereka, harus independent & tak ada pihak yang mesti dirugikan dalam tahapan perekapitulasian yang sedang berjalan.

Polemik yang benar-benar keruh ibarat kolam dimana kecebong bisa berkembang biak, bahkan respon masyarakat bersgam hingga bertanya soal alasan KPU bahwa kesalahan itu akibat kelelahan (human eror), namun dalam sebuah kompetisi wasit harus fit & mesti energik hingga pertandingan itu usai tanpa harus mengenal alasan sebab, alasan seorang wasit dianggap sebagai bentuk ketidakbecusan dalam memimpin jalanya suatu kompetisi.

Olehnya itu masyarakat berharap lembaha lembaga etik baik bersifat administratif & pengawasan (DKPP & BAWASLU) harus memberikan sanksi secara etik terhadap oknum pegawai (operator) KPU yang dianggap melanggar etika demokrasi tersebut, agar terlihat elegan & etis, sehingga asumsi publik soal human order tidak lagi membias.

Selain itu mereka berharap agar polisi segara sikap & sigap menyikapi persoalan ini, mereka berharap ada sanksi pidana kepada siapa saja yang sengaja memihak kepada pasangan tertentu.