Menguatkan Fondasi Peradaban

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busirnews.cpm, JAKARTA —

Menguatkan Fondasi Peradaban

–. Berita Perundungan yang dialami A, seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimatan Barat, ialah peristiwa menyedihkan dan patut disesali.

Bagaimana tidak, usia yang harusnya diisi dengan segudang prestasi, dinodai perilaku tak bermoral yang mengakibatkan jatuhnya korban.

Perundungan yang semakin sering terjadi dengan beragam motifnya ialah aib besar dalam dunia pendidikan.

Kasus perundungan bukannya baru kali ini terjadi di kalangan para siswa.

Namun, kasus perundungan yang menimpa siswi tersebut mampu menyedot perhatian khalayak dan mengusik nurani.

Seorang anak perempuan dilecehkan dan dianiaya 12 siswi lainnya hanya karena alasan yang sepele.

Akibat yang diterima korban sangatlah berat.

Tak sekedar luka fisik, tetapi juga meninggalkan trauma psikis.

Yang lebih disayangkan ialah tiadanya rasa takut dan bersalah pada para pelaku seusai melakukan aksi asusilanya tersebut.

Seolah hal yang mereka lakukan ialah perbuatan biasa dan lazim di mata masyarakat.

AKAR MASALAH

–. Hampir semua kasus perundungan dilakukan mereka yang juga punya riwayat kekerasan sebelumnya.

Dalam teori pembelajaran sosial, Bandura (psikolog) menyatakan, setiap anak hanya akan melakukan suatu hal dari 2 cara;

PERTAMA, pembelajaran instrumental.

Artinya, ia belajar melakukan sesuatu bermula dari coba-coba, jika tidak ada efek buruk bagi dirinya, ia akan terus melakukannya.

Pelaku perundungan akan mencoba sekali aksinya, jika tak ada hukuman yang ia dapat, dia pun akan melakukannya lagi, hingga terus-menerus.

KEDUA, pembelajaran observasi. Artinya, anak belajar dari apa yang sering ia lihat.

Anak-anak yang sering terdedah kekerasan, secara otomatis akan melakukan kekerasan juga, baik verbal maupun fisik.

Anak-anak bermasalah, biasanya berasal dari keluarga disharmoni.

Dengan kata lain, pendidikan keluarga menjadi fondasi utama setiap anak.

Bahkan, dalam ungkapan peribahasa buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, menyiratkan bahwa perilaku anak akan mirip dengan perilaku orangtuanya.

Dari keluargalah setiap anak pertama kali belajar.

Melihat apa yang dilakukan orangtua dan pengasuhnya serta mendengar apa yang dituturkan orang-orang terdekatnya.

Oleh karena itu, setiap anak ialah peniru, ia akan merekam semua tindak tanduk anggota keluarganya yang akan menjadi citra dirinya kelak.

Jika setiap kita tahu bahwa karakter ialah bagian terpenting yang harus ditanamkan kepada anak, orangtua wajib menjadi pendidik utama untuk anaknya.

Banyak orangtua yang memercayakan 100% pendidikan anaknya pada lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, sehingga memilih untuk tak terlibat lagi dalam mendidik anaknya.

Orangtua hanya memenuhi kebutuhan lahiriah;
Membelikan barang yang dibutuhkan anak, memilihkan sekolah paling bergengsi, tetapi lupa meluapkan kasih sayangnya dalam bentuk yang benar.

Banyak juga orangtua yang tak punya kedekatan emosional dengan anaknya sehingga tak pernah tahu kegiatan apa yang kerap anaknya lakukan, dengan siapa ia bergaul, termasuk masalah apa yang tengah dihadapi anaknya.

Kondisi seperti itulah yang menjadi peluang besar terhadap terpaparnya anak pada hal-hal negatif.

Ruang kosong dalam diri anak yang tak diisi orangtuanya akan dengan mudah diisi pergaulan yang salah, narkoba, pornografi, dan perbuatan-perbuatan asusila lainnya.

Anak-anak pelaku perundungan kerap melakukan kekerasan demi mencari pengakuan diri dari orang-orang di sekitarnya dan pelampiasan akan rasa sakit yang pernah ia alami sebelumnya.

(Rm)