TULUS & IKHLAS.

Oleh:Dhedi Rochaefi Razak

Busurnews. Com, JAKARTA —

TULUS & IKHLAS.

–. Dua kata yang memiliki makna sama.

Aku join lagu Menyimpan makna jernih, murni, dan bersih.

Beramal tulus dan ikhlas, berarti berbuat dengan tanpa bercampur dengan yang lain.

Ia bersih, murni, dan jernih semata karena Allah.

Tulus ikhlas menjadi penentu amal dan semua ibadah serta amal saleh kita diterima atau tidak.

“Dan tidaklah mereka diperintahkan sesuatu, melainkan untuk beribadah kepada Allah SWT dengan ikhlas …”
(QS al-Bayyinah: 5).

Tulus ikhlas tidaklah mudah.

Selalu ada setan yang masuk untuk mengotori kejernihan niat dan amal.

Menyelinap dengan terang, sebuah hasrat dunia yang memesona dan menggoda.

Andai kuat dari hasrat dunia yang selain Allah, siap-siap di sergap dengan riya;
Ingin dilihat, sum’ah;
Ingin didengar, ujub;
Bangga diri dengan merasa paling saleh, baik dan ikhlas.

Bahkan kita dihimpit takabur, sombong.

“Ya Tuhanku karena Engkau telah menakdirkan aku makhluk sesat maka aku akan menggoda (anak-cucu Adam) dengan keindahan dunia dan akan aku bawa mereka ke jalan yang sesat semuanya.

Kecuali hambahamba- Mu yang ikhlas di antara mereka.”
(QS al-Hijr: 39-40).

Yang paling tahu kita tulus dan ikhlas hanya Allah
(QS an-Najm [53]: 32).

Karena itu, serahkan seluruh penilaian hanya kepada Allah.

Tugas kita terus menjernihkan semangat dalam ibadah dan amal saleh.

Cerita dari Imam al-Ghazali ini sangat menginspirasi.

Ada seorang abid (ahli ibadah) yang dikenal sangat kuat ibadahnya.

Sampai satu hari seseorang berkabar tentang kemusyrikan yang masif.

Satu kampung menyembah pepohonan besar.

Murkalah sang abid ini.

Sebilah kapak pun ditentengnya.

Di tengah jalan ia dihalangi oleh iblis.
Namun, musuh abadi manusia itu kalah.

Hari kedua, pohon lain hendak ditebangnya.

Kali ini iblis menjerat rayuan.

“Aku akan menjamin hidup mu dengan meletakkan uang setiap hari di bawah bantalmu asalkan engkau tidak menebang pohon ini.”

Terjeratlah si abid.

Pohon kemusyrikan tetap berdiri tegak.

Si abid pun mendulang materi luar biasa.

Namun di hari ketiga, macet.

Iblis ingkar janji.

Di bawah bantalnya sama sekali tidak ditemukan uang.

Sang abid pun bergerak cepat.

Dalam amarah yang membuncah, didatangilah pohon kemusyrikan itu.

Saat kapak hendak diayunkan, si iblis datang dan mengajaknya duel ulang.

Sang abid kalah memalukan dan terhina.

“Kenapa engkau bisa mengalahkan aku?”

Dijawab tegas oleh si iblis,

“Keikhlasan telah sirna di hatimu.
Kamu datang dengan amarah karena uang yang di bawah bantal, bukan karena Tuhanmu.”

Wallahu . Rn)