RATU KALINYAMAT Pahlawan Poros Maritim Dunia Abad XV

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews. Com, JAKARTA —

RATU KALINYAMAT

Pahlawan Poros Maritim Dunia Abad XV

–. Implikasi nyata dari sebuah negara yang berkehendak menjadi ‘pemain’ kelas kawasan, terlebih kelas dunia, dengan visi Poros Maritim Dunia yang bermuara dari target capaian Nawacita dan dikumandangkan Presiden Joko Widodo sejak 2014, ialah harus terwujudnya pembangunan kekuatan politik dan militer yang bersifat outward looking.

Hal itu mencakup kemampuan ekonomi, diplomasi, serta pembangunan kekuatan tentara yang mampu dipersiapkan untuk menghadang dan menghampiri ancaman serta lawan jauh melampaui batas terluar negara.

Untuk mengoptimalkan pembangunan maritim di tingkat lokal, nasional, dan global dibutuhkan arah, orientasi, strategi, dan antisipasi pembangunan yang efektif.

Diperlukan segenap daya, upaya, keunggulan sumber daya, posisi strategis dan geopolitik yang perlu diarahkan untuk menjawab tantangan global demi keunggulan Indonesia.

Pada era Soekarno, Indonesia dikenal sebagai negara terkuat di bumi bagian selatan serta memiliki efek deterrence yang kuat dari sisi politik dengan anggaran pertahanan mencapai 29% GDP.

Hal ini memungkinkan kebijakan politik, utamanya kebijakan luar negeri terkait dengan harga diri, kehormatan, martabat, juga pertahanan dan keamanan bangsa, mampu didukung kekuatan militer yang sangat mumpuni.

Jauh sebelum Presiden Joko Widodo dan Presiden Soekarno, ternyata negeri ini pernah memiliki tokoh wanita yang bukan saja pemikiran, keberanian, dan wawasannya soal kekuatan militer dan maritim melampaui zamannya.

Di bawah kepemimpinannya yang singkat dan hanya berusia 30 tahun (1549-1579), ia berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaan.

Kemampuan industri dan kekuatan militer yang dibangun di kerajaannya dapat memimpin era industrialisasi maritim Asia Tenggara, serta menjadikannya pelopor aliansi kekuatan negara-negara kawasan untuk menyerang sumber ancaman dan musuh yang besar kala itu, Portugis.

Perempuan pelopor Indonesia sebagai negeri Poros Maritim Dunia dari abad XV ini dikenal begitu gagah berani, hebat, dan digdaya.

Portugis pun memberikan gelar yang sangat menggetarkan kepadanya,

Rainha de Japara, Senhora Paderosa E Rica,

artinya Ratu Jepara Wanita Kaya dan Sangat Berkuasa.

Ia adalah Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono, yang lahir di bulan Ramadan 1514.

Ia merupakan putri dari Kanjeng Sultan Trenggono, Sultan Demak (1504-1546), dengan Roro Purbayan.

Jepara sendiri bermula dari munculnya Kerajaan Kalingga.

Catatan Dinasti Tang tahun 618–906 Masehi menyatakan pada tahun 674 Masehi di Jawa telah berdiri kerajaan yang dipimpin seorang ratu bernama Shima.

Berdirinya Kalinga menurut DGE Hall dalam buku Sejarah Asia Tenggara terkait erat dengan kekacauan politik Kerajaan Asoka di India sehingga banyak pengungsi Asoka bergerak ke arah Asia Tenggara.

Salah satu tempat yang dituju ialah Jepara.

Setelah periode Kerajaan Kalingga, nama Jepara kembali muncul terkait dengan sumber sejarah Portugis dari laporan perjalanan Tome Pires dalam buku Suma Oriental.

Digambarkannya, Jepara pada 1470 ialah sebuah kota pelabuhan yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan.

Pelabuhannya sangat indah dan menghadap ke tiga pulau, yaitu Pulau Bokor, Pulau Kelor, dan Pulau Panjang, yang melindungi Jepara dari amukan angin barat.

Jepara kala itu memiliki andil besar karena pengaruh kekuasaannya.

KEKUATAN EKONOMI & MILITER

–. Pada 1478, Demak memutuskan untuk memisahkan diri dari Kerajaan Majapahit.

Raden Patah diangkat sebagai raja pertama dengan gelar Senopati Jimbunn Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.

Wilayah kekuasan Demak mencapai Kalimantan dan Sumatra yang menjadi daerah yang ditaklukannya.

Akan tetapi, pengaruh Demak tidaklah sehebat pengaruh Jepara.

Hal ini disebabkan Jepara yang dipimpin Ratu Kalinyamat jauh lebih kuat dalam bidang ekonomi dan militer.

Pada 1512, Raden Patah melakukan serangan ke Malaka untuk mengusir Portugis yang telah menguasai Malaka.

Sikap Portugis yang agresif, di mana pada 1511 Gubernur Portugis untuk India Alfonso de Albuquerque telah berhasil menaklukkan Malaka, membuat Raden Patah gusar dan menunjuk Pati Unus memimpin armada untuk mengggempur kekuatan maritim Portugis tersebut.

Menurut Berdnard HM Vlekke dalam Nusantara A History of Indonesia, penyerangan Pati Unus melibatkan armada 100 kapal dan 10.000 prajurit.

Namun, serangan itu mengalami kegagalan.

Kekalahan ini tidak membuat semangat Pati Unus padam.

Setelah menjadi penguasa Demak pada 1521, ia kembali mengerahkan armada perangnya.

Portugis yang telah mengetahui rencana penyerangan ini dari seorang pengkhianat segera mempersipakan puluhan meriam besar di setiap benteng Malaka dan berhasil menggempur armada Pati Unus hingga ia gugur.

Dalam buku Babad Demak Jilid II disebutkan bahwa Ratu Kalinyamat sejak kecil telah dipersiapkan dan dididik Sultan Trenggana dalam beragam bentuk keutamaan bukan saja sebagai putri raja.

Sang ratu juga dididik sebagai ahli keagamaan
(ini menjadi alasan persahabatannya dengan Syekh Siti Djenar)
dan pemerintahan.

Ia menjadi utusan utama Sultan Demak untuk beraliansi dengan Banten pada 1544 sebagaimana ditulis penulis Portugis Fernandez Mendez Pinto dalam rangka mempersiapkan penyerangan armada Demak ke Jawa Timur.

Dalam pertemuan tersebut Ratu Kalinyamat membahas strategi penyerangan serta peralatan perang yang harus dibawa para prajurit Banten dalam armada yang terdiri atas 40 perahu layar dan 30 perahu dayung, dengan 700 prajurit yang mampu dipersiapkannya dalam waktu 15 hari.

Kesemuanya dilakukan Ratu Kalinyamat dengan sempurna dan pada 5 Januari 1546 Ratu Kalinyamat berada dalam iringan armada bersegera menuju Jepara untuk melakukan ekspansi ke Jawa Timur yang dikuasai Kerajaan Hindu.

Sepeninggal suaminya, Pangeran Hadirin, ia dinobatkan menjadi Ratu Jepara, ditandai dengan Candra Sengkala Trus Karya Tataning Bumi pada 10 April 1549.

Ratu Kalinyamat sadar bahwa perang yang terjadi di wilayah sekitarnya akan berpengaruh pada Demak dan Jepara utamanya dalam aspek perdagangan dengan negara-negara seberang lautan, juga keamanan, kedaulatan, dan keutuhan Jepara.

Dalam waktu singkat Bandar Jepara yang sempat surut kesibukannya, menurut Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies, berhasil dikembalikan Ratu Kalinyamat.

Pelabuhan Jepara ramai kembali dikunjungi pedagang-pedagang dari Ambon yang membawa rempah-rempah.

Tercatat juga pedagang Aceh, Malaka, Banten, Demak, Semarang, Tegal, Bali, Makassar, Banjarmasin, Tuban, dan Gresik yang turut meramaikan pelabuhan Jepara.

Hal ini menjadikan pelabuhan Jepara sebagai pelabuhan inti transaksi perdagangan Timur-Barat Nusantara berskala internasional kala itu.

Ratu Kalinyamat memungut cukai bagi setiap kapal yang bertransaksi.

Hasil perdagangan dan cukai tersebut menjadikan Jepara kerajaan yang makmur.

Dengan kekayaannya, Ratu Kalinyamat membangun armada laut yang sangat kuat untuk melindungi kerajaannya yang bercorak maritim sehingga mampu memiliki posisi politik, ekonomi, dan militer yang kuat, juga unggul dalam menjalin hubungan diplomatik yang sangat baik dengan kerajaan-kerajaan maritim Islam lainnya hingga ke kawasan.

Lalu lintas perdagangan yang begitu pesat ini berdampak pada industri galangan kapal dagang dan kapal perang di wilayah Pati, Juana, Lasem, dan Rembang, yang menurut HJ de Graff dan G Th Pigeaud, industri galangan kapal ini kemudian berhasil menjadi industri terbaik dan terbesar di Asia Tenggara.

Hal inilah juga yang menjadikan sumber keberhasilan menghubungkan Jepara ke seberang lautan seperti Johor, Aceh, serta Palembang.

Upaya mengusir musuh dari Selat Malaka

–. Untuk melindungi keamanan armada dagang Jepara, Ratu Kalinyamat memperkuat dan menambah jumlah prajurit perangnya hingga membangun armada maritim yang kuat.

Diikuti pembangunan kekuatan pakta pertahanan dengan kerajaan dan kesultanan Banten, Cirebon, Aceh, Maluku, Malaka, Bangka, Tanjungpura, Lawe, dan Johor.

Upaya pertama Ratu Kalinyamat dalam rangka mengusir Portugis dari Nusantara dilakukan pada 1550–kurang dari setahun setelah suaminya dibunuh.

Dari pertapaan dukanya, sang Ratu yang tetap menjalin komunikasi dengan orang-orang kepercayaannya agar pemerintahan di Jepara tetap berjalan menerima surat permohonan bantuan dari Kesultanan Johor yang sedang terancam oleh Portugis di Malaka.

Dalam suasana berduka, Ratu Kalinyamat mengabulkan permintaan tersebut dan menginstruksikan para panglimanya untuk mengirimkan 40 kapal perang dengan lebih dari 4.000 tentara ke Malaka.

Di sana, armada Jepara bergabung dengan Persekutuan Melayu yang berkekuatan lebih dari 150 kapal
(H J de Graaf, Awal Kebangkitan Mataram, 2001:43).

Dua puluh dua tahun kemudian Sultan Aceh Ali Rayat Syah menyampaikan undangan untuk kembali menyerang Portugis.

Armada Jepara, menurut Diego De Cauto, terdiri atas 300 kapal layar, di antaranya 80 kapal berukuran sangat besar dengan prajurit berjumlah 15.000 orang.

Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki musuh dari arah Selat Malaka.

Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Namun, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis dan 30 kapal Jepara terbakar.

Jepara mulai terdesak, tetapi tetap menolak perundingan damai karena perundingan yang ditawarkan akan terlalu menguntungkan Portugis, antara lain 6 kapal perbekalan Ratu Kalinyamat direbut Portugis.

Meskipun mengalami kekalahan di Malaka, Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang perempuan pemimpin maritim yang gagah berani.

📍 Patut dicatat, sebelum serangan kedua ke Malaka itu, Ratu Kalinyamat sempat mengirimkan pasukan untuk membantu Kerajaan Tanah Hitu di Maluku pada 1565 yang juga diserbu Portugis

(Paramita Rahayu Abdurachman, Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia, 2008:216).

Dalam penyeranganke Malaka yang kedua, 2/3 pasukan Jepara tewas, tetapi pada saat bersamaan pengaruh serta kekuasaan Ratu Kalinyamat dan sikapnya yang tegas diakui Portugis.

Ia wafat di Jepara pada 1579.

(Rn)