Memutus Mata Rantai Kasus Perundungan

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —

Memutus Mata Rantai Kasus Perundungan.-

–. Kasus Perundungan terus terjadi dan semakin meningkat jumlahnya.

Perundungan menempati urutan keempat dalam kasus kekerasan pada anak.

Bahkan, kasus perundungan di Indonesia menempati peringkat teratas di ASEAN.

Jika kasus perundungan tidak ditangani serius, dapat menimbulkan efek yang sangat fatal, dari perilaku pelaku yang kian tak masuk akal hingga efek yang ditimbulkan pada si korban.

Di beberapa kasus yang pernah ditangani KPAI, pelaku bisa melakukan kekerasan hingga menghilangkan nyawa korban atau korban yang memutuskan untuk bunuh diri karena merasa tak sanggup menerima perlakuan si pelaku perundungan.

Perundungan hanya akan tetap terjadi jika orang-orang kehilangan rasa peduli, membiarkan pelaku melakukan tindakannya secara leluasa.

Lebih banyak pihak perlu dilibatkan untuk melawan perundungan.

Hal itu yang dilakukan Finlandia, dengan program antiperundungannya, Kiva.

Ini merupakan program antiperundungan berbasis sekolah yang secara aktif melibatkan siswa, guru, dan orangtua.

Prinsip yang diterapkan melalui Kiva ialah penanaman karakter dan norma agar anak tak melakukan atau membiarkan terjadinya intimidasi hingga kekerasan pada orang lain.

Program Kiva telah diteliti selama 20 tahun di berbagai sekolah di Finlandia dan terbukti sangat efektif menghentikan dan mencegah terjadinya perundungan.

Pelibatan orangtua akan sangat membantu sekolah dalam penanaman karakter siswa karena sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa pendidikan dalam keluarga menjadi kunci utama dalam penanaman karakter setiap anak.

–, Jika mau belajar dari apa yang telah dilakukan Finlandia, bukan tidak mungkin kita akan semakin jarang mendengar kasus perundungan hingga akhirnya tak lagi ada korban-korban berjatuhan seperti A tersebut.

Sekolah harus menjadi tempat yang benar-benar nyaman bagi setiap anak dan bermitra baik dengan para orangtua siswa untuk dapat memangkas habis akar penyebab terjadinya perundungan di tingkat pelajar.

Setiap rumah harus dikembalikan pula fungsinya sebagai tempat pendidikan utama bagi setiap anak, yakni orangtua berperan sebagai gurunya.

Mau tak mau orangtua harus total dalam mendampingi tumbuh kembang anak, mencukupi kebutuhan lahir maupun batinnya.

Dengan demikian, anak-anak tidak akan mudah dirusak hal-hal negatif dari lingkungan luar.

Setiap anak akan memiliki benteng yang sangat kuat jika jiwa mereka penuh dengan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya.

Dengan penguatan peran keluarga, diharapkan setiap generasi akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan dapat menjadi para pengukir peradaban yang mulia.

Bahwa setiap rumah ialah miniatur peradaban yang di dalamnya, setiap individu dapat mempersiapkan dirinya untuk peran yang lebih luas di masyarakat.

📍 Bangsa ini akan mampu mengukir namanya di peradaban manusia, jika setiap keluarga mampu menyiapkan setiap individu untuk menemukan peran peradabannya masing-masing.

(Rn)