PAN harus kesatria untuk memilih berada di luar atau di dalam pemerintahan”.-

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta -SIKAP Partai Amanat Nasional (PAN) yang memutuskan walk out dalam voting dari sidang paripurna pengambilan keputusan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu di Gedung DPR, Kamis (20/7) malam, mengundang tanda tanya.

Pasalnya,
*Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan ketika menemui Presiden Joko Widodo, di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (18/7), MEMASTIKAN TETAP SETIA DALAM BARISAN KOALISI PEMERINTAHAN*.

“Untuk PAN supaya diketahui bahwa sehari sebelumnya (Zulkifli) sudah bertemu dengan saya, menyampaikan kepada saya mendukung pemerintah,”
ujar Presiden saat menghadiri Mukernas PPP di Hotel Mercure, Jakarta.

Namun,
*Ketika ditanya apa sikapnya terkait langkah PAN dalam rapat paripurna, Jokowi tidak menjawab tegas*.

“Kita kan baik-baik saja.
Kan sudah saya sampaikan, sehari sebelumnya kita sudah bertemu dan akan solid di partai pendukung pemerintah,”
pungkasnya.

Sejumlah partai politik menyerahkan kepada Presiden untuk menilai sikap PAN tersebut.
Bahkan PAN sendiri mempersilakan Presiden untuk menilai sikap partai itu.

*PAN kerap kali tak hadir dalam forum konsolidasi antar fraksi pendukung pemerintah di DPR*.

Untuk itu,
*Seharusnya PAN menentukan sikap, apakah tetap berada di koalisi partai pendukung pemerintah atau keluar dari koalisi*.

“PAN harus kesatria untuk memilih berada di luar atau di dalam pemerintahan”.-

“PAN cenderung mirip sebagai partai penyeimbang jika dibanding partai pendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla”.-

“Kami tetap menghargai pilihan politik PAN yang dari waktu ke waktu semakin mirip sebagai ‘PARTAI PENYEIMBANG’.

Pada posisi demikian,
*Mungkin PAN merasa lebih diuntungkan dalam kalkulasi politik jangka panjang*”.-

(Rn)