GERAKAN Sholat SUBUH Berjamaah

Oleh: Dhedi Rochaedi Tazak

Busurnews.com, JAKARTA —

GERAKAN SUBUH

–. Beberapa tahun lalu, jauh sebelum hiruk pikuk politik yang membelah, seorang pendakwah menggaungkan gerakan salat subuh berjemaah.

Saya melihatnya di sebuah stasiun televisi di pagi hari.

Ia menekankan gerakan ini akan punya banyak manfaat:

membangkitkan disiplin waktu,
silaturahim umat,
kesehatan rokhani/jasmini,
serta produktivitas ekonomi.

Ia menjelaskan manfaat salat subuh berjemaah bisa menjawab tantangan bangsa yang merosot dalam disiplin waktu, persatuan yang merenggang, meningkatnya aneka penyakit, serta ekonomi umat yang rendah.

Sehabis salat subuh, katanya, mesti dimanfaatkan untuk olahraga sebelum mencari nafkah.

Di pagi hari tenaga dan pikiran masih prima.

Sebuah dakwah yang kontekstual, berupaya mencari solusi problem bangsa yang dimulai dari disiplin waktu salat subuh.

Waktu terberat untuk bangun.

Ia mengungkapkan fakta, betapa banyak muslim Indonesia menyia-nyiakan waktu, termasuk waktu tidur terlalu banyak, kurang olahraga, dan pola makan yang tak sehat.

Bertahun-tahun saya tak melihat ajakan sang pendakwah itu bergema.

Tak banyak pula ustaz yang mengikuti jejaknya.

Inilah ajakan salat subuh berjemaah yang belum bercampur dengan urusan politik elektoral.

Sejak politik elektoral DKI Jakarta, gerakan salat subuh berjemaah memang mulai muncul.

Ada Deklarasi Gerakan Indonesia Salat Subuh (GISS) di area Monumen Nasional, Jakarta, yang dilakukan para aktivis Aksi 212 pada Desember 2017.

Deklarasi ini mengajak anggota keluarga tetangga dan kawan-kawan untuk datang ke masjid di waktu subuh untuk salat subuh berjemaah.

Diharapkan pada 2020 seluruh masjid dan musala di seluruh Indonesia sudah melaksanakan salat subuh berjemaah.

Kini salat subuh berjemaah menggaung di banyak tempat.

Ada yang bermotif politik, ada yang murni ibadah. Wali Kota Malang, Sutiaji, misalnya memulai 40 hari kerjanya dengan salat subuh berjemaah tanpa henti.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, sejak menjabat Wali Kota Bandung, memaknai positif salat subuh berjemaah ini.

Ia juga aktif melakukannya di banyak masjid.

Beberapa kepala daerah juga melaksanakan hal yang sama.

–. Ada yang menyorot GISS terlalu kentara muatan politiknya.

Dalam sebuah diskusi bertema Politisasi GISS, mencederai ajaran Islam yang digelar di Depok tahun lalu, mengingatkan GISS harus dijaga dari politisasi.

Saya mengingatkan ada penceramah yang kerap berlebihan, yang mengarahkan dukungan ke calon atau partai tertentu.

Ini yang bisa mencederai Islam.

Dakwah di masa Nabi Muhammad SAW.

Waktu itu, Nabi dan para sahabat berbicara politik di masjid, tapi mereka tidak menjadikannya ajang kampanye.

Seharusnya akan diteliti lebih jauh terkait GISS ini sebagai subjek yang melakukan politisasi atau menjadi korban politisasi.

­čôž

Saya menilai GISS niatnya baik, tapi kampanye politik praktis menjadikannya bias.

Ia amat menyayangkan.

Jika GISS berhasil meluas ke seluruh Indonesia, akan menguntungkan elite politik tertentu.

“Ini persoalan taktik dan strategi politik para oposan.

GISS akan berdampak masif dan strategis dalam momen Pilpres 2019,”.

Salah satu unsur pendukung capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Alumni 212, sudah berterus terang akan memanfaatkan GISS dalam pemilu.

Presidium Alumni 212 memberikan intruksi kepada para pendukungnya di seluruh Indonesia agar pada 17 April di hari pencoblosan, melakukan salat subuh berjemaah yang didahului salat tahajud;
Dilanjutkan hingga penghitungan suara.

Menurut penggagas gerakan salat subuh berjemaah ini, Forum Umat Islam (FUI), GISS untuk mencegah kecurangan penghitungan surat suara.

Sekjen FUI Al-Khathtathath dalam akun Youtube FUI Channel yang diunggah 20 Maret lalu mengakui hal itu.

Seperti apa kelanjutan GISS pasca-Pemilu 2019 ini jadi menarik.

Bisa jadi akan terus dimanfaatkan untuk kepentingan politik yang lain.

Namun, sebaiknya lebih banyak yang tetap melaksanakan salat subuh berjemaah seperti yang pernah digaungkan pendakwah yang pernah saya lihat di televisi itu.

Tetap dengan niat ibadah yang tulus.

Masjid-masjid yang dipakai GISS mendukung Prabowo-Sandi sangat berpotensi menimbulkan perasaan tak enak bagi para pendukung Joko Widodo-Maruf Amin.

Masjid yang mestinya menyatukan umat pun bisa merenggangkannya.

(Rn)