Haedar Nashir: Gambaran empiris tentang Muhammadiyah dapat diketahui dari perilaku konkret para anggotanya

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.comJAKARTA –: Ketua Umum PP Muhammadiyah,
Haedar Nashir,

*pernah mengatakan gambaran empiris tentang Muhammadiyah dapat diketahui dari perilaku konkret para anggotanya*.

*Tentu, gambaran empiris Muhammadiyah juga bisa diketahui dari sepak terjang para tokoh dan pimpinannya*.

Tokoh Muhammadiyah dari Maumere, Ibu Kota Kabupaten Sikka, NTT. Namanya
Abdul Rasyid Abdul Wahab,
akrab disapa Abah Rasyid.

*Apa saja kerja kemanusiaan yang sudah dilakukan Abah Rasyid*?

Padahal,
*penduduk Maumere dan Kabupaten Sikka mayoritas beragama Katolik*.

GERAKAN PENDIDIKAN

–. Syahdan, pada 1985, Abah Rasyid mulai masuk Muhammadiyah.
Bersama beberapa tokoh Muhammadiyah di Maumere, Abah mengawali perkembangan Muhammadiyah dengan memanfaatkan tanah wakaf.

Saat itu Muhammadiyah baru memiliki satu cabang di Kabupaten Sikka.

Kini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sikka sudah maju.

Sekarang ada lima Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM).

Setiap PCM ada amal usaha.

Ada juga sekolah, dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas.

Abah Rasyid menjadi tokoh penting dalam gerakan pendidikan Muhammadiyah di Maumere.

Suatu ketika Abah bermusyawarah dengan warga Sikka bahwa akan mendirikan sekolah, banyak bapak-bapak di Maumere dalam sehari menghabiskan lebih dari sebungkus rokok.

Saat itu harga rokok satu batang masih Rp1.000.

Ada yang mengaku sehari bisa menghabiskan dua bungkus.

Nah, Abah Rasyid hanya minta satu batang rokok sehari untuk uang sekolah anak-anak mereka.

Abah minta Rp10 ribu.

Dengan pendekatan Abah Rasyid yang lembut, teduh, dan santun, bapak-bapak itu lebih semangat, bahkan berniat menaikkan uang sekolah menjadi Rp20 ribu.

Sebelum sekolah-sekolah Muhammadiyah dibangun, anak-anak belajar meminjam kelas dari sebuah sekolah Katolik di Maumere.

Kini, Muhammadiyah di Kabupaten Sikka memiliki dua sekolah menengah pertama dengan jumlah siswa sekitar 310 siswa, 70% beragama Katolik.

Satu SMA dengan 15% siswanya Katolik.

Muhammadiyah Sikka memiliki satu kampus IKIP Muhammadiyah, 2 SMP, 4 MTS, 1 SMA, dan 1 madrasah aliah.

Di IKIP Muhammadiyah, sekitar 700 lebih mahasiswa, 82% beragama Katolik dan tenaga pengajarnya 50% ialah Katolik.

đŸ“§

SOSIAL KEMANUSIAAN

–. Tahun 1993, Abah Rasyid mendirikan panti asuhan.
Saat itu panti asuhan ditangani Abah Rasyid dan istrinya.

Berdirinya panti asuhan karena ada bencana di pinggir pantai dan di Pulau Babi yang mayoritas muslim.

Saat itu Abah melakukan survei dan mengadvokasi anak-anak yatim dan anak-anak telantar akibat bencana.

Abah menemukan 360 anak korban bencana dan anak-anak yang tidak diperhatikan.

Semula hanya ada tenda penampungan dan dapur umum.

Kemudian, Abah mendirikan panti asuhan.
Saat ini ada sekitar 50 anak di panti asuhan.

Semuanya sekolah.
Ada juga yang sudah tamat sekolah, dan lima anak panti telah menjadi sarjana dan mengajar di sekolah Muhammadiyah.

Sebanyak 15 anak panti asuhan dikirim Abah Rasyid kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kisah kemanusiaan yang lain dari Abah, pada 1981, Abah Rasyid pernah punya pengalaman menjadi Satkorlak bencana alam di Pulau Palu’e, Kabupaten Sikka.

Ketika ada bencana di Pulau Palu’e Abah turun tangan dan melakukan relokasi dan evakuasi, dua bulan lamanya Abah di Pulau Palu’e.

Sebagian besar korban bencana beragama Katolik.

Kemudian, pada 2013, Gunung Rokatenda di Pulau Palu’e meletus lagi.

Abah Rasyid berperan penting dalam menangani korban saat itu.

Abah Rasyid memimpin Tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) beraksi saat meletusnya Gunung Rokatenda, dan beberapa kegiatan kemanusiaan pascameletusnya gunung itu.

Seperti memberikan hiburan kepada para pengungsi oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) maupun Nasyiatul Aisyiyah (NA) setempat.

Demikian juga memberikan bantuan bimbingan pendidikan kepada anak-anak yang mengungsi.

Dalam usianya yang sepuh, Abah Rasyid masih bercita-cita ingin memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Sikka yang tersebar di delapan pulau.

Abah ingin membangun balai pelayanan kesehatan terapung.

Mimpi Abah itu akan segera terwujud.

*Kapal Kemanusiaan itu kini bersiap berlayar memberikan bantuan kesehatan untuk warga di kepulauan*.

Abah Rasyid selain tokoh sepuh Muhammadiyah, saat ini dipercaya menjadi Ketua Dewan Penasihat Majelis Ulama Indoensia (MUI) Kabupaten Sikka.

Sampai sekarang sulit mencari tokoh sepuh muslim yang mengayomi dan moderat seperti Abah Rasyid.

Abah Rasyid lahir di Maumere, 5 April 1937, menjadi tokoh utama dan rujukan pertama bagi masyarakat muslim dan nonmuslim di Maumere, Pulau Flores, dan seluruh Kabupaten Sikka.

Untuk diketahui, hanya 40 ribu penduduk muslim dari sekitar 331 jiwa penduduk di Kabupaten Sikka.

Mari kita sebar pesan solidaritas dari kisah perjuangan Abah Rasyid ini.

Abah Rasyid menorehkan sejarah Maarif Award, ia merupakan satu-satunya yang dianggap layak oleh dewan juri sebagai penerima penghargaan Maarif Award 2018 dari Maarif Institute.

Ya, Abah Rasyid, laksana seperti pesan solidaritas Buya Syafii Maarif.

*Islam itu nilainya universal, rahmatan lil alamin, jangan biarkan hanya mengawang di atas langit dan terjebak turun ke bumi sebab keadilan dan kemanusiaan semestinya dirasakan semua orang, apa pun agama dan sukunya*.

*Islam, keindonesian, dan kemanusiaan itu berada dalam satu tarikan napas*.

HIRUPLAH…

(RF)