NALAR DEMOKRATIS

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –:

NALAR DEMOKRATIS

–. Beberapa masa terakhir kita merasakan semakin menipisnya empati dalam politik nasional terdampak sengitnya kontestasi elektoral.

Intrusi semangat kontestasi tersebut dalam ruang-ruang publik mewujud bukan dalam bentuk kompetisi gagasan-gagasan untuk diperdebatkan, melainkan dalam menggejalanya intoleransi dan sikap-sikap memusuhi perbedaan.

Penyakit ini mulai menggerogoti sendi-sendi kebangsaan kita sehingga jauh lebih sulit untuk menemukan persesuaian gagasan dibandingkan untuk mendapati perseteruan pandangan di antara kelompok-kelompok sosial.

Keengganan untuk menimbang kepentingan yang berbeda menunjukkan sempitnya sudut pandang, tertutup piciknya hasrat dominasi.

Sementara itu, jauh pada 1926, Soekarno telah menulis tentang persatuan sebagai sendi kebangsaan:

“Kemauan, percaya akan ketulusan hati satu sama lain, keinsyafan akan pepatah
‘rukun membikin sentosa’

(itulah sebaik-baiknya jembatan ke arah persatuan).

Cukup kuatnya untuk melangkahi segala perbedaan dan keseganan antara segala pihak-pihak dalam pergerakan kita ini.”

KEINSYAFAN bahwa
‘perdamaian itu membawa kesejahteraan’

-–suatu kalimat yang juga beberapa kali ditegaskan pula oleh Presiden Jokowi bukan dimaksudkan untuk meniadakan persilangan kepentingan.

Dorongan inilah yang kini kita butuhkan agar muncul kehendak baik untuk melampaui perbedaan demi menghasilkan persatuan sebagai modal pembangunan kebangsaan.

Melampaui Perbedaan, Bukan Menguburnya,

Menghargai Keberagaman, Bukan Menggusurnya.

Nalar demokratis tersebut bertolak dari suatu imajinasi empatetik bahwa seluruh pandangan, sejauh tidak destruktif terhadap kebersamaan, berhak untuk diakui.

Meskipun begitu, kontestasi gagasan dalam perdebatan publik, pada akhirnya, akan memberi tempat bagi gagasan yang lebih berterima.

Berlawanan dengan demokrasi, penolakan keberagaman hanya menunjukkan kehendak dominasi.

Sementara dominasi tidak membutuhkan kepercayaan silang, demokrasi melindungi perbedaan dengan keyakinan bahwa itulah jalan menuju kebebasan.

Namun, jaminan perlindungan tersebut menuntut bekerjanya nalar dalam hubungan resiprokal warga negara.

Mengedepankan nalar, keterkaitan antara warga negara yang satu dan yang lain mendorong konsensus lebih dibandingkan memacu konflik.

Bukan karena tiada perbedaan di antara mereka, tetapi karena imajinasi bersama memprioritaskan persatuan sebagai suatu jalan kebangsaan.

Dalam bentuk terbaiknya, politik adalah artikulasi nalar yang menggerakkan imajinasi.

(Rm)