REFLEKSI 72 Tahun INDONESIA MERDEKA

 

Oleh : Sandri Rumanama

Tak asing lagi kita dengar dan dengung kata yang begitu familiar di telinga kita, “merdeka” begitulah pekikannya tak asing lagi bagi lidah & telinga, sadarkah kita kalau kita sudah memahami secara nalar dan rasa apa itu kata “merdeka” yang familiar ini ?.

Tentu kita pahami walau kita tak mengertinya, ia merdeka begitulah kata yang hampir setiap waktu kita dengar bahkan kita ucap, tentu kita mengertinya namun kita tak merasakannya ia kata “merdeka” yang sangat kita harapkan secara pribadi, kelompok dan bersama sama.

*MARI KITA BAHAS BERSAMA APA ITU MERDEKA*

Kemerdekaan atau merdeka adalah (kata benda) di saat suatu negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. (kata benda) di saat seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi. Begitulah arti kata merdeka secara bahasa. Saya akan coba menganalogikan lagi tentang kata benda ini “merdeka” jika dalam kaidah bahasa benda berarti wujud atau sesuatu yang bisa di rasakan secara fisik, sadar, & rasa. Pengertian kata merdeka diatas menunjukan bahwa benda ini milik atau wajib dimiliki dari setiap individu, jika demikian apakah kita secara sadar & rasa sudah memeliki benda yang di sebut merdeka ?.
Mari kita jawab bersama pertanyaan ini.

Jika kebebasan untuk hidup di batasi berarti belum merdeka, jika kebebasan untuk berkumpul, berserikat & berpendapat di batasi berarti belum merdeka, jika kebebasan untuk berbicara, berekspresi serta berkarya di tekan berarti belum merdeka. Apakah dari pernyataan di atas masih adakah kita rasakan & kita temui di bangsa ini ?, jika ada berarti kita belum sepenuhnya merdeka.

72 tahun negara ini merdeka apakah, kita sudah sepenuhnya mendapatkan benda itu ? ini bukan hanya kita jawab harusnya kita sikapi bersama pula. Ormas di bubarin berarti belum “merdeka”, orang mengeritik sebagai wujud dari benda yang namanya merdeka di penjara berarti belum merdeka, yang tak berdaya juga di zalimi berarti belum merdeka. Saya jadi teringat pesan dari *Syekh Abdul Aziz*”Jika Sautu Kerajaan Bersekutu Untuk Membuat Hukum Demi Kekuasaan Sang Penguasa Berarti Rakyatnya Belum Merdeka Namun Sekutu Penguasalah Yang Merdeka”, Berdasarkan pesan dari jendral perang umat ini terjadi tidak di negara ini ?, jika pesan ini masih kita rasakan, maka rakyat di negara ini belum merdeka, ayo kita sikapi berdasarkan fakta & realita jika semua praktek ini terjadi maka sudah saatnya rakyat di negara in meminta hak miliknya dari benda yang namanya merdeka.

72 tahun kita mendapatkan benda emas yang di impikan semua orang di dunia ini sudah kita rasakan harga dari benda emas ini secara bersama & kita nikmat secara pribadi ?, sungguh sangat di sayangkan benda itu hilang tanpa kita rasakan *Kata Mhatma Gandhi* “Jika Merdeka Hanya Sebatas Kata Tanpa Isi Yang Bermakna Maka Sudah Tentu Rakyatlah Yang Menderita Atas Kemerdekaan Itu”, benar pesan pahlawan dari negeri india, 72 tahun kemerdekaan kita hampir tanpa isi yang bermakna & hanya sebatas kata kata belaka, yang misksin di miskinkan, pengeman disuruh maling, sarjana jadi preman, jika polisi sudah jadi penjahat, prasiden itu sebatas pesanan politik, maka hancurlah sudah tatanan dari wajah bangsa ini, ngeri jika carut marut negara ini terus demikian di poles demi citra bukan demi cita, maka tunggulah saatnya negara ini akan menjadi bubur tanpa rasa. 350 tahun penjajah bercokol di negara ini hampir semua orang sudah frustasi untuk berjuang demi kemerdekaan namun nyata penjajah minggir juga, apalagi negara kita yang baru berusia 72 tahun masih terbuka kemungkinan NKRI ini bisa bubar, jika semua sistem ini tak di rubah oleh sang penguasa.

“Ayo Bangkit Wahai Kaum Tertindas Bangkit Bersuara, Bangkit Berkata Kata, Bangkit Bergerak Rebutlah Hak Kita Agar Benda Itu Kita Bisa Merasakannya”

*Sandri Rumanama*
(Aktivis Sosial Politik/GmnI)