Kategori
Artikel Islam

17 ramadhan atau tanggal 9 Mei 2020 adalah hari ayyamul maghfirah (hari-hari turunnya ampunan Allah

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, nanggroe ACEH darussalam –17 ramadhan atau tanggal 9 Mei 2020 adalah hari ayyamul maghfirah (hari-hari turunnya ampunan Allah pada periode 10 hari kedua Ramadan) dan Nuzulul Quran (turunnya Al-Qur’an) menjadi momen penting.

Berkat rahmat Allah, Alhamdulillah, kita semua masih istiqomah menjalankan ritual Ibadah Ramadan, di hari bersejarah Nuzulul Qur’an dalam situasi yang tidak normal karena puasa kali ini berjalan di tengah “perang” menghadapi pandemi Covid-19 di seluruh dunia.
Covid-19 di tengah Ramadan adalah ujian untuk kita semua.
Karena itu di periode 10 hari kedua yang disebut ayyamul maghfirah, momentum yang tepat untuk kita mendekatkan diri kepada Allah.
Memohon ampunan atas semua dosa dan juga momen mengetuk pintu langit meminta pertolongan Allah agar kita semua diberikan kekuatan melawan pandemi Corona.

Peristiwa Nuzulul Quran pada 17 Ramadan menjadi pedoman hidup umat Islam.
Momen ini juga bisa dijadikan momentum perjuangan melawan Covid-19.

“Al-Qur’an turun secara bertahap yang ditandai dengan penerimaan wahyu, berupa Surah Al-A’laq ayat 1 hingga 5, di Gua Hira.
Peristiwa ini terjadi pada 10 hari kedua, tepatnya 17 Ramadan.
Turunnya Al-Qur’an ini sesuai dengan Surah Al-Anfal ayat 1,
wamaa anzalna ‘alaa ‘abdina yaumal furqoni yaumal talqal jam’aan,
yang berarti

“apa yang Kami turunkan kepada hamba kami (Nabi Muhammad) di hari Al- Furqan (Al-Qur’an) yaitu pada hari bertemunya dua pasukan”.

Maksud ayat ini adalah Perang Badar antara Umat Islam dan Kafir Quraisy bertepatan dengan waktu turunnya Al-Qur’an.
“Mudah-mudahan [Ramadan] ini akan memberikan suasana yang mencerahkan.

Pertama, Covid-19 juga segera berlalu dengan izin Allah, dengan banyak kita memohon ampun, dan kedua, saat-saat yang baik ini, saat-saat kita harus di rumah, kita manfaatkan dengan banyak berdoa, ber-istighfar dan membaca Quran,”.

Masyarakat seharusnya memaksimalkan Ramadan yang disebut syahr ash-shobri (bulan kesabaran) sebagai sarana melatih kesabaran menghadapi Covid-19.

“Puasa mengajarkan kita untuk bersabar, makanya disebutkan as shaumun nisfus shabri (puasa itu setengah dari pada kesabaran).
Sabar untuk tidak makan minum, sabar untuk tidak berkata bohong (hoax), tidak mengadu domba,”.

Dalam keadaan seperti sekarang ini perilaku serta sifat sabar sangat penting diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada suatu yang sekarang diminta kepada kita supaya tidak keluar rumah, supaya kita menjaga jarak, supaya kita menjaga kebersihan, supaya tidak terjadi penularan virus.
Ujian puasa sekarang kita dilatih untuk bersabar menghadapi Covid-19.
Menjalan ibadah tarawih, Insya Allah pahalanya berlipat ganda karena ujian kesabarannya pun berlipat.

Agar momen Ramadan kali ini dapat dijadikan pengingat dan peningkat kesabaran serta keikhlasan seluruh umat Islam untuk menjaga diri dan menghindari bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sehingga puasa yang dikerjakan tidak hanya membawa manfaat bagi seorang individu, namun juga bagi orang lain di sekitarnya.
Kita juga berharap agar puasa kali ini dapat memiliki nilai tambah dari puasa-puasa sebelumnya.
Saya juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus membantu pemerintah dalam memutus tali rantai penyebaran virus Covid-19.

Kita berharap puasa kali ini memberikan pengaruh besar di dalam kehidupan, terutama dalam menjaga penyebaran Covid-19 yang sangat berbahaya dan merusak kesehatan masyarakat. Kita jadikan Ramadan dan peristiwa Nuzul Qur’an sebagai pijakan dalam berjuang menghadapi Covid.

Semoga ibadah dan munajat kita membantu mempercepat proses melawan Covid-19 dengan cepat.

Ikhtiar dan doa menjadi kekuatan kita saat ini.

@drr