Mengubah Seremoni Pelantikan Menjadi Berisi

 

Foto – Lahan Terbuka TPA Supit Urang Kota Malang

 

Busur News Com. MALANG RAYA ,- Sebuah perkembangan menarik yang kelak terjadi di Kota Malang, yakni bahwa pejabat bisa dilantik ditempat alternatif terbuka.

Selain menghemat anggaran, sinergitas esensi jiwa kerakyatan bagi para pejabat publik yang kelak dilantik amat diperlukan.

 

Foto – Para pemulung di lahan terbuka TPA Supit Urang Kota Malang

 

Terkait seremonial pelantikan tersebut mendapat tanggapan dari berbagai pihak, ada yang setuju namun dengan catatan, ada pula yang mengiyakan sebagai proses, dengan harapan kiranya tidak merasa jumawa (jabatan diatas segalanya ),justru amanah bagi para pejabat publik.

Berikut ini adalah tanggapan dan pendapat para narasumber yang dihubungi awak busurnews.com.Sabtu (21/07)

Bsr @ : Menurut anda,
Bagaimana jika para semua calon pemangku jabatan publik dilantik dialam terbuka ,namun bukan tempat wisata (outbond ). Tapi di TPA Supiturang dan sungai Brantas yang punya nilai filosofis ? Jika iya…
Mengapa dan kira-kira implikasi nya apa pada sebuah pengapdian bagi yang terlantik ditempat tersebut ?

Arif Wahyudi.(AW) LPP PKB. Bacaleg Dapil Blimbing.
@ : Saya justru khawatir itu hanya seremonial belaka,hanya sebagai pencitraan semata.
Dilantik di manapun kalau pejabat publik komitmen dan moralnya mumpuni maka perjuangan nya untuk kepentingan rakyat akan menghasilkan hal hal yang positip.
Menurut saya, bukan tempatnya tapi moral dan komitmen itu lebih penting.
Karena ukuran moral itu sulit untuk diketahui sebelum kejadian terjadi , justru ini yang perlu dicari kan solusinya bagaimana agar pejabat publik takut untuk berbuat tidak benar semisal korupsi.
System bagaimana kontrol masyarakat bisa dilakukan terhadap pejabat publik itu harus terbangun.

Bsr@: “Jika terjadi dengan pelantikan seperti itu, bagaimana kesiapan mental para calon pejabat publik ?”

AW @ Apa ada hubungannya dengan mental ?
Mental itu digembleng sebelum mereka menduduki jabatan publik.
Saya kira pejabat publik siap saja, bahkan seneng terutama bagi pejabat publik yang kapasitas nya tidak memadai.

Sementara itu dengan pertanyaan yang sama.Narasumber lain, bacaleg NasDem dari Dapil Kedungkandang, Bambang Guntur Wahyudi (BGW) mengatakan

BGW@ : Tidak ada masalah kalau pelantikan pejabat publik dilantik di tempat publik yang pnya makna simbol kerakyatan yang apa adanya , di mana pun berada hal ini lebih pada niatan membangun image pada rakyat , agar prosesi glamour pelantikan pejabat publik yang menghabiskan dana besar bisa diganti dengan suasana yang lebih sederhana, merakyat dan punya nuansa kesataraan antara pejabat publik dengan suasana kebatinan rakyatnya.

Dengan model prosesi pelantikan ala rakyat akan membuat pejabat publik tersebut
1. Tdk lagi merasa jadi juragannya rakyat tetapi benar benar bisa jadi pelayan dan pengabdi rakyat
2. Secara sosio psycologi , tidak lagi ada sekat yang jauh dari rakyat yang akan dilayaninya
3. Ada perubahan nuansa yang glamour menjadi sederhana, tak menghamburkan uang yang banyak

Asal pejabat publik bkn hanya terjebak pada model dan gaya prosesi pelantikan semata tetapi benar benar harus mampu menangkap dan merasakan filosofinya.

Pejabat publik harus siap kalau memang itu sebuah pilihan terbaik yang dikehendaki rakyat. Karena sebagai pejabat yang duduk atas hasil proses pemilihan langsung oleh rakyat, wajib memahami suasana dan kondisi kebatinan rakyatnya.

tanggapan dari akademisi yang berkecimpung dipertelevisian kampus.Direktur UB TV, Riyanto justru merespon positif.

Riy @ : Sebelum pemilihan, kumpulkan dan ada kesepakatan, biar kompak, saya sepakat lokasi pelantikan di sungai Brantas .Seperti tentara ,mungkin jiwa kebangsaannya kurang. Ajari dia outbond dan latihan dasar militer .
Berakhir dengan latihan tembak.
Usulkan, tak iyakan.

Senada dengan Riyanto,akademisi lainnya,salah satu petinggi dari Politehnik Malang (Polinema) Dedi Kusbianto menjawab dengan lugas.

Dedi@ : Bagus itu !
Pada situasi Kota Malang yang serba carut marut, masyarakat butuh figur calon wakil dan pejabat yang terpercaya .
Dengan kekuatan tersebut mereka punya kesempatan untuk di citrakan sebagai orang-orang baik yang patut dipercaya untuk di pilih.

Terkait hal diatas,KDP (Ketua Dewan Pendiri ) Indonesia Bekerja (INAKER) KRM.Gagoek Kapoet Triana pun turut menanggapi.

KDP@ : _*Usul ora asal lho, substansi harus ada isi..*_
_pelantikan *Walikota* dan *Wawalikota* lebih dahulu di *TPA Supiturang* nanti kita bareng-bareng minta kepada masTjahyo Kumolo Mendagri dan atau siapa yang mewakili nantinya.

Untuk Kepala SKPD juga berlaku sama, ditempat yang sama serta dilakukan segera lelang jabatan yang menyertakan pihak ketiga.
Ini bisa menjadi kebaruan dalam rolling penyegaran birokasi.

Untuk EO nya bisa dari dulur-dulur yang ada rasa kepedulian akan kota Malang. Dengan melibatkan Mas Bambang Irianto Pioneer kampung Glintung dengan Go Green nya.Mas Redy dengan kampung Cempluk nya, Ki Riyanto dengan pertelevisiannya, Mas Galih dengan tulisan pencerahan nya, Mas Muslihk dengan komunikatornya,Mas Choirul Anwar dengan jiwa Spartan nya plus Mbak Eka,Mbak Yuyun, Mbak Shurty Anyuz dan lain-lain sesuai kapasitasnya.

Dan apapun tanggapan diatas terkait pelaksanaan pelantikan pejabat publik. Sudah pernah dilakukan oleh Ir Joko Widodo (Jokowi ) semasa menjadi Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota/DKI Jakarta. Beberapa pejabat Wali Kota diwilayah DKI dilantik di TPA Bantargebang.

Diakhir tanggapannya, KRM Gagoek Kapoet Triana mengatakan

“Jokowi dulu melantik Walikota karena daerah khusus ibukota, maka timbul etos kerja para pemangku kepentingan/birokrat menjadi lebih greget melayani Rakyatnya .
Karena pada dasarnya pemikirannya Walikota, Bupati Gubernur dan Presiden sekalipun dari demokrasi ini, adalah hanya Abdinegara alias Pelayan Rakyat atau kata Ahok *jongos agung* dari Rakyatnya”
(galih)