Kritik Yang Dilontarkan Fahri Hamzah Tentang KARTU PRAKERJA Membuktikan Yang Bersangkutan Masih Memahaminya Secara Dangkal.

Oleh: Dhedi Rochaefi Razak

Busurnews. Com, JAKARTA —

Kritik yang dilontarkan Fahri Hamzah tentang KARTU PRAKERJA membuktikan yang bersangkutan masih memahaminya secara dangkal.

“Dia memahaminya hanya dengan pendekatan duit, duit dan duit.

Cara pandang ini sama dengan para pendukung Parabowo-Sandi pada umumnya.

Padahal, kalau dilihat secara komprehensif, kebijakan Kartu Prakerja ini tidak melulu bicara soal dana semata.

Kebijakan ini menyangkut investasi jangka panjang bangsa ini untuk menciptakan SDM yang memiliki keterampilan, skill, berkualitas dan memiliki daya saing,”.

Saya berkeyakinan dengan kebijakan Kartu Prakerja itu, Presiden menginginkan SDM baik lulusan baru maupun yang ingin beralih profesi memiliki kesiapan dalam memasuki dunia kerja maupun dalam membuka usaha dengan pelatihan yang terstruktur dan sistematis dengan adanya kartu Prakerja.

Soal anggaran dari kebijakan ini dapat dilakukan dengan dua hal.

PERTAMA, skema anggaran negara.

Sebetulnya pendidikan skill dan vokasi ini sudah banyak dilakukan di berbagai Kementerian, terutama Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKMK untuk pendidikan kewirausahaan, dan lain-lain.

“Dengan Kartu Prakerja ini dapat mengintegrasikan dan menyempurnakan program-program yang telah ada.

Soal anggaran, tentu akan kami alokasikan sesuai dengan skala prioritas pemerintahan Jokowi ke depan yang sebelumnya lebih banyak kepada infrastruktur,”.

KEDUA, pemerintah juga akan menggandeng pihak swasta yang membutuhkan tenaga kerja trampil yang siap pakai.

“pemerintah akan melibatkan dunia usaha dan industri dengan mempersiapkan SDM yang dibutuhkan mereka.

Dengan demikian, Kartu Prakerja ini bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga mendorong perekonomian yang lebih mandiri,”

–. Menurut saya, kebijakan Kartu PraKerja ini sangat bisa dilakukan kalau semua pihak memiliki political will disertai politik anggaran yang berorientasi pada pengembangan SDM yang berkualitas.

Selain bahwa pelibatan dunia swasta dan industri menjadi penting dalam rangka mendorong kemitraan antara Pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

“Jadi Bung Fahri Hamzah jangan dulu pesimistis soal kebijakan yang sangat bagus ini.

Kita harus optimistis untuk menciptakan SDM yang berkualitas,”.

(Rn)