KTT PBB tentang Perubahan Iklim ke-24, yang lebih dikenal COP-24, telah ditutup

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

 

Busurnews.com, JAKARTA –: Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang Perubahan Iklim ke-24, yang lebih dikenal COP-24, telah ditutup pada 15 Desember 2018, molor sehari dari waktu ditetapkan.

COP-24 yang berlangsung di Katowice, Polandia, merupakan pertemuan penting dalam menentukan upaya mengatasi perubahan iklim semenjak Paris Agreement yang dihasilkan dalam COP-21 di Paris pada 2015.

Kini COP 24 berhasil merampungkan Paris Agreement Rule Book (PARB) yang dikenal sebagai Katowice Climate Package.

PARB menjadi pedoman implementasi Perjanjian Paris dalam mencegah naiknya suhu rata-rata bumi sebesar maksimal 2°C, bahkan diupayakan untuk mencapai 1,5°C jika dibandingkan dengan kondisi pra industri.

Untuk mencapai target 1,5°C, semua negara peserta COP-21, yang telah meratifikasi Paris Agreement, harus berupaya maksimal untuk memangkas emisi gas rumah kaca (GRK).

Pentingnya KTT COP-24 juga tampak dari kehadiran Sekretaris Jendral PBB
Antonio Guterres,
29 kepala negara dan pemerintahan, sejumlah pejabat setingkat menteri dari berbagai penjuru dunia, serta 4 mantan pemimpin Peru, Fiji, Maroko, dan Prancis.

Adapun Indonesia mengirimkan Delegasi Republik Indonesia meliputi
Menteri Koordinator Kemaritiman
Luhut Binsar Pandjaitan,

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup
Siti Nurbaya Bakar,

Menteri Kelautan dan Perikanan
Susi Pudjiastuti, dan

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Bambang Brodjonegoro,

*serta sejumlah pejabat direktur jenderal dari sejumlah kementerian, juga anggota DPR, pimpinan lembaga swadaya masyarakat, dan pengusaha nasional, ahli, dan pengamat*.

Dalam pidato pembukaan COP-24, Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan kepada para delegasi perunding bahwa kegagalan dalam mengupayakan perubahan iklim, bukan hanya tak bermoral tetapi juga tindakan bunuh diri bagi planet ini.

Sedangkan empat mantan pemimpin
Frank Bainimarama (Fiji),
Salaheddine Mezouar (Maroko),
Laurent Fabius (Prancis) dan
Manuel Pulgar Vidal (Peru)

*menegaskan bahwa pemanasan global merupakan ancaman yang lebih besar bagi umat manusia*.

Mereka mengharapkan KTT Perubahan Iklim COP-24 dapat menghasilan kesepakatan tindakan nyata dalam mencegah pemanasan global, seperti ditetapkan dalam PARB pada COP-21.

KTT COP-24 mengadopsi PARB untuk menjadi pedoman implementasi program kerja dalam mencegah naiknya suhu hingga mencapai 1,5°C.

Untuk mencapai target 1,5°C, semua negara, yang telah meratifikasi Paris Agreement, harus berupaya maksimal untuk memangkas emisi gas rumah kaca (GRK).

Setelah melaksanakan perundingan yang alot di Katowice, Polandia, delegasi negara-negara peserta COP-24 menyepakati program kerja dalam mengimplementasikan Paris Agreement pada Sabtu, 15 December 2018 lalu.

Kesepakatan yang dijuluki Katowice Climate Package atau Paket Iklim Katowice ini menjadi panduan dalam menerapkan Paris Agreement, yang akan membawa manfaat bagi umat manusia, terutama yang paling rentan.

Paket Iklim Katowice diharapkan akan mendorong kerja sama internasional dalam mencapai target yang lebih besar dalam perubahan iklim.

Panduan ini diharapkan juga akan mendorong rasa saling percaya antara negara-negara dunia dalam mengatasi tantangan perubahan iklim.

Semua delgegasi dari berbagai negara telah bekerja tanpa lelah dan menunjukkan komitmen untuk merumuskan dan menyepakati

*Deklarasi Katowice*,

*yang akan menjadi landasan implementasi Paris Agreement*.

(Rn)