REFORMASI POLITIK telah menyediakan ruang kebebasan

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta ‘RUANG KEBEBASAN

REFORMASI POLITIK telah menyediakan ruang kebebasan begitu luas bagi setiap warga negara untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya dan paham keagamaannya secara demonstratif di ruang publik.

Ruang kebebasan ini juga dinikmati kelompok-kelompok keagamaan yang berpandangan sempit.
Bahkan,
Kelompok-kelompok yang sebelum reformasi tiarap dan tak berani muncul ke permukaan tiba-tiba tampil ke tengah-tengah arena dengan penuh percaya diri.

Banyak kelompok keislaman di Indonesia yang berafiliasi kepada kelompok-kelompok di Timur Tengah juga tampil ke permukaan.
Celakanya,
Kelompok-kelompok itu lahir dan berkembang dalam suasana konflik di Timur Tengah sehingga karakter konfliktual itu sedikit banyak juga terbawa ke Indonesia.

 

Suara-suara kelompok kecil ini di arena publik sering kali lebih kuat jika dibandingkan dengan kelompok keislaman mayoritas yang mapan.
Kendati kelompok kecil, mereka sering kali memiliki dukungan pendanaan yang kuat serta strategi ‘PROPAGANDA’ yang lebih terencana dan rapi.

 

MEREKA TURUT MEWARNAI RUANG PUBLIK SOSIAL KITA SELAMA 18 TAHUN REFORMASI INI.

 

Kita sesungguhnya berharap akan ada seleksi alamiah secara cepat terhadap kelompok-kelompok yang berpandangan sempit itu.
Kita berharap bahwa kelompok-kelompok yang menebar pandangan intoleran itu tak memperoleh pengikut atau bahkan ditinggal pengikutnya sehingga dengan sendirinya bubar.

NAMUN, APA YANG KEMUDIAN TERJADI?

 

Kemunculan mereka di ruang publik dalam waktu lama dan dengan jargon yang menarik massa membuat mereka semakin memiliki pengikut.
Pengaruh mereka di ruang publik dengan penguasaan media secara baik membuat mereka mampu bertahan.

Pengaruh mereka jauh melampaui kapasitas kelompok itu sesungguhnya.

Bahkan,
Yang lucu, kelompok-kelompok ini di Timur Tengah negeri asalnya ‘tak laku’ tetapi justru memperoleh massa yang besar di Indonesia.

Kuatnya propaganda kelompok-kelompok kecil intoleran ini juga kebetulan sejalan dengan perkembangan di grassroot muslim di Tanah Air.
Institusi-institusi pendidikan yang tidak memiliki komitmen kuat terhadap toleransi menjamur sedemikian rupa.
Tak hanya mulai SD, tetapi juga mulai taman kanak-kanak bahkan perguruan tinggi.

Kelompok-kelompok kegiatan keislaman siswa SMP, SMA, dan mahasiswa yang kurang menghargai keragaman juga semakin kuat.
Implikasinya,
Sebuah penelitian menunjukkan, ada kecenderungan siswa-siswa SD di Tanah Air semakin sulit untuk bergaul dengan teman-teman mereka yang berbeda agama.

Apalagi, di kalangan anak-anak SMA atau mahasiswa yang aktif di sebagian kelompok-kelompok keislaman yang berpandangan sempit.

Diam-diam,
Pandangan bahwa orang yang berbeda agama ialah musuh mereka itu semakin menguat saja di kalangan siswa-siswa kita.
Ini tentu sangat berbahaya bagi masyarakat dan bangsa kita yang berdiri di atas fondasi keragaman.

 

MULAI DARI MANA

LALU,
SOLUSINYA APA DAN DIMULAI DARI MANA TERHADAP GROWING INTOLERANCE INI?

Tak ada sarana ‘keras’ yang bisa membendung penyebaran pandangan intoleran di Tanah Air saat ini.
Negara yang demokratis menjamin kebebasan berpikir, berpendapat, dan mengekspresikan keyakinan warganya tanpa terkecuali.

Dengan demikian, kelompok-kelompok intoleran dan bahkan antidemokrasi itu pun berhak untuk memanfaatkan ruang publik yang dihasilkan dari proses demokratisasi ini.

Satu-satunya cara yang tersedia ialah penyadaran, yakni membangun kesadaran masyarakat kita dan pengambil kebijakan akan pentingnya sikap toleransi ini dan mendorong mereka untuk menebarkan gagasan ini.

Bahkan, kita bisa mengampanyekan gagasan bahwa toleransi saja tidaklah cukup sebab toleransi itu pasif.
Sikap yang mesti dikembangkan ialah kebersamaan aktif dan produktif lintas iman untuk membangun masyarakat dan bangsa ini.

DARI MANA ITU BISA DIMULAI?

Jawabannya jelas,
KESADARAN DIMULAI DARI PENDIDIKAN.

 

TOLERANSI harus menjadi jiwa kurikulum dan cara pandang para pelaksana pendidikan, terutama guru.

TOLERANSI tak hanya harus menjiwai seluruh mata pelajaran seperti Kewarganegaraan, Pendidikan Agama, dan pelajaran semacamnya, tapi juga menjadi cara pandang yang benar-benar diyakini para pelaksana pendidikan.

Hal terakhir ini belum memperoleh proporsi yang memadai saat ini.

Jika guru memiliki komitmen kuat akan pentingnya kebersamaan dalam keragaman, ia pun akan benar-benar berupaya mencari strategi efektif untuk menanamkan pandangan itu kepada para anak didiknya.

Namun, jika guru gamang dengan prinsip ini, ia pun tak akan sungguh-sungguh dalam upaya ini, bahkan mungkin melakukannya hanya sebagai formalitas belaka.

Contohnya, pengalaman penulis sendiri, berupaya keras untuk mencari cara agar para mahasiswa penulis yang seluruhnya muslim dapat memiliki benih-benih kebersamaan dengan saudara-saudara yang berbeda agama.

Setelah upaya panjang dengan berbagai cara, penulis menemukan cara yang begitu membantu upaya ini, yakni silaturahim lintas iman.

SILATURAHIM adalah upaya perjumpaan langsung yang ‘santai’ dan tanpa tendensi apa-apa kecuali untuk menyambung persaudaraan dari hati terdalam.

SILATURAHIM tidak berpretensi membandingkan atau mencari mana yang benar dan yang salah.

Pengalaman selama beberapa tahun mengajak para mahasiswa muslim bersilaturahmi ke kawan-kawan kristiani, Katolik, Hindu, dan Buddha ternyata membawa manfaat yang luar biasa bagi perubahan cara pandang mereka terhadap umat beragama lain.

Kendati itu hanya pengalaman kecil, tapi cukup membantu dalam mengikis berbagai prasangka yang menjadi persoalan penting dalam hubungan antaragama selama ini.

Namun,
Persoalannya Bagaimana dengan guru-guru dalam pendidikan informal, seperti halaqah, dawrah, pesantren tertentu, atau pengajian tertentu?

Padahal, mereka biasanya sudah memiliki pandangan yang sudah ‘jadi’, ada kecenderungan kurang toleran, dan pengaruh mereka begitu besar terhadap pengikutnya.

Ini tentu bukan perkara mudah dilakukan dalam jangka pendek.

Perlu upaya luas dan terus menerus serta sangat kreatif agar cara pandang toleransi ini benar-benar menjadi keyakinan bersama masyarakat kita, termasuk di kalangan DAWRAH dan HALAQAH itu.

Wallahualam.

(Rn)