Pada KTT COP-24 ini ISU ENERGI

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

 

Busurnews.com, JAKARTA –: Pada KTT COP-24 ini
ISU ENERGI

*menjadi bagian yang melekat di dalam guidence pelaksanaan Paris Agreement*.

–. Pasalnya, sektor energi merupakan salah satu sektor penting terkait isu perubahan iklim.

Selama ini, sektor energi selain menjadi sumber energi dunia, juga penghasil emisi terbesar, khususnya bersumber dari energi fosil, seperti batu bara, minyak dan gas.

Dengan demikian, pengurangan penggunaan energi fosil akan menjadi sektor yang sangat strategis untuk menurunkan emisi GRK, khususnya melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) yang menggantikan energi fosil.

Dalam KTT COP-24, melalui Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjend EBTKE), Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) menyampaikan dukungan penuh pada pembangunan rendah karbon melalui pengembangan EBT.

Potensi EBT di Indonesia sangat besar, namun saat ini baru 2% EBT yang dimanfaatkan.

Disamping itu, target EBT dalam bauran energi nasional, seperti yang tertuang dalam RUEN, cukup besar, yakni sebesar 23% yang akan dicapai pada tahun 2025.

Saat ini, sudah dicapai sekitar 12% atau 50% dari target yang ditetapkan dalam RUEN.

Untuk mencapai target RUEN itu, Pemerintah akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur energi, utamanya EBT, sebagai bagian dari pembangunan rendah karbon.

*KESDM juga menyampaikan bahwa Pemerintah akan terus membangun infrastruktur energi, khusunya listrik dari EBT, untuk pulau-pulau kecil dan terluar, serta daerah pesisir*.

Hal itu merupakan amanat dari Nawacita dan respon terhadap tujuan Sustaianble Development Goals (SDGs) ke-7, terkait penyediaan energi bersih dengan harga yang terjangkau.

Indonesia melalui written statement pada forum COP-24 juga menyampaikan kebijakan nasional terkait pengembangan bioenergi, bioenergy based-power plant, implementasi B-20 dan kajian green diesel
(100% palm oil based),

*sehingga Indonesia yang saat ini menjadi front liner dan leader di sektor biodiesel, kedepan berpotensi menjadi negara bioeconomy terbesar secara global*.

Peran aktif Delegasi RI dalam KTT COP-24 telah memberikan kontribusi, baik dalam memberikan masukan, maupun pengambilan keputusan tertinggi yang termaktub dalam rumusan Deklarasi Katowice.

Dalam Deklarasi Paket Iklim Katowice itu juga dijabarkan panduan untuk mengoperasionalisasikan kerangka transparansi.

Paket tersebut mengatur cara negara menyediakan informasi terkait Nationally Determined Contributions (NDCs) yang menjelaskan aksi-aksi perubahan iklim di setiap negara.

*Informasi ini mencakup aksi mitigasi dan adaptasi sekaligus detil dukungan finansial untuk aksi iklim di negara-negara berkembang*.

Diharapkan, implementasi dari Deklarasi Katowice dapat mencegah naiknya suhu rata-rata bumi hingga dapat diturunkan mencapai sebesar 1,5°C, seperti yang diputuskan dalam KTT COP-21 di Paris.

*Implementasi Deklarasi Katowice juga akan dapat memberikan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, yang tinggal di planet bumi bebas dari efek emisi gas rumah kaca*.

(RN)