Indonesia Sudah Berulang Kali Mengalami Turbulensi Nasional Dan Mampu Melewatinya Dengan Baik.

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —

INDONESIA

sudah berulang kali mengalami Turbulensi Nasional dan mampu melewatinya dengan baik.

Pun demikian dengan Pemilu, Indonesia juga beberapa kali sukses melakukannya.

Prestasi itu harus tetap dijaga oleh Bangsa Indonesia.

“Jadi, tolonglah, apa yang telah kita raih selama ini jangan dirusak.

Siapapun yang menang, itu adalah putra Indonesia, putra bangsa, kalah menang itu biasa saja.

Kebetulan, dan dimanapun kursi Presiden hanya satu,”.

Kontestasi elektoral yang dalam hitungan jam akan berlangsung, merupakan bentuk kerjasama bangsa untuk mencari pemimpin yang baik.

Bukan sebagai ajang permusuhan yang akhirnya mengganggu pemerintahan.

“Jadi, siapapun yang menang, jangan mengexclude orang yang kalah, dan yang kalah jangan kemudian memusuhi yang menang.

Oposisi boleh, tapi oposisi yang konstruktif yang rasional. Jangan kemudian mengganggu pemerintahan,”

–. Kandidat yang esok terpilih sebagai Presiden, bukan merupakan momen kemenangan untuk kedua kandidat.

Pasalnya kemenangan itu sejatinya ialah milik rakyat.

“Kemenangan itu bukan untuk Prabowo atau Jokowi, yang menang itu harus rakyat.

Ukurannya Apa?

Kedepan makin baik dan sejahtera,”.

–. Menyoroti persoalan yang acap kali datang di masa tenang dalam Pemilu.

Masyarakat yang memilih peserta Pemilu hanya dikarenakan uang dan kebendaan merupakan tanda kegagalan demokrasi.

“Tapi kalau masyarakat mensukseskan demokrasi ini tanpa ada motivasi selain ingin membangun demokrasi itu sendiri, maka itulah bangsa yang bermartabat dan berbudaya,”.

Demokrasi bukan sebuah tujuan melainkan sarana untuk membangun bangsa dan negara.

Oleh karenanya, sarana itu harus dimanfaatkan dengan baik oleh warga Indonesia.

Kesantunan dan keberadaban dalam berdemokrasi masyarakat Indonesia, diyakini akan tetap terjaga.

“Saya yakin bangsa Indonesia ini berbudaya, berakhlak, tidak akan seperti Timteng saya yakin itu.
Maka kita jaga itu,”.

–. Menjelang hari pemilihan umum memang tingkat kerawanan meningkat, namun hal itu masih berada di level yang dapat di tolelir.

Hal yang menjadi kekhawatiran, ialah masa setelah pemilihan berlangsung.

Salah satunya ialah adanya gejolak massa karena tidak bisa menerima hasil Pemilu.

Oleh karenanya perlu dilakukannya upaya agar masyarakat mampu menerima apapun hasilnya.

“Rekonsiliasi dan konsolidasi perlu dilakukan untuk menerima hasil pemilu sebagai realitas politik.

Siapapun yang Terpilih, dialah Pemimpin kita.

Indonesia jadi model negara lain, karena tidak ada yang melaikan pemilu serentak seperti kita,”.

Lebih jauh, terkait dengan munculnya wacana menggerakkan massa dalam Pemilu saya berpendapat:

“Pemilu itu people power, tapi people power yang ikuti aturan.

People power itu kan massa, pemilu itu mobilisasi massa, tapi massa yang mengikuti aturan, bukan yang anti aturan, itu tidak benar,”

(Rn)